Wed. Apr 24th, 2024
    Hukum Warisan Anak Angkat dalam Agama IslamHukum Warisan Anak Angkat dalam Agama Islam

    Hukum Warisan anak angkat dalam Islam perlu diketahui. Pengertian Warisan menurut ajaran Agama Islam artinya adalah berpindahnya suatu hak dan kewajiban dalam bentuk tanggungan atau harta dari orang yang telah meninggal dunia kepada anggota keluarganya yang masih hidup didunia ini.

    Kewajiban memberikan Warisan didalam Islam telah dijelaskan dalam Ayat Suci Al Qur’an yang tertera di Surat AnNisa : 33 yang bunyinya, ” Dan untuk masing-masing dari laki-laki dan perempuan telah menetapkan para ahli waris atas apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan karib atau kerabatnya. Orang-orang yang telah bersumpah setia dengan mereka. Maka berikanlah kepada mereka bagiannya, sungguh Alloh Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

    Lalu, beragam jenis Harta Warisan adalah sisa dari kekayaan Almarhum yang telah dipotong untuk menzakati harta yang ditinggalkannya. Harta terebut dipotong oleh biaya mengurusi mayatnya hingga sampai kepemakaman. Kemudian dipotong oleh hutang-hutang bagi Almarhum.

    Apabila beliau mempunyai hutang semasa hidupnya dan memenuhi wasiat atau pesan si Almarhum. Orang yang berhak menerima atau memperoleh wasiat dari seseorang akan memberikan Warisan adalah siapa saja yang bisa dipercaya tetapi selain Ahli Waris. Karena si Ahli Waris sudah mendapatkan Hak Warisan yang diwasiatkan oleh si Almarhum.

    Penjelasan Mengenai Hak Waris dan Hukum Warisan Anak Angkat

    Hal tersebut sudah dijelaskan dalam Sabda Nabi Muhammad Saw yang berbunyi, ” Sesungguhnya Allah Swt sudah memberikan kepada setiap orang yang berhak atas haknya. Oleh karena itu, tidak ada wasiat untuk sang Ahli Waris (HR. Lima Ahli Hadist selain Abu Dawud yang telah disahkan oleh Tirmidzi dari Amr Bin Khorijah ra).

    Sedangkan Rukun Kewarisan didalam Ajaran islam sendiri terdapat tiga macam yang antara lain: Al Muwaris atau orang yang meninggal dunia, Ahli Waris atau orang yang akan mewarisi harta si Almarhum, dan Mauruts atau harta yang dipunyai oleh Almarhum setelah dipotong oleh biaya pengurusan si mayit, melunasi hutang-hutangnya dan melaksanakan wasiatnya yang tidak lebih dari sepertiga.

    Lalu, wacana atau pertanyaan tentang Hukum Warisan Anak Angkat yang diajarkan dalam Islam adalah ketika orang tua angkat meninggal maka anak angkat tidak memperoleh harta warisan orang tua angkatnya. Hal tersebut karena hubungan antara anak angkat dengan orang tua angkat tidak ada hubungan nasab.

    Anak angkat yang diasuh oleh orang tua angkat mendapat warisan dari orang tua aslinya. Sehingga anak angkat tidak bisa mewarisi harta orang tua angkat dan tidak bisa memperoleh atau mewarisi harta anak angkatnya.

    Walaupun Hukum Warisan Bagi Anak Angkat tidak bisa mewarisi harga orang tua angkatnya, namun bisa mendapat harta orang tua angkat. Caranya menerima Hibah dari Orang Tua angkat karena hibah. Artinya memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa adanya timbal balik dan diberikan selama orang yang memberikan masih hidup. Pemberian tersebut dilakukan secara sadar dan tanpa paksaan atau ikhlas.

    Oleh karena itu, Orang Tua Angkat memberikan hartanya ketika masih sehat dan dilakukan tanpa paksaan. Jumlahnya lebih dari sepertiga harganya. Meskipun tanpa persetujuan dari ahli waris yg lain dan tidak bisa ditarik kembali oleh para ahli waris apabila telah dikasih oleh orang tua angkatnya. Sebab harta yang telah diberikan atau dihibahkan sudah berpindah kepemilikannya.

    Artikel menarik lainnya: Bagaimana Mengetahui Kapan Waktu Mengakhiri Hubungan yang Tepat

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *