Senyuman Mereka Membuat Anak-Anak Kita Memahami Koruptor Tidak Memalukan

Korupsi tidak memalukan

Foto-foto para pelaku korupsi tampak tersenyum beredar di media sosial sebagai bukti menjadi koruptor tidak memalukan. Sekumpulan orang berbaju oranye persis seperti baju tahanan KPK tampak sumringah sambil mengangkat tangan mereka sambil menunjukkan simbol 3 jari. Tampang mereka tampak bahagia dan sumringah, meski hidup dibalik jeruji.

Kalau ditelisik dari google mereka tidak lain adalah para koruptor yang baru tertangkap, sedang sidang, bahkan sedang menjalani sidang. Koruptor yang sedang tersenyum. Perilaku harusnya dikutuki dan diberikan sanksi berat toh bukan bekan sosial bagi mereka dan menjadi koruptor tidak memalukan.

Mencoba berandai-andai, bagaimana kalau foto tersebut dilihat anak-anak kita. Jika ada anak-anak yang bertanya, “Siapa orang-orang berbanyu oranye itu.” Lalu, mereka memperoleh jawaban, “Mereka koruptor,” Anak-anak akan melihat kalau pelaku korupsi tindak kejahatan yang tidak memalukan. Buktinya mereka masih bisa tersenyum, meski hukuman rata-rata tahanan bisa diatas 5 dan 10 tahun.

Menariknya, para koruptor ini muncul dari beragam bidang pekerjaan, ada dari anggota DPR, Menteri, Pemimpin pemerintah daerah, hingga para pegawai PNS.

Baca juga : Jangan Banyak Alasan Tindakan Suap dan Korupsi Tidak Halal

Koruptor Tidak Memalukan Buktinya Mau Menjabat Anggota DPR Kembali

Bukti paling nyata yang dapat kita baca dari berbagai media, terutama media online adalah adanya anggota DPR pernah terlibat kasus korupsi ingin nyaleg kembali. Namanya sering muncul di media online dan disebarkan oleh banyak orang melalui akun media sosial. Apa dia malu? Rasanya tidak, bahkan kabarnya menggugat keputusan KPU yang melarang koruptor nyaleg kembali.

Anggota DPR tersebut tidak sendiri, nyatanya jumlah bakal caleg eks koruptor mencapai total 199 bakal caleg eks koruptor untuk semua tingkatan (DPRD Propinsi, Kaupaten dan Kota). Partai-partai besar termasuk penyumbang terbanyak caleg koruptor yang ingin duduk sebagai wakil rakyat.

Menariknya pencalonan mereka disetujui sebagian anggota DPR, dari yang memberikan argument dari aturan hingga menyebut “koruptor sudah menjalani hukuman dan bertobat. Apakah serta merta alasan tersebut diterima begitu saja.

Rasanya tidak, karena koruptor sebagai tindak pidana yang  sangat merugikan keuangan atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional. Penjelasan tersebut sebagaiman yang dituliskan dalam UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pertobatan mereka kan lebih baik dilanjutkan di luar pekerjaan bidang kepemerintahan saja. Tetapi kan tetap ada saja alasan untuk ingin nyaleg lagi.

Sialnya tersangka korupsi tidak datang dari anggota DPR saja, pejabat dengan posisi menteri pun menjadi tersangka. Jabatan baru beberapa bulan tergadai bersama baju oranye. Dia mengundurkan diri, tetapi ada saja yang memuji dia gentleman. Kalau maksudnya gentleman itu bertanggung jawab, rasanya dia mempertaruhkan nilai jabatan menteri dengan perilaku korupsinya.

Hal yang menarik adalah mantan menteri tersebut tampil tenang dan menunjukkan senyuman akan status tersangkanya. Kalau dilihat, tidak tampak gusar dan malu atas status hokum yang diterimanya.

Tidak cukup anggota DPR dan menteri, PNS pun ternyata banyak terlibat kasus pidana korupsi. Sebagian besar mereka belum malah belum dipecat.

Baca juga : Menariknya Konsep Digital Warung Surabi Tasik Kang Asep dalam Wisata Kuliner

Sebagian Tersangka Korupsi Ada yang Berstatus PNS

Seiring dengan masa pendaftaran PNS bulan September 2018, kabar tentang koruptor masih berstatus PNS ternyata masih belum dicopot status kepagawaiannya. Tidak tanggung-tanggung, ada 2.357 koruptor masih berstatus PNS.

KPK sendiri sudah meminta untuk pencopotan status PNS, karena akan terjadi kelalaian administratif dan pelanggaran undang-undang, sehingga memiliki potensi kerugian negara. Bayangkan saja, meski digaji oleh Negara, mereka tega melakukan korupsi.

Begitu banyaknya pelaku koruspsi tersebut membuktikan koruptor tidak memalukan. Pelakunya saja hingga ribuan orang dari PNS.

Mengajarkan Kepada Anak-Anak Kita Koruptor Adalah Tindakan yang Memalukan

Lalu apa yang dapat kita lakukan melihat fakta tersebut? Jelaskan kepada anak-anak tentang tindakan dan perilaku korupsi itu sangat memalukan dan merupakan kejahatan yang sangat merugikan.

Keluarga dapat menjadi tempat mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa mengambil uang Negara sekali lagu sungguh memalukan. Orang tua bisa memberi tahu bahwa korupsi merupakan perilaku yang tercela tetapi masih saja terjadi. Koruptor telah menyalahgunakan jabatannya untuk meraup keuntungan bagi dirinya sendiri

Baca juga : Kasus Korupsi Narapidana Sukamiskin Adalah Tindak Kejahatan Luar Biasa

Ada nilai-nilai yang bisa diajarkan kepada anak-anak, yakni nilai kejujuran dengan meminta ijin sebelum meminjam barang orang lain. Pengajaran nilai kesederhanaan dengan membeli barang sesuai kemampuan dan kebutuhan. Nilai tanggung jawab juga bisa dikenalkan dengan memberi tahu pekerjaan yang diemban harus diselesaikan dengan baik tanpa menerima imbalan yang bukan haknya.

Bagaimana pun, pemberitaan di media online bisa saja terpapar ke anak-anak kita. Apalagi anak-anak terbiasa mengakses dunia internet dan mungkin tidak terpantau oleh orang tua. Jangan sampai anak-anak kita menilai pelaku korupsi adalah tindakan biasa-biasanya. Kita harus mengatakan koruptor itu memalukan dan kejahatan yang merugikan banyak pihak.

One thought on “Senyuman Mereka Membuat Anak-Anak Kita Memahami Koruptor Tidak Memalukan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.