Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Uncategorized

Kematian Demi Kematian Sopir Taksi Online, Amankah Menaiki GoCar dan GrabCar?

Lagi dan lagi, kasus perampokan mengakibatkan kematian sopir taksi online terjadi menimpa seorang pengemudi dari GrabCar. Usianya tak lagi muda, 68 tahun. Usai menjemput dan mengantar penumpang, sang sopir tidak bisa dikontak lagi.

Hingga, ditemukan telah menjadi mayat di Sungai Cirarap, Kelurahan Kuta Baru, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Ditemukan luka lebam dan sayatan di tubuhnya. Kakinya pun dalam kondisi terikat.

Kejadian ini bukan pertama kali di Tangerang. Sudah ke empat kalinya. Ada banyak kasus kekerasan berakhir kematian sopir taksi online di daerah lain. Melihat korban yang terus berjatuhan dari jasa transportasi online, sepertinya perusahaan harus berbenah menangani masalah keselamatan para pengemudi.

Perusahaan jasa transportasi harus melindungi mitra mereka. Grab dan GoJek harus meyakinkan semua pihak kalau kejadian kematian sopir taksi online bisa diminimalisir. Tanpa opsi memberikan sistem keamanan yang maksimal kepada para mitra, maka akan terus terjadi kejahatan yang berujung kematian.

Kematian Sopir Taksi Online dan Darurat Keamanan dari Perusahaan Jasa Transportasi Grab/ Gojek

Meski, ada klaim dari perusahaan Grab bahwa mereka sudah memiliki fitur untuk keselamatan driver, juga ada tombol darurat dan layanan respons darurat 24 jam.

Nyatanya kejahatan terhadap para sopir terus saja terjadi. Pihak kepolisian pun meminta dilakukan pembenahan terhadap keamanan jasa transportasi online. Kalau tidak, pembunuhan pasti terus terjadi. Diulangi lagi. Para penjahat tak pernah kapok, padahal berulang kali kasusnya berhasil diungkap polisi.

Polisi memberi dua saran, pertama, memasang jaring pengaman antara sopir yang duduk dibagian depan dan penumpang di bagian belakang. Sehingga mengurangi risiko kejadian perampokan kembali.

Kedua, di dalam mobil dipasang CCTV, sehingga semua gerak-gerak sopir maupun penumpang dapat dipantau dan direkam. Apabila terjadi tindak kejahatan polisi dapat lebih mudah mengungkap kasusnya. Selain itu, penumpang yang memiliki niat merampok mungkin mengurungkan niatnya, karena mengetahui di dalam mobil memiliki alat perekam video.

Mau tidak mau, perusahaan Grab dan Gojek harus dituntut untuk meningkatkan keamanan kendaraan, agar sopir maupun dan penumpang merasa lebih aman menaikinya.

Meningkatkan Keamanan dan Perlindungan Terhadap Para Sopir yang Disebut Sebagai Mitra Perusahaan

Perusahaan jangan mengambil keuntungan saja dari bisnis mereka, tanpa memperhatikan keselamatan mitranya. Katanya mitra, tetapi keselamatan tidak terjamin. Itu sama saja memperkerjakan manusia tanpa jaminan keamanan.

Para sopir yang berkerja hingga malam hari terbuktik memiliki risiko yang tinggi menjadi korban kejahatan. Ditusuk, dicekik, akhirnya meninggal, dan dibuang begitu saja. Sementera, perusahaan terus menggerus keuntungan. Ketika terjadi kasus kematian sopir taksi online, perusahaan cuma manaruh rasa prihatin, tanpa langkah konkrit untuk melindungi para sopir secara maksimal.

Kalau dipikir-pikir saran polisi tak ada salahnya diterapkan oleh perusahaan Grab dan Gojek. Pemasangan Jaring pembatas antara sopir dan penumpang harus dipasang sebagai syarat kemitraan. Kalau perlu Kamera CCTV juga dijadikan aturan wajib bagi semua pengemudi. Bukankah keselamatan sangat penting bagi para pengemudi maupun penumpang.

Jangan sampai kematian demi kematian sopir taksi online terus terjadi. Tetapi, pihak perusahaan tidak berbuat maksimal demi keamanan para sopir maupun penumpangnya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close