Setelah Ridwan Kamil Menjadi Gubernur (Quick Count) dan Dampaknya Terhadap Dunia Pendidikan di Sukabumi

Ridwan Kamil Menjadi Gubernur

Pemilihan Gubernur Jawa Barat menghasilkan Ridwan Kamil Menjadi Gubernur versi Quick Count. Sosok yang biasa dipanggil kang Emil menjadi calon pemimpin tentu menjadi warna baru bagi kepemimpinan di Jawa Barat. Siapa yang tidak kenal dia, sosok muda, pintar membangun gedung dengan cita rasa tinggi, eksis di media sosial pula.

Namun, apakah standar kepopuleran kang Emil tersebut cukup ampuh dijadikan acuan pembangunan terutama dalam  sektor pendidikan. Modal Beken, namun tidak mampu meningkatkan mutu dan memberi akses pendidikan berkeadilan apa gunanya?

Jangan senang dulu atas siapa pun yang terpilih menjadi gubernur baru bagi Provinsi Jawa Barat. Kita harus bertanya bagaimana kebijakan calon gubernur di dunia pendidikan.  Jangan-jangan ya sarua we, sibuk dengan jabatannya sendiri sebagai orang nomor satu dan membiarkan kondisi pendidikan begitu-begitu saja.

Baca juga : Suara Dari Sabumi Volunteer Relawan Literasi Sukabumi

Janji Ridwan Kamil Menjadi Gubernur Tentang Pendidikan yang Adil di Provinsi Jawa Barat

Sebelum Ridwan Kamil Menjadi Gubernur, dia pernah mengatakan bahwa warga yang pernah ditemuinya ternyata mengeluhkan keterbatasan infrastruktur, salah satunya di bidang pendidikan, selain persoalan kondisi jalan raya, sarana pertanian, industri dan pariwisata. Dari persoalan pendidikan pula, Kang Emil berjanji ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Provinsi Jawa Barat.

Pada sebuah acara Mimbar Pemimpin Indonesia (MIMPI) dengan tema ‘Ngaruwat Kandidat dan Ngaruwat Jabar’ yang diadakan Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Jalan Dipatiukur, Rabu (25/4/2018). Ridwan Kamil berjanji meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan pemerataan pendidikan dengan cara membebaskan biaya bagi masyarakat ekonomi rendah. Kang Emil tampaknya menyadari kondisi angka partisipasi sekolah yang masih jauh dari harapan.

Bagaimana sebenarnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan di Provinsi Jawa Barat?

Dari data Kemendikbud tahun 2017, APK ternyata rendah mulai dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). APK tingkat SMP (termasuk SLB dan Paket B) Provinsi Jawa Barat tahun 2017 adalah 74.12 persen. Dari 2.485.000 orang penduduk usia 13-15 tahun, Peserta didik keseluruhan yang menempuh pendidikan SMP adalah 1.841.903 orang.

Jumlah yang tak jauh berbeda dengan APK tingkat Sekolah Menengah Atas SMA sekitar 73,89 persen. Jumlah penduduk usia 16-18 tahun adalah 2.500.000 orang dan yang berpastisipasi sebagai peserta didik tingkat SMA adalah Tingkat SMA (termasuk SLB, SMK, dan Paket C) adalah 1.847.573 orang. Setidaknya, dari pendidikan jenjang SMP dan SMA terdapat sekitar 700.000 orang yang tidak melanjutkan sekolah.

APK sebagai ukuran dari tingkat partisipasi sekolah tanpa menilik ketepatan usia sekolah pada jenjang pendidikannya.Semakin nilai APK dapat menyentuh angka 100 persen, maka dapat menunjukkan sebuah wilayah dapat menampung penduduk usia sekolah sesuai harapan Pemerintah Daerahnya. Tetapi persoalannya, peningkatan mutu dunia pendidikan seperti gombalan dalam setiap pilkada. Sektor pendidikan tampaknya selalu menjadi janji kampanye dari setiap cagub. Setelah Ridwan Kamil menjadi gubernur perlu dicolek-colek juga, agar terus ingat akan janjinya selama kampanye.

Toh gubernur yang lalu juga memiliki niat yang sama dengan menggratiskan pendidikan, tetapi kenyataannya sulit diwujudkan karena dana dari APBD dan alokasi yang terbatas. Untuk diketahui, Dana APBD Provinsi Jawa Barat sekitar Rp 34 Triliun pada tahun dan 20 persen untuk bidang pendidikan. Namun, dana 20 persen tersebut perlu didalami lagi bagaimana pembagian alokasinya. Jangan-jangan untuk pendukung sarana dan prasana sekolah sedikit banget anggarannya.

Wahai Gubernur Kami yang Baru, Dukunglah Dunia Pendidikan Anak-Anak di Sukabumi

Sabumi Volunteer sebagai penggiat literasi memiliki pengalaman dan melihat langsung bagaimana kondisi infrastruktur pendidikan di daerah pelosok Kabupaten Sukabumi. Kalau Ridwan Kamil menjadi Gubernur dan mau melihat lebih jauh ke daerah yang jauh dari kota dengan sarana jalan yang bikin adrenalin semakin meningkat ketika melaluinya. Kang Emil mungkin bisa semakin melotot matanya kalau melihat tidak sedikit bangunan sekolah yang sudah mengenaskan.

Selain masalah fasilitas sekolah yang jauh dari kesan layak. Ada begitu banyak persoalan lain, seperti kesulitan mengakses buku beserta peralatan sekolah lainnya, ketidakmampuan orang tua membeli baju seragam, akses jalan yang tidak memadai, dan banyak persoalan lainnya. Persoalan tersebut berdampak pada partisipasi sekolah anak-anak di pelosok Sukabumi.

Apabila dilihat dari APK tingkat Sekolah Dasar (SD) hanya 84.88 persen. Setidaknya dari 275.091 orang penduduk usia 7-12 tahun, terdapat 233.495 orang yang menempuh pendidikan tingkat SD (termasuk SLB dan Paket A). Sehingga, 41.612 orang yang tidak mengenyam pendidikan tingkat SD di Kabupaten Sukabumi.

Baca yuk : Dari Donasi Buku untuk Rumah Baca Bambu Biru Harapan Dimulai

Jumlah APK tingkat SMP jauh lebih rendah hanya 61.08 persen dan APK SMA sekitar 59.36 persen. Tingkat partisipasi sekolah tersebut tidak sejalan dengan Program Wajib Belajar 12 tahun yang dicanangkan oleh Pemerintah. Wong tingkat SD saja sudah banyak yang tidak mengenam pendidikan lagi kok.

Kondisi pendidikan yang dijabarkan dalam tulisan ini adalah fakta dari rendahnya tingkat partisipasi pendidikan di Kabupaten Sukabumi dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat dan persoalan yang harus diatasi. Ketika nanti Kang Ridwan Kamil menjadi Gubernur jangan lupa lebih sering jalan-jalan ke berbagai daerah, terutama singgahlah ke pelosok Kabupaten Sukabumi. Lihatlah kondisi yang sebenarnya dari fasilitas pendidikan dan tunaikanlah janjimu selama kampanye demi pendidikan yang berkeadilan di Provinsi Jawa Barat.

 

Kredit Foto : http://pemiluupdate.com/

2 thoughts on “Setelah Ridwan Kamil Menjadi Gubernur (Quick Count) dan Dampaknya Terhadap Dunia Pendidikan di Sukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.