Sejarah Negeri

Detik-Detik Pembacaan Teks Proklamasi, Kemerdekaan Indonesia Bukan Hadiah dari Jepang

Detik-detik pembacaan teks proklamasi dimulai dari rangkaian pertemuan antara tokoh muda dan tokoh tua pendiri Negara Indonesia. Awalnya, teks naskah adalah “Maklumat Kemerdekaan”, namun dengan alasan  merupakan keputusan dari suatu badan atau pemerintah.

Sementara keputusan yang akan dilahirkan adalah kebebasan dari penjajahan dan lahirnya bangsa Indonesia yang merdeka. Oleh sebab itu, lwa Kusumasumantri Teks mengusulkan judulnya diganti menjadi “Proklamasi” .

Hingga, 17 Agustus 2021, Pukul 03.00 wib, Ir. Soekanoo, Drs. Moh. Hatta dan Subardjo melakukan rapat dalam ruang makan di rumah Laksamana Maeda. Saat ini disebut Ruang Perumusan Naskah Proklamasi. Di sana adapula Soediro (mbah), dan BM, Diah duduk di ruang agak belakang.

Penulisan Teks Proklamasi Momen Penting Kemerdekaan Negara Indonesia

Ir. Soekamo menyiapkan draft Naskah Proklamasi, sementara Drs. Moh. Hatta dan Soebardjo menuangkan ide mereka. Lalu, ditulislah teks proklamasi dalam buku catatan bergaris-garis biru dengan judul “Proklamasi”.

Kalimat pertama yang disepakati ketiganya adalah “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Susunan kata yang menjadi amanat penderitaan rakyat Indonesia. Setelah itu, konsep naskah proklamasi ditulisan dengan pernyataan kemerdekaan dengan beberapa coretan pertanda diskusi antara ketiga tokoh pendiri bangsa tersebut.

Kemudian, Konsep naskah proklamasi dibacakan Soekarno kepada para tokoh yang berada di rumah Laksamana Maeda. Setelah ditanyakan kepada orang hadir, mereka setuju dengan  semangat bergemuruh menyatakan setuju. Diakhiri dengan pernyataan oleh Ir. Soekamo “Benar-benar saudara setuju ?” Lalu dijawab “setuju”.

Saat penandatangan, timbul Perbedaan pendapat yang ingin terlibat menandatangani Naskah  Proklamasi, antara lain:

  1. Semua ikut mendatangani.
  2. Kelompok yang hadir dibagi dan satu orang mewakili penandatanganan.
  3. Ketua dan wakil ketua saja yang menandatangani.

Perdebatan tersebut diselesaikan dengan usulan Sayuti Melik agar naskah proklamasi ditandatangani Ir. Soekamo dan Drs. Moh. Hatta. Kemudian, Soekarni berteriak lantan : “Bukan, kita semua yang hadir disini, harus menandatangani naskah, cukup dua orang saja menandatanganinya atas nama rakyat Indonesia, yaitu Soekamo dan Hatta”. Muncullah kesepakatan dari semua orang dengan bertepuk tangan.

Ir. Soekamo meminta kepada Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi dan dilakukan di bawah dekat dapur, (sekarang ruang Pcngetikan Naskah Proklamasi). Ada BM. Diah menemani di sana. Konsep proklamasi yang diketik Sayuti Melik memiliki perubahan tiga kata. “tempoh” menjadi kata “tempo”. Sedangkan,  “wakil-wakil bangsa Indonesia”, diganti menjadi “Atas Nama Bangsa Indonesia”, demikian juga penulisan hari dan bulannya.

Pembacaan Naskah Teks Proklamasi dan Buktikan Kemerdekaan Bukan Pemberian Jepang

Ir. Soekarno menyatakan Pembacaan Naskah ProkJamasi diadakan dihalaman depan rumah, di jalan Pengangsaan Timur 56 (sekarang Gedung Pola). Waktunya pada pukul 10.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945.

Ir. Soekarno dan Drs. Moh. hatta yang disaksikan tokoh bangsa lainnya membaca Teks Proklamasi Kemerdekaan di awali pidato singkat. Setelah pembacaan Teks Proklamasi, maka Indonesia lahir sebagai  negara merdeka dan berdaulat.

Proklamasi kemerdekaan tersebut memicu rasa yang sama dari berbagai daerah lainnya. Sebuah dorongan batin bahwa proklamasi kemerdekaan itu harus didukung dan dijaga. Ditegaskan pula bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah penjajah Jepang. Tetapi, proses perjuangan yang diamanatkan atas nama perjuangan rakyat Indonesia. Merdeka! Selamat HUT RI ke-76.

Disadur dari buku Sejarah Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Artikel menarik lainnya: Apakah Lambang Negara Indonesia? Benarkan Jawabannya Seperti Pada Kasus Mural Jokowi 404: Not Found?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *