Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Pendidikan Anak

Selamat Hari Buku Nasional: Membicarakan Akses Buku Bagi Anak-Anak di Pelosok Tidak Akan Ada Akhirnya

Selamat Hari buku Nasional, 17 Mei 2020. Bagi Sabumi Volunteer membuka akses buku kepada anak-anak pelosok sangat penting. Tidak ada kata akhir untuk membicarakan dan memperjuangannya. Dari kegiatan membuat taman baca masyarakat di pedesaan, kami membuktikan kalau bukan minat baca yang rendah, justru memang akses terhadap buku yang rendah. Salah rasanya kalau ada orang yang mengatakan anak-anak pelosok tidak suka membaca buku.

Dari buku pula kami tahu, permasalahan literasi itu bukan soal baca membaca saja. Namun, ada masalah infrastruktur jalan, bangunan sekolah, dan pemahaman masyarakat tentang pendidikan. Tak jarang kami mendengar, untuk menjaga bangunan sekolah saja, orang tua siswa harus udunan. Tidak semua sekolah mendapatkan bantuan pemerintah, terutama sekolah swasta. Faktanya masih banyak fasilitas bangunan sekolah yang tidak layak.

Belum lagi persoalan guru honorer yang mengajar penuh keterbatasan. Bukan rahasia lagi, pendapatan mereka pun alakadarnya. Meski begitu, mereka tetap memberikan materi pelajaran sampai mempertaruhkan nyawa sendiri. Mereka harus berjalan dari rumah ke sekolah menghabiskan waktu berjam jam. Jalan kaki melewati jalan terjal hingga mengikuti aliran sungat, Kalau hujan turun. sebagian guru terpaksa harus menginap di sekolah.

Hari Buku Nasional: Getirnya Membicarakan Akses Buku dan Dunia Pendidikan di Pelosok Indonesia

Kesan Sabumi Sabumi Volunteer selama bergerak adalah menjadi relawan literasi tidak mudah dan melewati semua pahit getir dalam mendistribusikan buku. Dari masalah sulit mengumpulkan buku, mencari donasi, hingga gerakan kami sering dinilai berseberangan dengan pemangku kebijakan. Permasalahan pendidikan menjadi semakin terkuak, ketika masuk ke berbagai daerah pelosok Sukabumi.

Sabumi Volunteer biasanya menyalurkan buku sesuai kebutuhan masyarakat di suatu kampung. Buku yang disalurkan biasanya 60 persen khusus buku anak-anak, 15 persen untuk dewasa, dan 25 persen buku yang dibutuhkan masyarakat. Buku yang dibutuhkan masyarakat biasanya terkait buku pertanian, budidaya tanaman, peternakan, buku memasak, dan lainnya.

Kabar Kondisi buruknya akses jalan, infrastruktur bangunan, dan sarana pendukung pendidikan lainnya tentu tidak disenangi pihak tertentu. Meski, tidak ada maksud memberikan kabar tak baik, melainkan untuk menunjukkan perlu ada yang diperbaiki di dalam dunia pendidikan di Sukabumi. Dibalik itu, kami ingin mengajak keterlibatan semua pihak untuk membantu memperbaiki sarana dan fasillitas sekolah.

Gerakan Sabumi Volunteer Mengandalkan Silaturahmi dan Sinergi

Kabar baiknya, gerakan Sabumi Volunteer selalu didukung oleh banyak pihak juga, terutama dari komunitas yang terus melakukan gerakan sosial. Gerakan literasi itu harus mengandalkan silaturahmi dan sinergi. Kalau tidak menggandeng berbagai komunitas bisa-bisa kegiatan berhenti di tengah jalan. Namun jangan sampai terjadi, karena anak-anak yang tempat tinggalnya jauh dari perkotaan Sukabumi membutuhkan buku dan sarana pendukung pendidikan lainnya.

Kami mengajak berbagai komunitas ikut kegiatan literasi sesuai konsentrasi pada bidang masing-masing. Kami datang ke pelosok dan melakukan pemetaan masalah dulu. Sepulangnya dari wilayah yang dikunjungi akan dicatat permasalahan yang ditemui. Lalu, mengajak komunitas untuk bergabung melakukan kegiatan sosial terkait dunia literasi.

Tidak jarang juga, malah komunitas sosial menawarkan kerjasama untuk membantu anak-anak di pelosok Sukabumi. Menariknya, bantuan juga datang dari teman-teman mahasiswa dari berbagai universitas, seperti UPI, UNPAD, UI, UMMI Sukabumi, Trisakti Jakarta dan banyak lagi. Sekali lagi silaturahmi dan sinergi adalah kunci dalam melakukan gerakan sosial.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendukung pendidikan bagi anak-anak di daerah pelosok Indonesia. Kuncinya adalah niat saja dan mau melihat secara langsung permasalahan yang terjadi. Bagi kami, buku adalah pagar pembatas dari jurang kebodohan. Selamat Hari Buku Nasional, meski sejatinya setiap hari adalah hari buku. Buku mesti dibaca agar pengetahuan kekal di isi kepala.

Baca juga: Manfaat Baca Buku yang Mungkin Belum Kamu Tahu Sebelumnya

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close