Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Uncategorized

Anak-Anak Kehilangan Sosok Ayah Terutama Dalam Pendidikan

Katanya peran orang tua laki-laki sangat penting, namun kerap kita temukan anak-anak kehilangan sosok Ayah. Nyatanya Ayah tidak hadir dalam sebagian besar kehidupan, tidak pernah terlibat mengantar ke sekolah, berdiskusi dengan guru, menemani belajar, hingga lupa perkembangan atas pendidikan anaknya sendiri. Kita bisa melihat dengan mata telanjang kok, siapa yang lebih berperan tehadap pendidikan anak-anak, dia adalah manusia yang disebut ibu.

Kalau melihat suasana sekolah-sekolah dasar, kita dapat melihat ibu-ibu berkumpul menunggu anak-anaknya. Sementara Ayah? Kabarnya mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Padahal belum tentu semua Ayah berkerja full day layaknya orang kantoran. Menariknya ketika Ayah jarang terlihat mengantar dan menunggu anak di sekolah, sosok Ayah juga tak terlalu akrab di rumah. Mau mengerjakan PR, anak mengadu ke Ibu. Ada tugas yang membutuhkan kreativitas, ibu lagi yang diminta bantu anak.

Hingga, tanpa sadar, anak-anak sudah beranjak dewasa dan di wisuda. Barulah Ayah bilang waktu terlalu cepat berlalu. Padahal, ya memang jarang \”hadir\” dalam kehidupan anak-anaknya. Sebaliknya, Anak-Anak Kehilangan Sosok Ayah.

Ibu Bukan Sosok Pengganti, Lihatlah Anak-Anak Kehilangan Sosok Ayah Mereka

Perihal hilangnya sosok Ayah ini mulai semakin saya rasakan ketika anak menginjak masuk sekolah dasar. Sebagai Ayah yang gemar mengantar anak ke sekolah, saya semakin sadar kalau kebanyakan ibu-ibu yang rempong mengantar ke sekolah. Sedangkan pulang sekolah, saya kira para laki-laki dewasa yang menjemput anak itu para Ayah si anak, tetapi sebagiannya ternyata tukang ojek. Ibu sibuk dan Ayah lebih-lebih repot dengan pekerjaannya. Ya serahkan saja kepada ojek online untuk menjemput anak-anak.

Pada sebuah acara 17 agustusan pun begitu, ibu tak turut merayakan libur kemerdekaan. Karena mereka harus mendampingi anak ke sekolah. Apakah Ayah juga sibuk berkerja di kantor ketika hari kemerdekaan Republik Indonesia? Ah tampaknya Ayah tersebut belum bebeas dari penjajahan. Di acara market day sekolah pun begitu, sosok Ayah jarang tampak di sekolah.

Saya buat perbandingannya ya, diantara 32 total siswa sekelas anak saya, ada hanya 6 orang Ayah yang mendampingi anak. Apakah Ayah sibuk berkerja juga? Rasanya tidak, kan hari itu hari sabtu. Kalau pun mereka merasa lelah melalui 5 hari kerja dalam seminggu, masa iya enggak mau datang ke acara anak walau hanya 1 hari saja.

Seorang guru pernah bercerita dalam sebuah rapat orang tua yang 80 persen dihadiri ibu-ibu bercerita, “Kita kehilangan sosok Ayah. Para Ayah jarang sekali terlibat dalam kegiatan sekolah. ” Peserta rapat tersebut hanya memberi senyuman. Seperti senyuman palsu, karena sadar diri rapat itu tak ubahnya seperti rapat ibu-ibu PKK. Lalu kemanakah kalian para Ayah yang katanya bagian penting dari kehidupan anak-anak. Apakah hidup terlalu ripuh, sehingga tak bisa menisahkan satu hari saja untuk anak-anak.

Situ Kan Ayah Tidak Berkerja, Kami kan Ayah Karir

Persoalannya bukan perkara Ayah yang sibuk berkerja atau tidak berkerja semata. Masalahnya jauh dari itu, pedulikah Ayah atas perkembangan hidup anak-anak hingga dewasa kelak. Buktinya ibu-ibu pada curhat kok, kalau anak-anak mereka kurang perhatian dari para Ayah. Lalu apa yang para Ayah bisa lakukan untuk anak-anak. Ya ndak sulit kok, ambil sebagian peran yang selama ini dilakukan para ibu.

Perannya ndak sedikit toh, dari membantu mengerjakan tugas sekolah, meninabobokkan anak, hingga mengantar anak ke sekolah sebelum pergi berkerja. Kayaknya perlu ditambah deh tugas Ayah, jangan terlalu sedikit. Selain mengantar anak ke sekolah, Ayah juga bisa datang ke pertemuan dengan guru, menjadi sukarelawan sekolah, hadir dalam rapat komiter sekolah, ikut acara market day anak, hingga melihat anak dalam acara perpisahan sekolah (sangkin enggak pernah nemanin anaknya) Ya, demikianlah tulisan ini, jangan sampai anak kehilangan sosok Ayah sendiri. Sadarilah Ayah yang lupa sama anak-anaknya selama ini.

Baca juga : Cara Mendapatkan Kartu Pra Kerja, Sudah tahu belum?

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close