Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Uncategorized

Cuma Main Terus ya di Sekolah Alam, Eh Kata siapa Tetapi Ada Benarnya Juga

Pertanyaan itu sering terlontar ketika ada orang yang mengetahui anak saya menempuh pendidikan di Sekolah Alam, “Di Sekolah Alam itu main melulu ya? Kapan belajarnya?” Saya sering nyengir mendengarnya sambil mikir emang iya sih main mulu. Tetapi tidak tahu kan beban pelajarannya juga sangat banyak.

Paling tidak, saya merasa waktu zaman sekolah dasar dulu tidak seberat itu. Dulu, anak SD kelas 2 paling pulang jam 11. Lah, anak sekolah alam kan pulangnya jam 2 lebih. Kadang hampir jam 3, gara-gara anaknya enggak mau pulang. Mau tetap main di sekolah.

Kalau pertanyaannya apakah anak sekolah alam cuma main melulu, saya pikir memang ada benarnya. Saya melihat sendiri kok dunia anak saya adalah dunia bermain. Mau itu di sekolah atau di rumah. Tetapi bukan berarti dia kurang dalam pelajaran sekolahnya. Intinya, anggap aja belajar sambil bermaian atau bermain sambil belajar.

Sekolah Alam itu Sekolah yang Membebaskan Bukan Cuma Main Belaka

Menurut Saya, anak-anak sekolah alam kelihatan seperti main melulu itu karena di sana mereka diberi kebebasan dalam berekspresi. Tidak cuma itu, mereka juga bereksperimen dan mengeksplorasi. Nah, semua itu didapatkan di lingkungan sekolah.

Mereka belajar di kelas dengan ruang terbuka. Di belakang kelas sawah terbentang luas dan ada aliran sungai pula. Kalau waktu istirahat tidak heran lagi, anak-anak sekolah alam akan mengekspresikan dunia bermain, dan mengeksplorasi lingkungan sekitar sekolah.

Enggak jarang belut, kodok, dan kepiting jadi bahan ekperimen juga. Wong dengan mudah dicari di sekitar sawah di belakang sekolah.

Jadi bisa dikatakan, sekolah adalah halaman bermain anak-anak sekaligus tempat belajar. Anak dibebaskan menjadi dirinya sendiri, mengembangkan potensi, dan menemukan bakat mereka.

Secara akademik tentu saja berbeda, mereka mendapat tiga model sistem pembelajara, sekolah umum, madrasah, dan sekolah alam. Dari tiga model itu saja sudah dapat dilihat kalau beban belajarnya termasuk banyak.

Istimewanya model pembelajaran sekolah alam itu tidak mengejar nilai dan rangking. Tetapi menumbuhkan tradisi ilmiah dalam proses pembelajarannya. Anak-anak Sekolah Alam Indonesia Sukabumi melakukan penelitian setiap kelas dan saat kelulusan kelas 6 pun harus membuahkan hasil penelitian ilmiah.

Baca juga :

SEMANGAT PESTA KEMERDEKAAN INDONESIA KE-74 DARI KELURAHAN LENGKONG GUDANG TANGERANG

BERPRASANGKA BAIK DAN BERPIKIRAN POSITIF ADALAH KUNCI KESEHATAN ANDA

Menemukan Anak Unik Dari Main di Sekolah Alam dan Rumah Mereka

Dari hasil pembelajaran di dalam dan luar kelas akan lahir anak-anak unik, mereka yang tumbuh dengan karakter masing-masing. Anak-anak yang terus bertumbuh kembang dengan potensi diri mereka. Sejak kecil, setiap anak menunjukaan siapa mereka sendiri, terus berkembang, hingga satu anak dan anak lainnya sangat terlihat potensi masing-masing.

Saya tetap meyakini semua anak pasti punya bakat masing-masing. Suatu kali, saya pernah terkejut melihat anak saya bernyanyi di depan teman-temannya di sekolah. Padahal, tidak pernah dilakukannya di rumah seperti itu. Lalu, saya sadari sekolah alam mungkin dapat menumbuhkan bakat anak-anak dan membuat mereka percaya diri. Lalu, tugas orang tua mengasahnya.

Sekolah dan rumah menurut saya harus seimbang dalam mendidik anak. Bagaimana mau anak berkarakter, kalau orang tua tak terlibat dalam mendidik mereka di rumah. Sekolah bukan gudang ilmu, tetapi tempat wahana lahirnya pengetahuan. Sejatinya, rumah juga harusnya seperti sekolah. Orang tua yang bertugas mendidik anak-anaknya.

Tinggal, apakah Ayah dan Bunda menyediakan waktu untuk menjadi teman belajar dan bermain anak-anak di rumah?

 

Ditulis Oleh: Phadli Harahap

OTS Kelas 2 SAI Sukabumi

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close