Sat. May 18th, 2024
    Pak Wawan Memakai Kaos Bola Bercerita Pengalaman Mengajar di Pelosok SukabumiPak Wawan Memakai Kaos Bola Bercerita Pengalaman Mengajar di Pelosok Sukabumi

    Bencana Kesehatan Pandemi COVID-19 sangat berpengaruh terhadap cara mengajar para guru, termasuk para pengajar di pelosok Sukabumi. Mereka juga harus mengajar dari rumah dan anak-anaknya diberikan materi tidak bisa dengan cara tatap muka setiap hari. Namun, mengikuti cara belajar dari rumah seperti yang disarankan pemerintah pun tidak bisa dilaksanakan seperti sekolah yang berada di perkotaan.

    Ketahuilah tekad menjadi guru honorer di pelosok Sukabumi artinya berani menjalani profesi sebagai pengajar dengan segala keterbatasan. Dari sarana sarana pendukung pendidikan tak mumpuni, tidak ada sinyal komunukasi, infrastruktur yang buruk, tidak punya gadget, akses listrik terbatas dan sebagainya. Belum lagi seorang guru harus mengajar semua kelas, dari kelas 1 sampai kelas 6. Guru honorer merangkap mengajar, sebagai guru kelas, guru wali, sekaligus kepala sekolah.

    Ketika mendistribusikan paket sembako untuk guru honorer ke beberapa lokasi di pelosok Sukabumi, Sabumi Volunteer mendapat cerita dari para guru tentang belajar di rumah. Jangan bayangkan belajar di rumah seperti yang disarankan pemerintah, kondisi pola mengajarnya lebih berat dan tidak akan sama dengan para guru yang berlokasi di kota.

    Guru Honorer Pelosok Sukabumi Memberi Materi Belajar di Rumah dari Tanjakan

    Bu Nita Guru Honorer Bercerita Pengalaman Mencari Sinyal di Tanjakan
    Bu Nita Guru Honorer Bercerita Pengalaman Mencari Sinyal di Tanjakan

    Ibu Nita seorang guru yang mengajar di MIS Al-Ghipari bercerita kalau kendala mengajar yang dialaminya adalah masalah sinyal, tidak semua murid punya handphone dan terpaksa meminta murid datang ke sekolah tiga hari sekali. Selama masa pandemi COVID-19, Bu Nita harus pergi menuju tanjakan setelah membuat materi belajar-mengajar. Tempat yang lebih tinggi dibanding kawasan lainnya, karena dari rumahnya sama sekali tidak terdeteksi adanya sinyal provider. Mau itu Telkomsel, Indosat, Tri, dan lainnya, semua tidak ada.

    “Saya mengajar itu harus mencari sinyal ke tanjakan. Tidak bisa memberi materinya dari rumah saja. Ya gitu mengajarnya jadi di tanjakan aja. Di kampung mah susah sinyal, enggak seperti di kota,” Katanya sambil tertawa. Sehingga, ia harus ke luar rumah setiap hari untuk mengirimkan bahan belajar kepada para siswanya. Belajar online tapi susah sinyal itu sunggu tidak mudah.

    Persoalan lain yang dihadapi Bu Nita adalah tidak semua orang tua mempunyai handphone. Kalau pun punya, siswa kelas 1 dan kelas 2 juga tidak bisa memakai handphone sendiri, sementara orang tuanya pergi bekerja. Orang tua tidak bisa mendampingi anak-anaknya. Sehingga siswa harus datang datang tiga hari sekali ke sekolah.

    Materi lebih baik diberikan secara langsung, agar lebih mudah dipahami anak didiknya. Meski merasakan mengajar lebih susah, ia tetap berupaya siswanya tidak ketinggalan pelajaran dari sekolah. Lokasi tempat ia berbakti di MIS AL GHIFARI berada di Kampung Sodong, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi.

    Guru Honorer Harus Mengajar dari Pintu Ke Pintu

    Sabumi Volunteer melakukan silaturahmi dengan Guru Pelosok Sukabumi
    Sabumi Volunteer melakukan silaturahmi dengan Guru Pelosok Sukabumi

    Pengalaman berbeda diceritakan oleh Pak Wawan seorang guru yang mengajar di SDN Kuta Luhur Kampung Cijangkar, Desa Bantar Kalong, Kecamatan Warung kiara Kabupaten Sukabumi. Ia mengatakan, “Untuk sistem pembelajaran di pelosok, kita terkendala terkendala fasilitas tidak semua walimurid mempunyai handphone dan terkendala jaringan internet juga.” Padahal handphone dan sinyal internet menjadi sarana dasar mengajar online dari rumah. Jadi, otomatis gerakan belajar dari rumah tidak bisa dilaksanakan oleh Pak wawan.

    Oleh karena itu, ia mengajar dengan cara pintu ke pintu. Ia datang ke rumah-rumah dari kampung ke kampung. Cara tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan dengan mengajar secara online. Jadi ia tetap berkeliling kampung setidaknya 3 kali dalam seminggu. Cara belajar pintu ke pintu tentu tidak mudah juga, ketika datang ke rumah siswanya, anak-anaknya tidak ada di rumah dan pergi bermain. Tidak mudah menemukan, anak yang bermain di kampung. Jadi terpaksa belajar di tunda hari berikutnya.

    Meski begitu banyak kendala, guru pelosok Sukabumi tetap berupaya memberikan materi pelajaran. Mereka tidak mau anak-anaknya tertinggal dalam belajar. Toh, tidak bisa belajar di rumah bisa disiasati dengan mengajar dari tanjakan dan datang mengunjungi pintu ke pintu anak-diri mereka.

    Baca juga : Pemuda Pamacan Cicantayan Sukabumi VS Pandemi COVID-19

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *