Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Sosok Inspiratif

Tidak Usah Dibayar Pak Sotonya, Biarlah untuk Tambahan Uang Perjalanan ke Tangerang’

Rasa empati sering lahir dari kalangan rakyat kecil seperti tukang Soto Ayam yang menggratiskan pembelinya dengan mengatakan, “Tidak Usah Dibayar Pak sotonya, Biarlah untuk Tambahan Uang Perjalanan ke Tangerang.”

Pagi beranjak siang dengan panas yang cerah. Perjalanan dari Jalan Cisaat menuju Jalan Cibadak Sukabumi ramai lancar. Lajur Cisaat-Cibadak tidak lagi ramai seperti musim samen antara bulan April-Julli. Sehingga pengendara tak harus takut terjerat Pawai Drumband yang sangat khas merayakan perpisahan sekolah di Kabupaten Sukabumi.

Disebabkan belum makan pagi, perut berontak mengajak makan dulu dan singgah di Jalan Cibadak. Di Jalan Cibadak Sukabumi ini banyak pedagang, dari berjualan baju, alat ibadah, perangkat rumah tangga, hingga penjual makanan. Jadi, kalau lapar di Jalan tersebut berhentilah sejenak dan cari makanan yang cocok bagi perut Anda.

Pagi itu, tukang Soto yang berjualan di depan toko kain batik sudah buka. Singgalah untuk makan di sana dan melihat kejadian yang membuat hari luruh dengan rasa kepedulian.

Tidak usah Dibayar Pak Sotonya

Tukang Soto yang masih muda tersebut melayani dengan ramah. Suaranya pelan menyapa pelanggan. “Mau berapa mangkok,” tanyanya sambil tersenyum. Tidak lama kemudian dia pun menyiapkan dua mangkok soto ayam di depan kami.

Tidak lama dua manggok soto tersedia. Seorang bapak tergopoh-gopoh dengan tas besarnya ikut memesan makanan. Bapak tersebut berusia senja, tetapi barang bawaannya sangat banyak. Kalau dipikir-pikir, dia mungkin bersusah payah membawa barang bawaannya tersebut.

“Mau pesan soto juga pak?” tanyanya kepada bapak yang duduk di bangku penjual soto yang berada di pinggir jalan layaknya pedagang kaki lima. Si bapak menunjukkan jari telunjuk, tanda meminta disajikan satu mangkok soto.

Setelah makanan di sajikan. Tukang soto tersebut bertanya tujuan kepergian si bapak yang membawa banyak barang tersebut.

Tukang Soto : Bapak teh mau kemana?

Bapak : Mau ke Tangerang.

Tukang Soto : Banyak barang bawannya ya pak?

Bapak : Iya, dari rumah anak saya. Saya sekarang mau pulang.

Setelah makan sang bapak menyerahkan duit Rp50.000. Karena dompetnya terbuka lebar tampaklah dia hanya mempunyai uang Rp100.000 di dompetnya.

Penjual soto yang melihat bapak ingin membayar, serta-merta menolak pembayaran uang tersebut. “Tidak Usah Dibayar Pak Sotonya, Biarlah untuk Tambahan Uang Perjalanan ke Tangerang,” katanya kepada bapak yang langsung manggut-manggut. Bapak tersebut pun mengucapkan terima kasih berulang kali.

Baca juga:

Menghitung Seribu Pintu Sembari Wisata Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

Cinta Remaja PERMATTA Untuk Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Empati Sesama Rakyat kecil

Dari kejadian tersebut menandakan kehidupan rakyat kecil yang memiliki rasa empati satu sama lain. Sang tukang soto yang mungkin pendapatannya belum banyak pagi itu rela tidak dibayar oleh sang bapak. Dia mungkin iba dan takut sang bapak tak sampai tujuan.

Harga semangkok soto ayam Rp10.000 itu direlakan menjadi gratis,agar pembelinya dapat menggunakan yang untuk perjalanan saja. Sebaliknya sang bapak sangat berterima kasih atas kerelaan semongkok soto ayam gratis tersebut.

Kehidupan rakyat kecil seperti ini adalah warna yang masih terjaga. Mereka masih mau berbagi terhadap sesama. Meski nasib kehidupannya keduanya mungkin tak jauh berbeda. Mereka bisa berbagi empati terhadap sesama.

Bagimana dengan Anda, apakah mau berbagi kepada sesama atau orang terdekat dilingkungan tempat tinggal Anda? Semoga saja!

Salam Pagi Cerah dari Sukabumi.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close