Obrolan Subuh dengan Pedagang : Mengaku Berjalan Kaki dari Sukabumi ke Sumbawa, Apa Anda Percaya?

obrolan subuh dengan pedagang
obrolan subuh dengan pedagang

Suatu hari setelah dua jam dari pergantian hari dikala menunggu bus di terminal, saya terlibat obrolan subuh dengan pedagang. Katanya begini, “Saya pernah berjalan kaki memakan waktu sekitar satu tahun. Saya pulang pergi Sukabumi – Sumbawa, bermodal gerobak cilok dorong.” Gerobak berisi lengkap peralatan masak setia menemani saya berjalan kaki.”

Pembuka Obrolan subuh dengan pedagang keliling itu membuat saya tertarik mendengarkannya dan cukup menghipnotis saya. Tanpa sengaja seolah membawa saya masuk ke dalam petualangannya.

Lelaki paruh baya, yang diperkirakan berusia sekitar 47 tahun, menemani saya menunggu bus. Bisa saja dia membuat saya mau mendengarkan ocehannya, apakah naluri seorang pedagang memang di takdirkan cepat akrab dengan orang lain. Oh, bapak tersebut mungkin tidak ada lagi teman untuk diajak mengobrol. Demi mengusir rasa penat dan dingin yang menusuk, saya pun mau menjadi lawan bicaranya.

Baca juga: Beranikah Anda Keluar Zona Nyaman Seperti yang Dilakukan Relawan Literasi Sabumi Volunteer?

Obrolan Subuh dengan Pedagang dan Keberangkatan yang Kepagian

Pagi itu, saya berencana pergi ke Bandung dengan menggunakan bis pertama sekitar pukul 02.00 WIB. Hari masih terlalu dini, dan ayam pun mungkin belum bangun sepagi ini.

Saya Berangkat dari rumah dengan menggunakan ojek online dan sampai depan Rumah Sakit Hermina Sukabumi. Di tempat itu, ssaya menunggu bus ke arah ke Bandung.

“Saya ternyata berangkat terlalu pagi, karena bis pertama jurusan Bandung baru ada sekitar satu jam kemudian,” ucap pedagang kopi yang mangkal persis di pintu masuk rumah sakit.

Obrolan pun mengalir, setelah beliau menanyakan tujuan akhir saya setelah sampai di Bandung. Jawa tengah adalah ucapan yang keluar dari mulut saya. Tanpa di komando beliau menceritakan kisah petualangannya, dimulai dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dia menyeberang ke pulau Bali, hingga sampai di Pulau Sumbawa.

Tanpa ada perasaan aneh, saya mendengar dan anggap setiap orang mungkin pernah melakukan perjalanan seperti beliau. Meski awalnya saya agak aneh mendengar ceritanya.

Yang membuat saya takjub dan mulai  percaya saat beliau bercerita dan tahu persis satu persatu nama wilayah di pulau lombok. Dari mulai Pelabuhan Lembar, Bandar Udara Praya Kota Lombok, hingga jalur-jalur lainnya menuju Kota Sumbawa.

Menariknya, dia mengatakan perjalanan itu dilakukan dengan berjalan kaki. Siapa yang percaya begitu saja dengan ucapannya? Menurut penuturannya, beliau sering melakukan perjalanan dengan berjalan kaki ke tempat jauh hingga Sumbawa.

Baca juga:  Hal Penting yang Patut Diketahui Sebelum Bercinta Malam Pertama

Perjalanan Menuju Sumbawa Bukan Tanpa Alasan

Kepergiannya dengan berjalan kaki sampai ke sana ternyata bukan tanpa alasan atau tanpa tujuan. Sang pedagang ternyata mempunyai peternakan di Pulau Sumbawa, peternakan yang dikelola temannya dengan sistem bagi hasil. Woow! Obrolan menarik!

Tidak cukup sampai di situ, beliau juga mempunyai usaha rumah makan di Pulau Bali. Sistem dan pengelolaan dilakukan orang lain. Dia percayakan pengembangan roda usahanya pada temannya. Pedagang tersebut juga mengaku memiliki beberapa bidang usaha lainnya di kota Semarang dan Surabaya.

Sama seperti usaha lainnya, sistem manajemen beliau serahkan langsung kepada rekan-rekannya. Dia hanya menerima input data laporan usaha setiap minggu Keren kan. Menjalankan bisnis baginya adalah modal kepercayaan. Katanya kalau mau memiliki rekan bisnis sederhana saja, dia hanya mengandal kan feeling bahwa orang itu bisa di percaya.

Tidak perlu muluk-muluk ini-itu. Semua usaha yang dijalankan dengan sistem kerjasama itu terus berjalan dan menghasilkan keuntungan baginya. (Tulisan bersambung kalau sempat menulis lagi, kalau enggak ya sampai di sini saja, hehehe).

 

Ditulis Oleh: Ipong Sabumi

Perjalanan Subuh itu sangat menginspirasi.

1 Trackback / Pingback

  1. Cara Mengatasi Imsomnia Demi Menjaga Kesehatan Anda - Sabumi Sukabumi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.