Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Parenting

Ketika Anak Membeli Pertemanan dengan Sepotong Kue

Anak kadang kala melakukan hal yang ajaib untuk mempunyai kawan, salah satunya membeli pertemanan dengan sepotong kue atau menawarkan mainan. “Di rumah aku banyak mainan, mending main ke rumah aku saja,” secara sadar tak sadar itu adalah contoh anak ingin si teman bermain dengannya.

Masalahnya, cara “membeli pertemanan” tersebut bertujuan agar teman yang diajak bermain tersebut tidak memilih berkawan dengan teman lainnya. Kalau terjadi seperti itu, orang tua selayaknya memperhatikan perilaku anaknya. Bukan tidak mungkin berpengaruh hingga usia dewasa kelak.

Cara menjalin hubungan pertemanan dengan “membeli” tersebut tentu tidak sehat, bukan tidak mungkin anak malah dapat dimanfaatkan oleh teman-temannya.

Anak Membeli Pertemanan Mungkin Terjadi Karena Beberapa Hal

  1. Anak ingin dihargai oleh teman-temannya. Dia mungkin ragu teman-teman mau bermain dengannya. Hingga cara menawarkan makanan dan mainan dianggap mudah mengajak teman untuk bermain dengannya
  2. Orang tua kurang mengajari cara berinteraksi. Anak tidak mengetahui bagaimana menjalin hubungan pertemanan. hingga, menemukkan cara kalau memberi makanan dan mainan dapat menarik perhatian anak-anak lain seusianya.
  3. Dia melihat perilaku orang tua dan orang lain di sekitarnya. Misalnya, \”Kamu belajar yang rajin, biar dibelikan es krim,\” anak menjadi sadar kalau pemberian imbal balik akan menerima suatu keuntungan. Sehingga, dia tahu tidak susah menarik perhatian seseorang, suaplah dengan makanan atau mainan.
  4. Pola kebiasaan tersebut harus mendapat perhatian orang tua dan mengajari anak dalam berinteraksi. Kalau tidak, anak dapat menganggap memberi suatu kepada teman agar bisa bergaul merupakan hal biasa-biasa saja.\r\n

Baca juga :

RACUN DALAM PERSAHABATAN, APA YANG HARUS DILAKUKAN?

MENIKMATI SAJIAN MAKANAN DAN MINUMAN TRADISIONAL SUNDA DI SUKABUMI : IMAH ABAH TEMPATNYA

Mencari Cara Bergaul Tanpa Memberikan Sesuatu Kepada Teman

Dimulai dari kebiasaan orang tua dengan tidak memberi “award” setelah anak melakukan sesuatu. Misalnya, tidak perlu membelikan es krim kalau dia berhasil menghabiskan makanan. Cukup katakan, kalau kamu tidak makan bisa kelaparan dan berujung menjadi sakit.

Anak perlahan akan mengerti kalau tindakan yang dilakukannya mempunyai risiko yang merugikan dirinya sendiri.

Cara interaksi orang tua kepada si kecil menjadi tiruan yang paling dicontoh. Kalau orang tua mau menyediakan waktu untuk berteman dengan anak-anak, maka dia akan belajar cara bergaul dari orang terdekat. Ayah dan bunda sebaiknya menyediakan waktu untuk bermain bersama.

Sesibuk apapun Ayah dan Bunda, ada saja kok waktu untuk bermain. Misalnya, bercengkerama dengan anak sebelum pergi dan pulang kerja. Mereka akan belajar cara bersosialisasi dari kedua orang tuanya.

Sambil bermain dengan anak, ajari mereka cara berhubungan sosial dengan orang lain, misalnya menyayangi teman, mau menolong, perhatian, dan lainnya. Katakan mengajak teman bermain tidak selalu dengan memberi makanan atau mainan, sikap yang baik akan membuat teman senang bermain bersama.

Ajari anak untuk tidak menerima imbal balik jika memberi sesuatu atau berbuat baik kepada teman. Anak akan belajar kalau berteman dengan sikap yang baik malah akan menarik perhatian anak seusianya dibandingkan harus memberikan sesuatu.

Selanjutnya, beri pengertian kalau harus pintar pula memilih teman. Tidak perlu mengikuti perilaku dan ucapan kasar dan temannya. Ajarkan pula tidak memaksa teman dalam berteman, bahkan sampai menguasai dan malah melakukan bullying kepada teman saat bermain bersama.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close