Pertanyaan Ngeselin Wartawan Saat Gempa, “Bagaimana perasaan Ibu?”

pertanyaan ngeselin wartawan saat gempa

Musibah bisa menjadi berita hangat yang selalu diupdate oleh berbagai media, tetapi ada saja pertanyaan ngeselin wartawan saat gempa. Seolah mereka tidak pernah diajari panduan bertanya dan tampak miskin empati.

Kalau melihat para wartawan bertanya dari berbagai media, tidak jarang kita dan ingin mengatakan, “kok nanyanya begitu?” Apalagi ketika bertanya soal perasaan korban setelah rumahnya luluh lantak digoncang gempa. Rasanya ingin balik bertanya, bapak wartawan menjadi korban, menurut Anda?

Setelah gempa besar dengan 7 Skala Richer, suasana duka mewarnai berbagai wilayah Lombok, NusaTenggara Barat. Bahkan korbannya bertambah semakin banyak, diperkirakan setidaknya 98 orang meninggal dunia.

Rasa trauma pasti dirasakan oleh korban bencana gempa, dari perasaan pasca kejadian ketika terjadi goncangan, berlari tergesa-gesa mencari tempat yang aman. Hingga tidak menyangka melihat kondisi rumah yang hancur dan rubuh tidak bisa ditinggali seperti sedia kala.

Melihat kondisi trauma pasca gempa seperti itu, tetap ada saja liputan media pers dan pertanyaan yang keluar bikin kesel dan seolah tidak mengerti keadaan yang sedang terjadi.

Baca juga : Perintah Presiden Jokowi Penanganan Bencana Gempa Lombok

Bagaimana perasaan Ibu terkena musibah seperti ini? Pertanyaan Ngeselin Wartawan Saat Gempa

Rasanya kok ngeselin sekali ya kalau mendengar pertanyaan tersebut. Wartawan yang melakukan liputan seolah tidak melihat kondisi korban. Padahal sudah jelas, korban merasa trauma mendalam, karena terluka, kehilangan keluarga, hingga kehilangan harta benda. Belum lagi, jiwa turut terguncang ketika tidak tahu harus berbuat apa ketika gempa terjadi.

Pertanyaan ngeselin wartawan saat gempa dan bencana lain dilakukan berulang kali. Ketika ada bencana yang terjadi, saat itu pula mereka bertanya perasaan korban. Padahal, mereka mewawancarai langsung dan berada di lokasi bencana.

Menanyakan Firasat, Tanda-Tanda, dan Mimpi Para Korban Bencana

Pertanyaan ngeselin wartawan saat gempa lainnya adalah soal firasat, tanda-tanda, bahkan mimpi dari korban bencana. Siapa yang tahu bakal terjadi gempa sedahsyat itu di Lombok. Kok bisa-bisanya wartawan bertanya soal firasat.

Sang wartawan seolah menghubungkan bencana gempa dengan kejadian sebelumnya. Bisa saja kan sehari sebelumnya, kondisi sedang riang gembira bahkan tak pernah terbersit sedikit pun firasat akan terjadi gempa. Lalu, siapa yang menyangka, setelahnya harus berlarian mencari tempat aman, tanpa tahu kondisi apa yang akan menimpa mereka setelah gempa terjadi.

Tolonglah wahai wartawan, suatu kejadian tidak perlu dihubung-hubungkan dengan tanda, firasat, apalagi mimpi. Seolah mencari pembenaran, kalau gempa yang terjadi di Lombok itu, sudah diberikan petunjuk sebelumnya.

Jangan Bertanya ke Paranormal, Apalagi Hal Gaib yang Dikaitkan dengan Gempa

Setelah bencana terjadi, ada saja orang yang mengaitkan hal gaib dibalik terjadinya gempa. Apalagi kalau daerah kejadian memiliki cerita mistis. Misalnya, marahnya para penguasa alam gaib, sehingga terjadi bencana.

Pertanyaan cerita gaib sering ditanyakan oleh para wartawan. Biar semakin gaib dicarilah paranormal untuk menegaskan jawaban yang diberikan. Lalu, mengalirlah cerita mistis yang tidak ada kaitnya dengan bencana gempa yang telah terjadi.

Baca juga : Kamu Tahu Main HP sambil menyetir itu Berbahaya, Ngerti Ndak?

Anak-Anak Adalah Korban yang Tak Luput dari Ekspos Liputan Media

Dari klikdokter.com, ada beberapa kondisi yang memiliki potensi trauma dari korban bencana, antara lain: korban akan sulit menerima kenyataan yang telah terjadi, merasakan sedih yang berlaut, timbulnya rasa kesal, dan merasa bersalah ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.

Anak-anak tentu tidak luput dari kondisi trauma pasca gempa. Sehingga membutuhkan trauma healing, agar kondisi psikis mereka semakin membaik.

Nah, melihat bencana besar yang terjadi di Lombok, NTB, wartawan sebaiknya memahami bagaimana perasaan dan kondisi trautama dari korban, terutama anak-anak. Jangan ekspos anak-anak dalam liputan, karena mereka adalah korban yang paling rentan setelah berhadapan langsung dengan situasi gempa.

Bangun rasa empati terhadap para korban dan perhatikan kondisi ketika melakukan liputan media dan hindari pertanyaan ngeselin wartawan saat gempa. Siapkan pertanyaan yang diajukan dan pastikan tepat untuk diajukan kepada para korban bencana gempa.

5 thoughts on “Pertanyaan Ngeselin Wartawan Saat Gempa, “Bagaimana perasaan Ibu?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.