Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini
Suara Hati Relawan

Mengabarkan Dunia Literasi Pelosok Sukabumi dengan Laptop ASUS

Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini

Komunitas Sabumi Volunteer mau tak mau harus mengikuti tuntutan jaman dengan mencatatkan berbagai kegiatan melalui blog dan alat menulisnya Laptop ASUS yang bisa dibawa ke mana saja.

Seiring waktu, para relawan menyadari bahwa gerakan literasi tidak cukup hanya sekedar mendistribusikan buku dan mendirikan taman baca saja. Melainkan juga, perlu membuat coretan digital agar proses kegiatan yang telah dilakukan dapat dibaca oleh khalayak ramai. Mau tak mau, perangkat laptop menjadi bagian penting kegiatan literasi saat ini. Setiap kali ada kesempatan, relawan langsung menulis dan diunggah ke blog sabumiku.com.

Sehingga berbagai catatan telah tersusun rapih dan kalau ada orang yang bertanya, “Kegiatan apa yang sudah dilakukan oleh Sabumi Volunteer.” Relawan tinggal membagikan link tulisan yang ada di blog dan bisa dibaca pada saat itu juga.

Sabumi Volunteer Bukan Lagi Komunitas yang Bergerak Dalam Senyap

Komunitas Sabumi Volunteer. Foto : Ipong Sabumi.
Komunitas Sabumi Volunteer. Foto : Ipong Sabumi.

Sebelumnya tidak begitu dan tidak pernah dituliskan. Sabumi Volunteer bergerak dalam senyap. Kegiatan dilakukan hanya diketahui internal komunitas sendiri, tanpa catatan, dan mengalir begitu saja seperti air sungai, tetapi lama-lama malah tanpa bekas.

Kegiatan seringkali serba mendadak dan tentu saja menjadi tidak memiliki bukti tertulis dari apa yang pernah dilakukan. Jadi tidak heran sebelumnya, jejak digitalnya nyaris tidak ditemukan di internet. “Sabumi apa? Volunteer? Emang ada ya di Sukabumi?”

Tetapi kini tidak lagi, komunitas Sabumi Volunteer yang mulai berkegiatan sejak Januari 2015 rutin memperbarui isi blog. Ada ragam tulisan, dari kegiatan relawan, permasalahan dunia literasi, artikel pendidikan, Opini, hingga artikel wisata pun ada.

Lambat laun blog sabumiku.com menjadi wadah menulis bagi para relawan. Dari yang tadinya tidak suka menulis, akhirnya satu per satu relawan mau bercerita hingga berbagi opini.

Untuk menuliskan semua artikel dalam blog, syukurnya seorang relawan yang dipercaya sebagai editor blog memiliki laptop ASUS yang senantiasa dibawanya ke mana saja. Orang tersebut adalah penulis artikel ini sendiri. Hehe…

Mengajak Relawan Literasi Menulis dengan Pendekatan Kaum Milenial

Diskusi Kegiatan Sabumi Volunteer Menggunakan Laptop Asus. Foto : Sabumi Volunteer.
Diskusi Kegiatan Sabumi Volunteer Menggunakan Laptop Asus. Foto : Sabumi Volunteer.

Mengikuti kegiatan kerelawanan dunia literasi sebenarnya tidak seperti yang dibayangkan diisi orang yang gemar membaca dan menulis. Faktanya relawan pun ternyata jarang membaca dan malah kesulitan menuliskan pengalamannya.

Bayangkan saja, padahal dia sendiri yang terlibat dalam perjalanan demi perjalanan mendistribusikan buku, peralatan sekolah, hingga membangun taman baca di daerah pelosok Sukabumi.

Lalu dicari cara agar relawan mau menulis tanpa dipaksa-paksa. Tetapi mengenalkan kebiasaan merangkai kata itu juga tak mudah, meski dunia literasi seharusnya tak terpisahkan dari kegiatan sehari-hari para relawan. Soal mengajak orang membaca nomor wahid, membangun rumah baca sampai ke kampung pelosok tidak terbantahkan. Tetapi diajak menulis sedikit kata kok menjadi rumit.

Tidak patah arang, pendekatan yang dilakukan agar relawan mau menulis dengan cara mengikuti keinginan kaum milenial. Karena sebagian besar anggota Sabumi Volunteer adalah kaum milenial yang lahir sekitar tahuan 1984 dan setelahnya, pendekatannya adalah menulis dengan menggunakan media sosial di jagat dunia internet.

Tahukah Anda, kondisi tersebut sesuai dengan tulisan Tony Rao, Dosen Tamu di Old Age Psychiatry King’s College London. Dia menjelaskan bahwa media sosial menjadi sesuatu yang sangat penting bagi generasi milenial dan sarana penghubung mereka dengan dunia luar. Apalagi dunia internet digunakan  untuk berinteraksi dengan orang lain dan menjadi hal yang menyenangkan bagi kaum milenial.

Menyadari kedekatan kaum milenial dengan internet, Saya bersama dua orang relawan lainnya berdiskusi untuk memantik minat menulis relawan dan diputuskan untuk membuat blog. Setelah itu, para relawan bisa menyebarkan tulisannya melalui media sosial mereka.

Awalnya memang belum terpikirkan apa yang akan dituliskan dalam blog nantinya. Tetapi daripada kebanyakan mikir bikin saja dulu. Mumpung niat sudah ada dan memiliki laptop ASUS sebagai alat menulisnya.

Menulis Blog itu Mudah dengan Laptop ASUS yang Bisa Dibawa Ke Mana-Mana

Laptop ASUS A456U menjadi Alat Menulis Blog sabumiku.com. Foto : Sabumi Volunteer.
Laptop ASUS A456U menjadi Alat Menulis Blog sabumiku.com. Foto : Sabumi Volunteer.

Keputusan membuat blog tidak lama setelah saya membeli Laptop ASUS A456U pada Juni tahun 2017. Sedangkan blog dibuat pada Juli 2017. Saya memilih laptop ASUS tersebut karena memiliki desain yang aman kalau dilihat dari kondisi engsel berada di tengah antara keybord dan monitor. Tidak di kanan dari kiri body laptop. Sehingga mengurangi risiko engsel menjadi patah. Soalnya saya punya pengalaman pribadi memiliki laptop yang patah engselnya dan berakhir pada kerusakan perangkatnya.

Laptop tersebut memiliki polymer battery yang tahan 2,5 lebih lama bisa hingga 4-5 jam. Tidak lelet  ketika digukan dengan Processor Intel Core i5 7200U Gen 7 dan fisiknya tidak berat yang membuatnya mudah dibawa ke mana saja.

Karena para anggota Sabumi Volunteer memiliki kegiatan yang beragam, seperti fotografer, pegawai usaha ekspor manggis, pengelola wisata alam, hingga peneliti, maka tidak mudah mengumpulkan mereka dalam satu waktu. Namun, kondisi tersebut tentu bukan halangan bagi kaum milenial. Ada smartphone yang selalu menjadi teman setia.

Acapkali diskusi mengenai rencana kegiatan dilakukan melalui whatsApp group. Obrolan yang dibicarakan tidak jauh dari rencana pendirian taman baca, distribusi donasi buku, hingga kerjasama kegiatan sosial antar komunitas.

Perencanaan eksekusi kegiatan pun dibahas dengan aplikasi online tersebut. Rencana dan eksekusi kegiatan tersebutlah yang biasanya dituliskan di blog. Setiap relawan yang terlibat dalam satu kegiatan akan diminta menuliskan pegalamannya.

Ketika ada kegiatan yang dinilai sangat penting, barulah relawan berkumpul untuk membicarakannya bersama-sama. Misalnya, ketika ada peliputan dari media televisi swasta yang ingin membahas kegiatan sosial komunitas Sabumi Volunteer atau membicarakan kolaborasi distribusi bantuan peralatan sekolah dengan komunitas pecinta mobil ke daerah pelosok.

Para relawan bisa bertemunya di mana saja. Karena pertemuan sering berpindah tempat, sehingga sangat penting bagi saya untuk terus membawa Laptop ASUS. Teman-teman relawan sering meminta  saya mengetik dan mencatat hasil diskusi. Tugas lain editor blog itu tidak lain dan tidak bukan adalah meramu tulisan yang dikirimkan penulisnya agar lebih mudah dibaca dan dimengerti oleh banyak orang.

Mengabarkan Kondisi Literasi Sukabumi Demi Pendidikan Anak-anak Pelosok yang Lebih Baik

Kegiatan Sabumi Volunteer di Pelosok Sukabumi. Foto : Sabumi Volunteer.
Kegiatan Sabumi Volunteer di Pelosok Sukabumi. Foto : Sabumi Volunteer.

Sabumi Volunteer terbentuk berawal dari rasa keperihatinan beberapa orang anak muda melihat kondisi anak-anak daerah terisolir yang kurang memiliki akses terhadap buku bacaan. Akhirnya inisiatif pun muncul untuk turun tangan menyalurkan buku secara langsung ke kampung-kampung yang berada di Kabupaten Sukabumi.

Anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas bisa dikatakan tidak memiliki buku berkualitas untuk dibaca. Jangan bayangkan ada fasilitas perpustakaan seperti sekolah di perkotaan.

Karena alasan itulah, Sabumi Volunteer menggagas pendirian taman baca di sekitar tempat tinggal masyarakat atau sekolah, membuat motor pustaka, dan ada pula menyerbarkan manfaat membaca dengan sepeda ontel (ontel pustaka). Para relawan dibebaskan untuk berkreasi dengan cara-caranya sendiri untuk meningkatkan minat baca.

Biar tahu saja, kegiatan melakukan survei lokasi untuk melihat kelayakan pendirian rumah baca di kampung itu tidak mudah. Relawan harus melewati jalan dengan kondisi berlumpur atau berbatu. Lokasi kampung bisa berkilo-kilo melewati hutan dan sungat.

Belum lagi, relawan harus  melakukan pendekatan dan urun rembug dengan masyarakat, agar taman baca masyarakat yang didirikan nantinya bisa bertahan alama alias berkelanjutan.

Nah, cerita tentang kegiatan kerelawanan dunia literasi yang penuh perjuangan tersebut sering luput dari perhatian berbagai pihak, karena memang tidak dituliskan. Jadi, jangan tanya deh tentang perhatian pemerintah atau pihak lainnya tentang kondisi pendidikan di Sukabumi. Mereka mungkin sedang sibuk dengan pekerjaan lain. Kalau sudah begitu, kenapa enggak relawan saja yang menuliskannya.

Apalagi, era dunia internet berkembang demikian pesat dan informasi apapun bisa disebarkan dengan mudah. Oleh karena itu, relawan dari komunitas Sabumi Volunteer terus didorong untuk mau mengabarkan pengalamannya dalam dunia literasi hingga ke pelosok Sukabumi.

Sabumi Volunteer Butuh Perangkat Laptop yang Bandel, Bisa Diandalkan, dan Tahan Lama

Tidak cukup sampai disitu, beberapa relawan sedang berinisiatif  membuat  video dan tertimoni kegiatan Sabumi Volunteer. Agar lebih banyak orang lagi yang mengetahui kegiatan dalam bentuk gambar bergerak dan tidak hanya membaca tulisan saja. Untuk itu, para relawan tentu saja membutuhkan alat berupa laptop yang anti lemot agar bisa mengedit video dengan lancar.

Keterangan : Video Hasil Editan dari Kegiatan Sabumi Volunteer.

Laptop yang Dibutuhkan Bagi Sabumi untuk Mengedit Video Adalah ASUS X555. Beberapa kali teman-teman relawan mencoba mengedit video, tetapi mereka bilang terlalu lelah kalau tidak punya perangkat laptop dengan spek mumpuni. “Ini buat mengedit video, bukan buat menulis loh,” kata relawan tersebut. Karena saya pengguna ASUS dan puas dengan kondisi fisik dan speknya yang anti lelet, saya pikir Laptop ASUS X555 bisa menjadi pilihan untuk mengedit video.

Alasan Memilih ASUS X555
Alasan Memilih ASUS X555

Ada beberapa alasan kenapa memilih ASUS X555 sebagai perangkat yang dibutuhkan untuk kegiatan Sabumi Volunteer.

Baterainya Panjang Umur dan Tak Mudah Lelah

Untuk mengedit video itu membutuhkan waktu yang lama. Untuk bahan video berdurasi 1 menit saja, mengeditnya bisa menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Nah kalau baterainya enggak panjang umur, bisa was-was orang yang mengeditnya. Notebook ASUS X555 memiliki baterai Li-Polymer. Laptop bisa menyala lebih lama, bayangkan saja 2,5 kali masa pakai dari baterai silinder Li-ion. Meski dipakai ratusan kalipun, kapasitas muatannya bisa mencapai hingga 80%. Baterai awet enggak bikin stress.

Didukung dengan Prosesor Responsif dan Dijamin Enggak Ngeselin

Mengedit video dengan ASUS X555 enggak ngeselin dan dijamin responsif karena disematkan Prosesor AMD®Quadcore A10 di dalamnya. Sehingga menghasilkan grafis yang mantap. Apalagi memiliki layar 15.6″ HD (1366×76). Sehingga, sangat ideal untuk mengedit video karena tidak menimbulkan layar patah-patah, warna nan cerah dan enggak bikin perih mata. Disela-sela lelah mengedit video, tidak ada salahnya istirahat sejeni, laptop ini juga cihuy buat gaming.

Tetap Adem Teknologi IceCool yang Menjaga Temperatur Laptop

Enggak perlu takut panas setelah berjam-jam mengedit video, karena ASUS X555 memiliki desain internal dengan teknologi IceCool yang membuat laptop tetap berada pada suhu suhu antara 28° C sampai 35° C. Jadi, suhunya enggak bakal melebihi suhu tubuh. Sehingga, laptop tetap nyaman digunakan, meski sambil dipangku dalam waktu yang lama sekalipun.

Mengedit Video Menjadi Lebih Produktif dengan Keybord Ergonomis

Persoalan mengedit seringkali terkendala masalah keyboard yang enggak nyaman ketika ditekan dengan jari. Apalagi kalau keyboardnya keras, lama kelamaan bisa bikin pegal. Masalah itu tidak akan ditemukan pada ASUS X555, karena dirancang ergonomis yang membuat kerja mengedit lebih optimal dan produktif. Selain itu, dilengakapi pula fitur multi-point touchpad dengan kombinasi teknologi ASUS Smart Gesture yang membuat mudah melakukan zoom in/out, dan geser.

Jadi pengen punya Laptopnya kan. Relawan Sabumi Volunteer perlu nabung dulu nih biar punya ASUS X555. Belinya juga lebih mudah karena ASUS X555 juga dijual di Tokopedia. Kok rasanya keren sekali digunakan buat kegiatan ke sana dan ke mari sampai sampai ke pelosok Sukabumi. Hal yang paling penting dari laptop ini adalah semua data akan aman dengan ASUS WebStorage yang membuat penggunanya terkoneksi internet. Laptop ASUS X555 membuat pemiliknya mudah berbagi foto dan video dengan siapa saja.

Tags

Related Articles

10 Komentar

    1. Iya mba, minat baca rendah karena aksesnya juga sangat rendah. Untuk itu butuh peran banyak pihak. Literasi digital juga penting, pake laptop ini bagus juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close