Thu. May 30th, 2024
    Pelaku UKM Sukabumi Menjerit Pasrah Orderan Sepi Peminat di Masa Pandemi COVID-19Pelaku UKM Sukabumi Menjerit Pasrah Orderan Sepi Peminat di Masa Pandemi COVID-19

    UKM Sukabumi menjerit pasrah di tengah pandemi covid-19 yang terjadi dari bulan maret sampai juni 2020. Banyak pelaku usaha kecil menengah (UKM) mengeluhkan omset mereka menurun drastis. Kalau dihitung rata-rata sesuai survey lapangan dengan mengajak pelaku usaha mengobrol santai, omset menurun sekitar 80-100 persen.

    Salah satunya pelaku ukm kerajinan bambu “Kriya Cibiru” yang berlokasi di Kampung Cibiru, Desa Cicantayan. UKM yang fokus membuat kerajinan perkakas dapur yang terbuat dari bambu turut terimbas masalah virus corona. Pibsa,

    Pemilik Kriya Cibiru mengungkapkan omsetnya menurun drastis sampai 100% terhitung dari bulan maret kemarin. Dia sudah tidak mengerjakan satu pun orderan hampir 3 bulan. Meskipun demikian, dia tetap mencoba optimis, “kami masih produksi dan terus berinovasi supaya produk kami memiliki daya saing tinggi di pasar dunia.”

    Pelaku UKM Sukabumi Menjerit Menghadapi Kondisi Pandemi COVID-19

    Pelaku UKM Sukabumi Bersiasat Ketahanan Pangan dengan Bertani
    Pelaku UKM Sukabumi Bersiasat Ketahanan Pangan dengan Bertani

    Para pelaku kerajinan bambu khususnya hanya bisa pasrah dengan kondisi yang terjadi saat ini. Walaupun pemerintah sudah banyak menggelontorkan bantuan dari pemerintah yang terdampak covid-19 ini. Hal yang membuat para pelaku UKM khususnya yang bergerak di kerajinan bambu masih bertahan dan jarang mengeluh adalah strategi masing-masing.

    Bagi pelaku kerajinan bambu, keseimbangan antara bahan baku dari sumber daya alam dan proses pengolahan harus di hitung secara matang. Penggunaan bahan bambu dan pengolahannya harus ramah lingkungan. Ketika kondisi pandemi begini, bahan bambunya semakin banyak, namun orderan yang semakin kian sepi.

    Para pelaku UKM Sukabumi rata-rata mempunyai strategi ketahanan pangan sendiri, misalnya caranya dengan bertani. Dikala orderan menurun, mereka beralih profesi. Begitu pula, Pibsa beralih profesi menjadi seorang petani. Disela-sela waktunya yang semakin kosong, dia menyempatkan waktu untuk terus bercocok tanam. Sehingga, untuk kebutuhan makan sehari-hari bisa diperoleh dari hasil pertanian.

    Harapan dari para pelaku UKM Sukabumi yang pasrah  saat ini, semoga pandemi ini segera berlalu dan bisa dengan leluasa menuangkan ide kreatif yang bisa dinikmati banyak orang. Jika kondisi pandemi COVID-19 berlarut-larut kondisi ekonomi bisa hancur berantarakan. Sementara, usaha dijalankan dari modal sendiri dan modalnya pun serba terbatas. Tidak adanya orderan, maka perputaran modal tidak bisa seperti berjalan seperti dalam keadaan seperti biasanya.

    Baca juga: Masyarakat Kedusunan Kemang Sukabumi Pakai Uang Sendiri Perbaiki Jalan Rusak Di Tengah Pandemi COVID-19

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *