Wisata Indonesia

Diberi Makan Singkong dengan Ikan Bakar Di Papua, Pergilah Ke Sana Biar Tahu Baiknya Mereka

Suatu kali saya berkesempatan pergi ke Papua, saya tidak bisa kasih detail lokasi karena terkait pekerjaan masa lalu dan saya dikasih makan singkong dengan ikan bakar yang rasanya yummyyyy. Makanan khas yang pernah dinikmati di Papua.

Setelah perjalanan yang melelahkan dari Cianjur, Jakarta, transit di Makassar, akhirnya sampai juga ke Tanah Papua. Karena harus memasuki kampung yang jauh dari pusat kota, saya tentu harus menginap di rumah warga. Atas bantuan bapak sopir dan bapak desa (kepala desa), saya ditunjukkan sebuah rumah untuk menginap.

Rumah berdinding bata dan  beratap seng itu nyaman sekali seperti rumah orang tua saya di Medan. Nyamuknya juga persis sama banyaknya. Syukurnya, saya sudah menyiapkan antinyamuk dari Jakarta. Dibeli dari tanah jawa, karena takut tak bisa dibeli di Papua, ternyata warung-warung juga jual anti nyamuk. Bodohnya saya.

Makan Singkong dan Ikan Bakar yang Enak di Papua, Enak Sekali…

Hari pertama menginap, saya diajak makan. Bapak yang punya rumah menyapa dengan ramah. “Bapak mau makan apa? Jangan sampai kita kasih ayam bapak tidak makan?” tanya ramah. Saya pikir tadinya karena kondisi darurat tak apalah makan ayam juga. Pemilik rumah rupanya punya pengalaman ayamnya ditolak dan tidak dimakan tamunya yang beragama Islam. Penolakan secara halus katanya.

Baiklah daripada membuat repot yang punya rumah saya pun bilang bisa makan apa saja dan bukan hewan yang dipotong lehernya. “Bapak kasih makan saya apa saja, yang penting bukan hewan disembelih kepalanya,” tuan rumah mengerti maksud saya.

Saya pun disediakan makanan ikan. Kebetulan pantai tidak jauh dari rumah itu, ada nelayan yang biasa tangkap ikan dan menjualnya ke warga sekitar.

Makan ikan tidak sekali saja rupanya. Keesokan harinya, tuan rumah kedatangan tamu dari jauh katanya. Seorang bapak yang pernah kuliah di UGM. Universitas kebanggaan di Yogyakarta rupanya meninggalkan kenangan dari tamu sang tuan rumah. Saya dengan cepat menjadi akrab dan mengobrol sambil tertawa.

Tidak lama mengobrol, ikan satu ikat dikeluarkan. Ikannya banyak sekali. Lalu dibakar dengan kayu dan alat panggangan di depan rumah. “Ini ikan enak sekali bapak, baru beli dari nelayan,” saya pun manggut-manggut melihat mereka bakar ikan.

Setelah ikan masak dengan sempurna di pembakaran, saya pun dikasih ikan yang besar. Satu kepalan tangan badan ikan itu. Tidak lama dikasih juga singkong. Saya kira dikasih cemilan dulu, barulah makan ikan. Tak tahunya itu singkong dimakan bersamaan dengan ikan. Seperti makahan khas papua setempat.

Takjub saya merasakan enaknya singkong dimakan dengan ikan. “Enak bapak, tambah saja ikan, itu masih banyak bisa dibakar lagi,” saya menggut-manggut tanda setuju.

Makan Pinang Di Papua, Cobalah Agar Lebih Akrab dengan Mereka

Anak tuan rumah pun ikut makan. Semua bersantap makan khas Papua sambil bercerita dan tertawa-tawa. Tidak lupa sambil merokok dan makan pinang. Rokok dan pinang dapat dikatakan dua benda yang merekatkan tamu dan tuan rumah. Saya juga menyiapkan rokok dan pinang saat datang ke rumah itu.

Anak pemilik rumah mengajak saya makan pinang. Saya pun ambil pinang dimakan dengan kapur. Rasanya sedikit manis dan kecut. Saya yang langsung mengeluarkan air liur membuat mereka tertawa. “Maaf bapak, saya tidak biasa makan pinang,” mereka malah tambah tertawa.

Penerimaan saya diajak makan pinang berhasil mendekatkan diri ke tuan rumah. Mereka suka mengajak saya mengobrol dan banyak informasi terkait pekerjaan sambil merokok dan makan pinang.

Betapa ramah mereka kepada saya selama seminggu di sana. Saya justru heran kenapa ada orang yang maki orang Papua dengan sebutan binatang. Mereka punya hati yang baik dan sangat menghargai pendatang. Cobalah datang ke Papua agar tahu betapa ramahnya mereka.

Perjalanan ke Papua pasti saya  ingat lekat-lekat di kepala. Saya selalu teringat kebaikan bapak yang punya rumah tempat saya menginap dan anaknya yang sudah kasih saya makan pinang. Hargailah oran Papua. Jangan sebut mereka dengan perkataan yang tak pantas.

Kalau kau merasa rakyat Indonesia, maka Papua juga Indonesia. Kalau kau berani katakan mereka binatang, saya juga ikut menjadi binatang, karena mereka itu saudara saya, Anda, dan kamu. Jangan rasis sesama warga Indonesia.

Ditulis oleh Phadli

Baca juga: Mari Berlibur ke Tempat Wisata Danau Toba Sini Saja!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *