Lintas Harapan Tanah Manukur Sukabumi

harapan tanah manukur sukabumi
harapan tanah manukur sukabumi

Mataku tertuju pada dua ruang kelas dengan halaman tanah liat yang licin membuatku membeku dalam beberapa detik, adakah harapan Tanah Manukur Sukabumi ini?

Bagaimana merajut masa depan jika fasilitas pendidikan masih sangat terbelakang? Bagaimana membangun harapan anak-anak sekolah jika sebuah fasilitas masih terbilang mengenaskan? bagaimana mau mencintai negerinya jika masyarakat dijadikan alat permainan tanpa hak pendidikan yang layak?

“Dari semua tanya tentang Tanah Manukur yang sebuah pesinggahan sendu yang mengantarkanku kembali pada kata rindu.”

Kampung manukur adalah sebuah kampung terepencil di sukabumi yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Tegal Buleud, Kabupaten Sukabumi. Selain akses jalan yang masih sulit dilewati, kampung tersebut masih sangat menyedihkan dari segi sektor pendidikan. Saya bisa mengatakannya karena pengalaman menjadi tim relawan Gerakan sukabumi mengajar Batch 3.

Saya turut melakukan perjalanan menuju lokasi di Kampung Manukur. Belum pun sampai, hal yang terlintas dipikiran malah menghardik diri sendiri, “Apakah sanggup berada di Kampung Manukur Sukabumi yang terpencil ini dalam beberapa hari?

Baca juga: Nyanyian Kehidupan Sabumi Volunteer yang Penuh Warna

Akankah Ada Harapan Tanah Manukur Sukabumi

Sebagai orang yang baru mendatangi kampung ini, pertanyaanya tentu tentang adakah harapan Tanah Manukur Sukabumi ini? Kesan pertama melihat kampung ini adalah kampung dengan label “menyedihkan”. 

Meski jalan yang dilalui sulit, syukurnya akses menuju lokasi sedikit lebih mudah, kendaraan bisa melintas masuk ke Kampung Manukur Sukabumi. Kondisi jalan tak berbeda dengan kondisi fasilitas listriknya. Aliran listrik kampung manukur sudah ada sejak lima tahun lalu, namun kapasitas penerangan yang sangat minim.

Sehingga, ketika kami menyelesaikan kegiatan seharian, kami harus menggunakan senter pada malam hari, karena kondisi penerangan yang sangat tidak menyenangkan. Sebagian besar rumah warga memang redup seperti mengharapkan terang.

“Bagaimana bisa sebuah negeri kecil bernama Manukur bisa-bisanya tertinggal dari peradaban”.

Memulai Secerca Harapan di Kampung Manukur

Dingin masih menyusup, tetapi tidak memengaruhi semangat pagi sekelompok anak manukur. Mereka berjalan dengan melewati terjalnya kondisi fisik jalan. Tim relawan Gerakan Sukabumi mengajar yang masih merasa lelah segera sadar akan kedatangan mereka di pagi buta.

Sedangkan, jam masuk sekolah pun masih menunggu hingga pukul 08.00. Mereka seperti alarm kehidupan. Kami terbangun, segera bersiap, dan memulai pelajaran di kelas untuk berbagi pelajaran kehidupan.

“Aku merasa terkesiap saat kali pertama mendengar 99 nama Tuhan dilantunkan dengan syahdu oleh mereka. Anak-anak yang begitu legowo menjalani kehidupan mereka.

Kami bertemu dengan seorang guru. Orang-orang biasanya memanggil dengan sebutan Ibu mae. Dia adalah orang yang berjasa terlibat dalam pendidikan di sekolah sejak awal pembangunan MI Manukur. Harapan Tanah manukur Sukabumi itu harus dimulai, agar ada hasilnya. Sehingga, Ibu Mae pun menjadi guru di sana.

Beliau adalah satu satunya guru yang mengajar enam kelas di dua ruangan. Gajinya ya ala kadarnya. Selain itu, Ibu Mae juga sebagai pengajar di TK pada siang hari dan melanjutkannya dengan mengajar baca alqur’an kepada anak-anak. Sabar dan sabar tak kenal waktu. Begitulah kiranya deskripsi untuk dirinya yang tanpa ada ujungnya untuk berkorban demi pendidikan di Kampung Manukur.

Siswa MI Manukur berjumlah 36 orang. Sebagian besar anak-anak bertempat tinggal jauh dari fasilitas sekolah. Mereka harus berjalan jauh untuk bisa belajar seperti anak-anak lainnya.

“Aku ingin mengabadikan sebuah coretan tentang kisah tanpa basa basi. Mengenalkan sebuah harapan yang harus didengar oleh banyak orang tentang kondisi pendidikan yang tak sama dengan yang diterima oleh anak-anak di perkotaan.”

Begitu pula, pulang sekolah anak-anak harus berjalan jauh menuju rumah masing-masing. Semangat dari anak-anak untuk belajar yang membuat Ibu Mae seolah tak bisa menghentikan waktu. Beliau tak ingin harapan anak-anak untuk menempuh pendidikan menjadi pupus.

Melihat Kehidupan Masyarakat Manukur dan Permasalahannya Lebih Dekat

Setelah berkegiatan di MI Manukur, relawan pun bercengkrama degan masyarakat sekitar. Mata Pencaharian Masyarakat di Kampung Manukur adalah sebagai petani padi dan buah-buahan. Hasil pertanian tersebut dijual ke luar kampung. Kampung Manukur dapat dikatakan terlalu indah untuk disinggahi hanya dalam hitungan hari.

Segala pemandangan yang ada mampu menyihir hati untuk betah tinggal berlama-lama. Tim relawan merasakan kesejukan, setiap kali memandang hutan yang mengelilingi sekolah dan rumah-rumah warga. Meski kondisinya menjadi menyeramkan ketika gelap mulai menerpa.

Oh ya, meski dihadiah oleh Tuhan dengan keindahan alamnya, ada masalah yang terjadi dan masih dalam proses eksekusi, yaitu tidak adanya tempat pembuangan sampah. Masyarakat terbiasa membuang sampah di sungai dan sembarang tempat. Tidak berbeda dengan anak anak MI Manukur. Anak-anak pun membuang sampah sembarangan. Tidak adan TPA (tempat pembuangan akhir) di dekat kampung.

Masalah tersebut tentu sangat serius, karena dapat mengundang masalah baru lainnya, seperti kerusakan alam, penyakit, kotornya kondisi lingkungan,  dan masih banyak lagi. Pemerintah Daerah mungkin harus melihat kondisi warganya dan terutama bagi anak-anak. Anak-anak calon pemimpin negeri yang membutuhkan fasilitas pendidikan mumpuni serta kondisi lingkungan tempat tinggal yang mendukung pertumbuhan mereka.

Baca juga: Tips Yang Membuat Perayaan Valentine Bersama Istri Bakal Diingat Selamanya

Pengalaman turut dalam kegiatan Sukabumi Mengajar tentu tak terlupa, terutama tentang kehidupan masyarakatnya. Ada begitu banyak pelajaran yang dapat dicerna. Sebuah gambaran berharga tentang bagaimana memulai kehidupan dengan pengorbanan dan harapan. Hidup menjadi pendidik di daerah pelosok dan menjadi panutan.

Ketika kita harus beranjak dari tanah manukur, ada sebuah rasa yang tertinggal. Harapan tanah Manukur Sukabumi semakin besar perihal kehidupan mereka dan merayakan duka harus meninggalkan manisnya kebersamaan. Semoga dapat berjumpa kembali dalam sebuah tawa kebersamaan di masa depan.

“Menuliskan cerita tentang mereka tak ubahnya seperti meneriaki laut, tidak akan ada habisnya.”

 

Sukabumi, 18-31 januari 2019.

Ditulis Oleh Relawan Gerakan Sukabumi Mengajar Batch 3.

Sumber : https://ladhena2701.wordpress.com/2019/02/02/melintasi-plosok-negeri-bagian-selatan-sukabumi/

1 Trackback / Pingback

  1. Jasa Seorang Perempuan Dibalik Pendidikan Tanah Manukur - Sabumi Sukabumi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.