Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Opini

Tidak Ada PR dari Sekolah, Dukung Yuk Imbauan Mendikbud Muhadjir Effendy

Saran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk tidak ada PR dari sekolah sungguh menyenangkan bagi anak. Mereka sudah lelah menuntut ilmu sejak mentari di sudut barat, Kalau dipikir-pikir untuk apalagi memberi tugas kepada anak-anak.

Sejujurnya sebagai bagian dari relawan literasi senang sekali mendengan imbauan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk mengkaji pekerjaan rumah (PR) kepada anak didiknya.

Menteri Muhadjir effendi ingin guru melihat fungsi dari PR tersebut. Dia meminta PR tidak menjadi beban bagi siswa. Kalau dipikir-pikir tidak siswa saja terbebani, orang tua dan seisi rumah bisa tersulit emosinya ketika melihat anak tidak rewel karena kesulitan mengerjakan PR.

Tidak Ada PR dari Sekolah dan Memberi Waktu Anak Menikmati Hidupnya

Orang tua juga pernah sekolah toh dan juga merasakan jengkelnya ketika guru memberi seabreg tugas di rumah. Hidup terasa penuh tugas sekolah. Tidak cukup rasanya menulis, membaca, hingga mengerjakan soal di sekolah. Rumah pun terpaksa menjadi sekolah berikutnya karena PR yang hampir tiap hari diberikan oleh guru.

Imbauan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan selayaknya diberi tepukan tangan. Dia mencoba untuk memahami apa yang dirasakan oleh siswa. Sehingga, kalau tidak penting-penting amat, cukuplah belajar tuntas di sekolah. Kalau dilanjutkan di rumah ya namanya tidak tuntas.

Ingat Pak Menteri tidak melarang PR, namun hanya mengimbau gungsi PR yang diberikan oleh guru. Kalau tidak mestidiberi tugas, tidak usah diberikan. Lagian, seberapa besar sih hasil dari menyuruh siswa harus mengerjakan PR di sekolah.

Ada penelitian menarik yang pernah dilakukan di Duke University tentang PR sekolah dari tahun 1987 hingga 2003. Penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan kalau PR tidak memiliki dampak positif pada prestasi siswa.

Dikutip dari Tirto.id, Profesor Harris Cooper dari Duke University menjelaksan memang PR dapat mendorong pekembangan kemampuan belajar siswa. Tetapi kalau PR diberikan terlampau banyak justru menjadi beban. Alih-alih menambah pengetahuan, malah Cuma berharap memperoleh nilai yang tinggi.

Baca juga :

JANGAN MALAS-MALAS, KAMU HARUS TAHU MANFAAT JALAN PAGI BAGI TUBUH YANG RINGKIH

MANFAAT SENAM IRAMA BAGI KESEHATAN TUBUH, AYO IKUTI GERAKAN INDAHNYA YA!

Kok Membantu Orang Tua dan Menjenguk Teman yang Sakit Jadi PR Segala

Dibalik imbauan memikirkan kembali tidak ada PR dari Sekolah, Pak Menteri memberi masukan serupa seperti kata Presiden Joko Widodo. PR dari sekolah tidak mesti dalam bentuk akademis. Siswa bisa mengerjakan PR dalam bentuk lain.

Seperti kegiatan sosial yang bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya membantu orang tua di rumah. Coba angkat tangan siapa anaknya yang suka membantu orang tua di rumah?

Nah nilai dari tindakan sosial tersebut diharapkan membentuk karakter dari siswa. Jadi kepalanya tidak diisi oleh pelajaran dari sekolah. Tidak cukup apa belajarnya, sampai-sampai rumah pun menjadi tempat belajar secara akademis.

nAnak-anak yang sakit pasti senang dikunjungi temannya. Tumbuh rasa empati dan rasa berkawan yang akrab. Itulah karakter yang diharapkan dari kegiatan sosial. Bagi Presiden hal tersebut penting, sekali lagi tentang karakter yang harus ditanamkan kepada anak-anak.

Tidak ada PR dari sekolah pun menguatkan hubungan orang tua dan anak. Setelah anak lelah dari sekolah dan orang tua selesai berkerja, ada waktu luang untuk bercengkrama di rumah.

Berbagi cerita dari hari yang terpangkas dari kegiatan masing-masing. Masa sih ndak rindu berbagi cerita dan beban kehidupan bersama anggota keluarga.

Jadi, imbauan Menteri tidak ada PR dari sekolah didukung ramai-ramai. Anak senang dan orang tua tidak perlu stress turut mengerjakan tugas matematika, IPS, IPA, dan seabreg mata pelajaran lainnya.

Ditulis oleh Admin

Dari Sabumi Volunteer

Kredit Foto : Sabumi Volunteer

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close