Sosok

Nasib Pak Dadang Guru Guru Honorer Bergaji Rendah dari Sukabumi

Di Sela-sela mendistribusikan buku untuk anak-anak pelosok, kami sering bertemu dengan para pengajar, guru honorer bergaji rendah. Mereka yang mengajar dengan sepenuh hati dengan segala keterbatasan. Lihat foto di atas, dia adalah Pak Dadang. Usianya 38 tahun. Masih relatif muda. Seorang bapak yang memiliki 3 orang anak.

Dia berkerja sebagai Guru Tenaga Kerja Sukarela (TKS) di SDN Cirengrang, Kedusunan Cimanggu, Desa Rambay, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Selama 9 tahun, dia sudah mengabdi di SDN Cirengrang. Guru bergaji rendah. Sama seperti guru TKS lainnya. Tanpa tambahan atau pun bonus lainnya.

Nasib Guru Honorer Bergaji Rendah Mengabdi di Sekolah Tak Boleh Berkeluh Kesah

Selama menjadi guru honorer bergaji rendah, dia mengaku senang melakoninya. Apalagi yang diajarkan adalah anak-anak di kampung yang tergolong daerah pelosok. Sebagi guru TKS dia menerima honor Rp300.000 per bulan. Tidak ada tunjangan lainnya. Honor tersebutlah yang dia bawa pulang setiap bulan. Selain menjadi guru TKS, dia juga aktif dalam kegiatan BPD tingkat Desa dan menjadi salah satu pengurus PAUD yang dikelola sendiri di sekitar rumahnya.

Bekerja menjadi guru itu tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Dia harus berjalan kaki mulai dari Pukul 04.00 wib setiap hari. Pagi buta dikala hari masih gelap. Dia rela melakukannya demi memberikan membagikan pengetahuannya kepada semua anak didiknya.

Meski begitu, dia lakukan sepenuhnya untuk anak-anak di sekolah. Tak bisa mengeluh dan berkeluh kesah. Dia harus menunjukkan senyum kepada murid-muridnya. Membingkai senyum terbaik atas semua yang ia jalani selam menjadi guru TKS. Tahu tidak dimana seperti apa sekolahnya? Sekolah super sederhana yang dipayakan terus bertahan untuk anak-anak tedekat dengan sekolah.

Mengajar di Sekolah Negeri Cirengrang yang Super Sederhana

SD N Cirengrang memiliki satu ruangan kelas yang digunakan bersamaan bersama siswa kelas 1,3,4 dan kelas 6. Jumlah total siswanya hanya 9 orang waktu itu. Sarana pendukung belajar pun sangat minim. Ketika ditemui oleh relawan mengatakan membutuhkan bantuan berbagai alat penunjang kegiatan belajar mengajar seperti buku-buku Pelajaran.

Untuk menuju sekolah ini tidak mudah. Pak Dadang harus melalui sungai Cikawung. Seperti yang dilewati warga Kampung Cirengrang setiap hari. Tandangan bagi Pak Dadang ketika musim penghujan tiba. Debit air sungai menjadi lebih tinggi dan menjadi susah disebrangi.

Kalau sudah beitu, Pak guru harus rela menginap di ruang kelas dengan peralatan tidur seadanya. Ada kasur lantai, kompor dan satu set panci serta penggorengan yang menemani beliau kalau tidak bisa pulang karena terjebak hujan. Kendaraan tidak bisa tembus ke kampung Cirengrang kalau sedang musim hujan. Sebuah bakti guru yang patut mendapat apresiasi. Meski banyak kendala untuk mengajar. Dia telah menjalani sebagai guru tenaga kerja sukarela selama 9 tahun.

Dia tetap bertahan mengajar sebagai guru honorer bergaji rendah dan harus berjuang mempertaruhkan nyawa di aliran sungai Cikawung. Tidak apa-apa katanya, semua dilakukan demi para siswanya. Guru yang bergaji rendah itu tak lelah mengajar, meski dirundung penghasilan yang pas-pasan mungkin kurang untuk kebutuhan keluarganya. Tak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Semoga nasib segera bisa berubah. Entah kapan. Selamat Hari Guru Sedunia ya Pak Dadang!

Baca juga : Saring Sebelum Sharing Literasi Digital dari Kang Maman Bersama Tompi dan Glenn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *