Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini
Puisi Sabumi

Puisi: Sunyi

Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini

Sunyi menjalar menambah syahdu kehampaan duniawi.
Segelintir makhluk benci saat sunyi menyapa dan mengelabui.
Mereka meronta membabi buta menghindari tatkala ia menghampiri.

Tapi, bagiku ketiadaannya sebuah nestapa.
Merpati kecil kehilangan induknya tidak lebih tersiksa dari aku yang dibuat meracau tak karuan tanpanya.

Bagaimana bisa tidak menderita? Ia adalah alunan merdu pengisi palung jiwa.
Aku dibuai mabuk tak berdaya, terlupa dari tipuan dunia yang mempesona.
Ia menari gemulai membelai sembari berbisik mengingati, “hei manusia, jangan kau terlelap terlalu dini, terhampar kekuasaanNYA yang kau perlu renungi!”

Sepasang mata yang hendak meredup pun kembali terbelalak, bak seekor domba yang sadar di intai sang singa, terperanjat lalu sigap penuh waspada.

Wahai sunyi.
Bagiku kau penuh dengan harmonisasi bunyi yang menentramkan hati
Suara semilir angin, rintik hujan dan sahutan hewan melata membuatku lupa akan kekacauan semesta
Denganmu ku tersadar bahwa kemewahan dunia yang tak seberapa dibanding kasih sayangNYA yang tak terkira
Hanya kepasrahan yang kau ajarkan untuk menghadapi olok olok dunia
Belai mesra diri ini agar tidak lalai lalu terbengkalai
Kutau kau yang paling setia menemani saat orang orang meninggal kan ku sendiri.

Sukabumi 18 april 2019

Karya : Daniel Wiloka
Baca Puisi Lainnya:

Tentang Raga Perempuan

Dia Sang Pecinta

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close