Sat. Apr 20th, 2024
    Belajar di Rumah DiPerpanjang, Apa Kata KPAIBelajar di Rumah DiPerpanjang, Apa Kata KPAI

    Belajar di rumah diperpanjang oleh Pemerintah Melalui Dinas Pendidikan, karena penyebaran virus corona semakin meningkat. Apa kata KPAI soal pola pembelajaran saat ini? Alasan utama tetap diminta belajar di rumah berhubungan dengan jaminan keselamatan siswa, guru, kepala sekolah, tenaga pendidikan, dan masyarakat umum. Masa pembelajaran pun diperpanjang hingga tanggal 29 mei 2020.

    Pembelajaran di rumah rupanya tidak mudah. Orang tua, anak, dan guru malah ikut stres. Orang tua mengalami kesulitan mengajar anaknya. Anaknya tertekan dimarahi Ayah dan Ibunya. Sementara guru harus memenuhi tuntutan pihak sekolah mengajar sesuai kurikulum. Padahal, Menteri Pedidikan berkali-kali mengingatkan belajar di rumah harus menyenangkan dan mengutamakan penguasaan tentang kecakapan hidup. Tetapi, pola belajar di rumah belum pernah terjadi sebelumnya dna mengejutkan bagi orang tua, anak, dan pihak sekolah juga.

    Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  pun menyoroti sistem pembelajaran masa darurat kesehatan COVID-19. Ada banyak pengaduan dari siswa di berbagai daerah berkeluah kesah tentang tugas dari guru yang banyak dan harus dikerjakan dengan deadline yang sempit. Sedangkan persoalan yang dihadapi guru adalah menyiapkan bahan ajar yang mendadak dan harus memiliki kuota juga untuk mengajarkan kepada siswa. Ada pula persoalan lain, anak yang tidak punya kuota malah mendatangi temannya biar bisa melihat materi pembelajaran. Akhirnya jadi berkumpul di rumah. Tidak terjadi psysical distancing atau menjaga jarak.

    Rekomendasi KPAI Tentang Belajar di Rumah Diperpanjang

    KPAI memberikan sejumlah rekomendasi terkait persoalan pembelajaran di rumah masa COVID-19, agar tidak memunculkan masalah baru. Berikut rekomendasi KPAI:

    • KPAI  mendorong para pembuat kebijakan pendidikan membangun aturan bagi para guru dalam proses home learning dapat memberika pola belajar yang menyenangkan dan bermakna buat semua. Bukan menjadi beban yang dapat mengganggu mental dan fisik anak.
    • Pembelajaran daring dijadikan sarana saling motivasi dan membangun rasa ingin tahu. Selain itu membuat hubungan antara guru, anak, dan orang tua semakin kuat dan membuat bahagia. Kompetensi akademik bukan menjadi prioritas, melainkan kompetensi survive (bertahan hidup). Selian itu mengajarkan untuk hidup sehat dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal sekitar.
    • Belajar di rumah secara online membuat para guru dan siswa tetap berinteraksi secara virtual. Sehingga hubungan orang tua dan anak tetap terjalin secara normal. Bukan cuma memberikan tugas seperti kebiasaan di sekolah. Cara pembelajaran bisa dengan membangun kreativitas lain yang membuat semangat dan rasa ingin tahu anak.
    • Tugas tidak hanya diberikan dalam bentuk tugas. Tetapi bisa dengan praktik, misalnya membuat hand sanitizer, mengurus satu tanaman, membuat cerita, dan lain-lain.
    • Kepala sekolah tidak perlu menuntut proses pembelajaran dan  melaporkan hasil kegiatan bersama anak. Karena guru menjadi menekan anak, agar cepat menyelesaikan tugas-tugasnya.

    Dari saran tersebut diharapkan anak-anak lebih bahagia belajar di rumah. Orang tua dan guru pun bukan malah membuat anak semakin tertekan. Apalagi dari orang tua yang malah curhat betapa stres mengajar anak di rumah. Lah, kalau mengajari anak dengan marah, anak-anak mungkin tak bisa menyerap pelajaran. Malah merekam sifat orang tua yang sangat emosi terhadap mereka.

    Jadi, mari membuat pola pembelajaran, agar semua orang tetap bahagia menghadapi masa darurat COVID-19 yang belum tahu waktunya kapan akan berlalu.

    Baca juga : Ngomongin Pendidikan Pelosok Sukabumi Bersama Gerakan Sukabumi Mengajar yang Katanya Gawat Darurat

     

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *