Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Pendidikan Anak

Jawaban Bagi Anda yang Bertanya Kenapa Mall, Pasar, Kantor Dibuka Tetapi Sekolah Masih Ditutup

Pertanyaan nyeleneh masih saja muncul mempersoalkan kenapa mall, pasar, kantor dibuka, tetapi sekolah masih ditutup. Seolah orang yang bertanya kondisi yang dibandingkan tersebut sama. Padahal sangat berbeda. Padahal, Pemerintah membuka mall, pasar dan pasar untuk menggerakkan ekonomi suatu daerah. Itu pun dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, Tujuannya agar masyarakat tidak semakin menjerit tertekan kehidupannya, karena tidak bisa bekerja dan mencari nafkah.

Sementara sektor pendidikan tidak bukan penggerak ekonomi, namun memiliki risiko yang besar jika pemerintah membukanya sekarang. Apakah Anda rela anak-anak dibiarkan begitu saja belajar secara tatap muka di sekolah. Tega melepas mereka berhadapan langsung dengan risiko tertular risiko virus corona. Sebagian orang malah masih saja berbicara, jangan takut dan pandemic COVID-19 hanya konsiprasi belaka. Sehingga, menuntut sekolah juga harus dibuka secepat mungkin. Berikut jawaban yang bagi Anda yang terus bertanya kenapa sekolah masih ditutup.

COVID-19 itu Nyata dan Sangat Berbahaya Alasan Sekolah Masih Ditutup

Tahukah Anda  bahwa kasus positif COVID-19 mencapai 81.668 orang, 40.345 orang diantaranya sembuh. Namun jumlah orang yang meninggal mencapai 3.873 orang. Data tersebut menunjukkan bahwa COVID-19 itu sangat berbahaya. Virus corona itu sangat nyata dan berbahaya yang menyebabkan ribuan kematian hanya dalam rentang waktu 4 bulan saja. Jangan sampai keluarga Anda terpapar dulu, baru menyadari begitu berbahayanya virus yang awalnya dari Cina ini. Jadi pantas saja sekolah masih ditutup.

Buat Anak Kok Coba-Coba Mending Sekolah Ditutup Dulu

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menegaskan bahwa pembukaan sekolah atas dasar perlindungan kesehatan peserta didik. Anak-anak harus dalam kondisi aman dan nyaman belajar tatap muka di sekolah. Jadi, buat anak kok coba-coba ingin belajar tatap muka di sekolah dengan kondisi belum usainya darurat kesehatan virus corona di Indonesia.

Siswa Cenderung Bergerombol

Anak-anak akan sering bergerombol ketika bermain bersama teman-temannya. Tidak mudah mengatur jaga jarak kepada mereka, terutama usia PAUD dan pendidikan dasar. Belum lagi ketika jam istirahat bermain kejar-kejaran dan bisa bergabung antar kelas. Sama halnya, anak-anak sekolah tingkat pendidikan menengah yang gemar berkumpul, bahkan sampai ke pinggir jalan sepulang sekolah.

Menjaga Protokol Kesehatan tidak Mudah Bagi Anak-Anak Sekolah

Orang tua saja sulit menjaga protokol kesehatan COVID-19. Banyak orang dewasa yang keluar rumah tidak pakai masker. Bahkan, malah berkumpul tak menjaga jarak satu sama lain. Begitu pula anak sekolah akan sulit menjaga protokol kesehatan. Siapa yang bisa memastikan mereka mampu menjaga jarak, masker selalu terpakai, dan ingat rajin cuci tangan. Guru dan pihak sekolah akan mengalami kesulitan memantau seluruh siswa.

Sekolah Masih Ditutup Karena Membutuhkan Dana Besar untuk Menyiapkan Protokol Kesehatan

Tidak sedikit orang tua siswa yang meminta keringanan membayar iuran sekolah. Bahkan, adapula minta digratiskan. Ada atau tidak ada virus corona, lembaga pendidikan membutuhkan biaya untuk operasional sekolah. Begitu pula ketika masa Pandemi COVID-19 terjadi, pengelola sekolah membutuhkan dana besar untuk menyiapkan protokol kesehatan. Sementara, gaji guru dan biaya lainnya tidak mungkin dikurangi. Emangnya, orang tua mau diminta dana tambahan untuk menyediakan perlengkapan sesuai prosedur protokol kesehatan.

Jika Satu Siswa Kena COVID-19 Akibatnya Satu Sekolah Tutup Akan Menjadi Viral dan Tercemar Nama Baiknya

Anda mungkin pernah baca berita tentang anak sekolah di Korea Selatan. Beberapa hari sekolah dibuka, tersiar kabar terjadi penularan virus corona pada siswa. Alhasil sekolah terpaksa ditutup sekolah. Enggak kebayang kalau terjadi di Indonesia. Satu siswa terjangkit virus corona, maka sekolah langsung tidak boleh melakukan aktivitas. Ditutup. Lalu beritanya menjadi viral. Nama sekolah tercemar. Berita demi berita akan keluar dan malah mempertanyakan tentang kebijakan sekolah dibuka. Ujung-ujungnya pemerintah yang disalahkan dan dibilang tidak becus.

Sudahlah, wahai orang tua. Tidak usah membandingkan sektor ekonomi dengan sektor pendidikan. Bersabarlah menemani anak belajar dari rumah. Kapan lagi berbulan-bulan menjadi pendamping belajar bagi buah hati Anda. Anak-anak adalah masa depan, jangan coba-coba membiarkan belajar tatap muka di sekolah di tengah masa Pandemi COVID-19.

Tulisan tentang Anak lainnya: Belajar Tatap Muka Di Sekolah Akan Dimulai di Daerah Zona Hijau, Orang Tua Memiliki Hak untuk Memutuskan

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close