Tue. May 28th, 2024
    Beban Nadiem Makarim Soal Dunia PendidikanBeban Nadiem Makarim Soal Dunia Pendidikan

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjelaskan kondisi pendidikan pada Masa Pandemi COVID-19 kepada Deddy Corbuzier. Indonesia sedang menghadapi krisis besar, antara lain krisis kesehatan, krisis ekonomi. krisis pembelajaran (pendidikan) pada masa pandemi COVID-19. Satu sama lain saling terkait, dan pemerintah  tidak bisa membuat kebijakan hanya fokus pada satu krisis saja.

    Semua krisis harus dimitigasi untuk membuat keputusan yang lebih tepat. Menurut Nadiem Makarim, berdasarkan survey masyarakat sebagian besar orang tua siswa ingin dilakukan relaksasi. Jika kebijakan tersebut diambil, maka akan menyenangkan bagi orang tua. Namun, ia menegaskan tugasnya bukan membuat masyarakat bahagia, tetapi melakukan yang terbaik di dunia pendidikan bagi masyarakat Indonesia. “Apa yang diinginkan masyarakat belum tentu keputusan yang terbaik,” kata Menteri Pendidikan kepada Deddy Corbuzier.

    Menteri Nadiem mengetahui banyak orang tidak sepakat atas kebijakannya. Namun, Tugasnya harus melakukan perubahan di dunia pendidikan. Ia memahami pasti banyak kritik. Dari rencana kerja yang dilakukannya. Salau satu contoh, ia mengaku belum menyiapkan rencana kerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghadapi masa pandemi COVID-19 yang sedang terjadi. Masalah semakin rumit, apalagi ada masalah lain di dunia pendidikan Indonesia  terkait penilaian PISA. Kualitas pendidikan di Indonesia kerap berada di posisi terbawah di bandingkan Negara lain.

    Menteri Nadiem Makarim Berupaya Melakukan Terbaik Demi Pendidikan Anak-Anak Indonesia

    Pada masa Pandemi virus  corona yang belum usai, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim terus berupaya menjalankan program yang telah direncanakan. Salah satunya Program Organisasi Penggerak (POP). Ia menilai transformasi dunia pendidikan tidak bisa dilakukan semuanya oleh pemerintah. Kegiatan perubahan dunia pendidikan harus melibatkan organisasi-organisasi yang ada di sekitar masyarakat.

    Maka, ia terus mengajak organisasi masyarakat yang besar untuk terlibat dalam Program Organisasi Penggerak. “Saya akan melakukan apapun untuk merangkul semua unsur masyarakat. Semua organisasi harus dirangkul seperti NU, Muhamamadiyah, dan PGRI. Mereka mengetahui tentang sistem pendidikan kita,” cetusnya dengan tegas.

    Semua pihak harus dilibatkan untuk mendukung dunia pendidikan. Tujuannya hanya satu, demi anak-anak Indonesia. Saat ini masa yang krisis, pendidikan satu generasi dirugikan karena masa Pandemi COVID-19. Banyak Negara tidak siap menghadapi wabah virus corona.

    Anak-Anak Harus Sekolah Tatap Muka

    Krisis pembelajaran harus dicari jalan keluar. Kasus terburuk jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilakukan lebih lama, anak-anak tidak melakukan interaksi dengan guru. Bagi Nadiem cara pembelajaran tatap muka penting sekali. Pembelajaran tidak bisa terpisah dari kondisi psikososial anak-anak. Kedekatan hubungan antara guru dan siswa tidak bisa terjalin melalui pembelajaran aplikasi “zoom”. Untuk menjalin hubungan yang kuat dengan guru harus ada belajar secara tatap muka.

    Banyak orang tua mengeluhkan bahwa anak-anaknya sudah tidak menemukan rutinitas belajar. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah terkait struktur proses kegiatan. Misalnya belajar 4 jam untuk belajar di sekolah tidak akan terganggu kegiatan lain, seperti bermain gadget. Sementara, belajar di rumah terlalu banyak gangguan, sehingga anak dikonsentrasi untuk belajar.

    Maka, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan mencari celah agar dapat dilakukan pembelajaran tatap muka dengan guru. Caranya dengan membuat Kurikulum pendidikan darurat. Hal itu untuk menjawab keluhan orangtua yang melihat beban pekerjaan rumah (PR) anak-anaknya menumpuk. Maka dibuat penyederhanaan kurikulum, Guru dan siswa tidak bisa dipaksa untuk menuntaskan silabus pembelajaran. Siswa tidak mungkin menyerap semua materi pembelajaran dari rumah.

    Maka, peran orang tua dibutuhkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Tetapi tidak semua orang tua mempunyai kesempatan mengajar anak dan mengetahui cara mendidik anak-anaknya di rumah. Maka, Kemendikbud membuat cara pembelajaran yang yang kontekstual. Anak belajar bersama dengan orang tuanya dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya belajar memasak sambil menghitung bahan-bahan yang dibutuhkan. Anak bisa membuat makanan sambil belajar menghitung.

    Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim Akan Serba Salah

    Nadiem Makarim menyadari kebijakan yang dibuatnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan serba salah. Misalnya kebijakan relaksasi pendidikan. Anak-anak akan tertinggal kegiatan belajarnya jika terus dilakukan dari rumah. Namun, pemerintah Kesulitan bagi Pemerintah untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas kondisi kesehatan anak-anak.

    Sekolah yang dibuka di zona hijau dan kuning diperbolehkan melakukan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah.  Tetapi, aturannya sangat ketat. Dari keputusan Pemda, sekolah menyiapkan checklist, ada izin dari Pemda dan sekolah minta izin dari Komite Sekolah, dan izin terakhir dilakukan orang tua. Jika orang tua tidak mengizinkan, maka tetap melakukan pembelajaran jarak jauh.

    Nadiem Makarim tidak mempersoalkan kebijakannya akan banyak dinilai salah, asalkan demi kepentingan anak-anak Indonesia. Ia terus berupaya mengembangkan pendidikan yang lebih baik dengan berbagai perubahan kebijakan.

    Sumber: Youtube Deddy Corbuzier

    Baca juga: Guru di Jawa Barat Akan Mengikuti Rapid dan Swab Test, Disdik Melakukan Verifikasi Sangat Ketat

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *