Jasa Seorang Perempuan Dibalik Pendidikan Tanah Manukur

Bu mae Sosok Dibalik Pendidikan Tanah manukur sukabumi

Sebelumnya anak-anak harus berjalan jauh, Hingga Bu Mae mengusulkan ide cemerlang sebagai seorang perempuan dibalik pendidikan Tanah Manukur Sukabumi. Bu Mae, panggilan dari Icun Maemunah. Bu Mae adalah seorang yang mungkin diturunkan dari surga oleh Tuhan. Setelah menikah dengan Pak Uu seorang ustad, beliau pindah dari Kampung Cibadak ke Kampung Manukur tahun 2011.

Satu tahun setelah pernikahan, beliau mulai menyadari permasalahan yang terjadi di Kampung Manukur. Masalahnya adalah dunia pendidikan. Anak-anak harus berjalan jauh dengan jarak tempuh 12 km ke Kampung Calincing. Hatinya bertambah iba melihat anak-anak harus merengkuh kedinginan dan harus pergi ke sekolah dengan kondisi basah. Sekolah menjadi pilihan istimewa bagi anak-anak di sana.

Kehadiranmu bak surga yang selalu dinanti anak-anak Tanah Manukur

Keresehan berbuah rasa prihatin berkecamuk di pikiran Bu Mae yang membuatnya ingin membangun sebuah sekolah, tujuannya agar anak-anak tidak perlu sekolah ke luar kampung.

Niat membangun sekolah disampaikannya kepada Pak Jamal selaku warga asli Kampung Manukur dan dikenal juga sebagai seorang ustadz. Setelah menyampaikam ide sekaligus alasan yang kuat, akhirnya Pak Jamal menyetujui pembangunan sekolah. Pak Jamal pula yang menjadi Kepala Sekolah MI Manukur.

Niat baik itu berbuah dukungan dari masyarakat sekitar. Akhirnya pada tahun 2011, MI Manukur resmi didirikan di atas tanah waqaf. Tiga ruang kelas yang sangat sederhana. Tempat belajar anak-anak hingga kini.

Cerita di atas saya tuliskan atas penuturan Bu Mae sendiri, ketika saya menjadi bagian peserta Gerakan Sukabumi Mengajar Batch 3 yang ditempatkan di Tanah manukur Sukabumi.

Baca juga: Lintas Harapan Tanah Manukur Sukabumi

Melihat Kondisi Pendidikan Daerah Pelosok Lebih Dekat dan Menemukan Sosok Bu Mae Di Tanah Manukur Sukabumi

Pertengahan januari, saya dan teman-teman dari berbagai daerah setuju terlibat dalam kegiatan Gerakan Sukabumi mengajar Batch 3(GSM Batch 3). Tanah Manukur Sukabumi menjadi tempat yang ditentukan untuk kami. Kegiatan yang akan kami lakukan adalah saling mempelajari sebuah liku kehidupan Tanah Manukur. Semua peserta harus siap sedia untuk mempelajari dan menghadapi apapun yang terjadi di dalamnya.

Aku terkejut saat kali pertama melihat surga ditengah lebatnya pepohonan yang sebagian keindahannya tertutupi ketertinggalan zaman” gumamku dalam hati.

Hari pertama tiba di lokasi, tim relawan Gerakan Sukabumi Mengajar mendatangi rumah Bu Mae untuk bersilaturohim, sekaligus meminta izin menginap di rumahnya. Saat bersalaman, Bu Mae dengan sangat rendah hati memegang erat genggaman tangan kami. Beliau berupaya agar kami tak sekalipun bisa mencium tangannya. Dari caranya bersalaman, saya langsung merasa sedang menemui seseorang yang penuh dengan ketawadhuan.

Lalu, beliau menceritakan awal mula dibangunnya MI manukur dan kegiatan yang dilakukan setiap hari. Bu Mae juga menggambarkan keadaan masyarakat di sekelilingnya.

Aku terhanyut dalam setiap ceritanya.

Menghabiskan Waktu Mendidik Muridnya dengan Segala Keterbatasan

Kegiatan yang biasa dikerjakan Bu Mae dalam sehari adalah, sejak pagi mengajar di MI. Setelah itu mendidik anak-anak di TKQ yang didirikannya pada tahun 2014. Lalu dilanjutkan mengajari anak-anak membaca Alquran setelah magrib. Bu Mae melakukan kegiatan di TKQ dan kegiatan membaca alquran di rumah beliau sendiri. Ketika menceritakan kegiatannya, saya melihat sorot mata malaikat tanpa sedikitpun mengeluarkan keluhan atau bahkan keputusasaan dari mulutnya.

Saat berbincang dengan bu Mae, beliau mengeluh tentang ruangan yang sempit untuk mengajar. Luasnya hanya 3×5 meter. Belum lagi, peralatan fasilitas mengajar yang minim, seperti ketiadaan permainan edukatif untuk anak-anak, bahan ajar dan papan tulis. Bu Mae hanya menggunakan bahan pengajarannya yang begitu sederhana dan tampak memprihatinkan. Beliau memiliki harapan dapat membangun ruangan TKQ yang lebih layak. Selain untuk kelas TKQ. Karena tempat tersebut digunakan untuk belajar membaca Al-Quran setelah magrib .

Sebagai relawan, kami mengikuti kegiatan kesehariannya. Pagi sekitar pukul 08.00 wib, seorang wanita mengampu 6 kelas dalam dua ruangan dengan sorot mata yang mampu menyihir seluruh murid. Semua muridnya langsung memperhatikan, memperhatikan dengan diam, dan tampak sangat hormat mendengarkan ucapannyaa.

Setelah itu, lantunan-lantunan doa menggema dengan nama nama indah Tuhan yang dengan syahdu. Sejurus kemudian, suasana mengajar menjadi berubah dengan diiringi tawa menjadi suasana memesona. Semoga Tuhan megijabah doa-doa yang dilantunkan dari anak-anak Tanah Manukur Sukabumi.

Baca juga: 4 Cara Membuat Pagimu Lebih Produktif

Mencoba Mengenal Keikhlasan dan Cinta dari Bu Mae dalam Mendidik Anak-Anak di Tanah Manukur

Hingga detik ini, saya tak berhasil menemukanjawaban bagaimana beliau berhasil mendidik seluruh muridnya. Beliau selalu memberikan senyum yang begitu ikhlas dan kelembutan hati. Kata demi kata yang penuh dengan hikmah dan jalan hidupnya yang penuh dengan cinta.

Saya cemburu. Beliau bisa begitu tangguh. Sedangkan, saya terus saja mengeluh menjalani hidup. Saya cemburu kepada beliau yang mengabdi tanpa pamrih. Sedangkan Saya hanya memikirkan untuk mengais gaji tanpa tahu diri. Saya cemburu kepada beliau yang begitu teduh. Sedangkan saya begitu terburu-buru mencari dunia tanpa tahu mana yang dituju.

”Ya ibu mah gaji seadanya aja neng” jawab beliau saat ditanya berapa gaji yang diterima per bulan. Saya merasa terharu mendengar gaji yang diperolehnya hanya sekitar 300 ribu rupiah perbulan. Penghasilannya tentu pas-pasan dengan fakta bahwa beliaulah satu satunya guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Jika saya berada di posisi beliau, maka dengan ringan saya mencari jalan lain dan menjejakkan langkah menuju kota. Saya takkan bisa menjadi Bu Mae. Saya akan mencari kerja dan gaji yang setara. Sedangkan beliau melakukan hal berbeda dengan memilih menetap, memberikan cintanya di tanah manukur, dan memadukan harapan anak-anak di sana untuk terus menempuh pendidikan.

Beliah sedang memupuk mimpi bagi generasi penerus dan tetap memiliki keyakinan besar bahwa anak anak MI manukur akan menjadi surga kehidupan. Anak-anak yang akan dapat mengubah peradaban di masa depan.

Seketika, saya tersentak oleh keadaan diri yang begitu dungu dan selalu terpedaya oleh waktu. Saya yang masih bermalas-malasan dan belum terpikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Sebenarnya apa tujuan hidup ini? Bu Mae melihat tujuan suci terpancar dari kelopak matanya.

Ia memutuskan untuk mencintai Tanah Manukur dan melekatkan beribu harapan dan rasa ikhlas di batinnya.

Pelajaran dari Perempuan Dibalik Pendidikan Tanah Manukur

Saya belajar bagaimana sejatinya hidup berjalan dan meyakini hakikat manfaat dari kebaikan yang diberikan di ala semesta. Selain itu, saya menemukan cinta dari sosok berwajah teduh, sabar dan ikhlas yang menjadi nafas kehidupannya.

Kita dapat belajar cara mencintai keterbatasan. Dari sebuah kekurangan menjadi sebuah kekuatan, dan akan melahirkan keindahan di masa depan. Bukan untuk menjeda lebih lama atau malah mengutuk kehidupan. Sehingga tak ingin mengubah apapun selain menjadi manusia yang terlantar.

Kita belajar mencintai kehidupan, berdamai dengan masa lalu, dan berjalan berdampingan menapaki masa depan. Toh pada akhirnya, manusia harus hidup dengan penuh perjuangkan. Tak lupa mengingat terus memberikan rasa ikhlas dan syukur atas takdir Tuhan. Semoga semua harapan berubah menjadi nyata dengan hasil anak-anak Manukur menjadi generasi penerus yang menjadi penerang bagi tanah kelahiran mereka. Memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan.

Hari itu, ketika batinku meyakini setiap ucapan beliau dan menyetujui setiap apa yang beliau kerjakan.

 

Cirebon, 5 februari 2019

Ditulis Oleh Ladhena Barnadeta

Relawan Gerakan Sukabumi Mengajar Batch 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.