Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Opini

Pengelola atau Relawan Taman Baca Masyarakat Kok Mencuri Tulisan dan Memasukkannya dalam Buku Tanpa Izin

Sejujurnya, saya sudah menahan sekali untuk tidak menulis ini, tetapi relawan taman baca masyarakat mengambil atau “mencuri” tulisan cukup mengejutkan, lalu dicetak ke dalam sebuah buku adalah pelanggaran berat. Bagi saya, enggak tahu kalau buat kamu sang pengelola atau relawan taman baca masyarakat yang notabene nya konsen di dunia literasi itu tidak boleh dilakukan.

Ceritanya begini, di pagi yang cerah dan disibukkan dengan mengatur sebuah blog yang sedang down, saya mendapati tulisan saya diposting di facebook. Menariknya, tulisan itu sudah tercetak di dalam sebuah buku. Hati kecil saya tertawa tergelitik, kok bisa tulisan itu ada dalam sebuah buku?

Selidik punya selidik, rupanya Buku itu dicetak atas prakarsa Forum TBM Sukabumi. Saya tidak kenal mereka siapa. Tidak pernah mengikuti kegiatannya. Hal yang saya tahu, Rumah Baca Bambu Biru, taman baca dulu sering saya datangi terlibat di dalamnya.

Saya pernah menulis profil Rumah Baca Bambu Biru. Nah, Profil Rumah Baca Bambu Biru itu yang diambil dan dimasukkan ke dalam sebuah buku. Anehnya, tanpa sepengetahuan saya sebagai penulisnya.

Anehnya lagi, buku itu sudah dipublikasi dan disebarkan, yang kabarnya ada acara bedah bukunya segala. Kok bisa?

Penyelesaian yang Diinginkan : Memberi Pesan Peringatan Kepada Pengurus Forum TBM Sukabumi dan Meminta Tulisan Ditarik dari Buku Tersebut

Untuk teman-teman relawan literasi, terutama Sabumi Volunteer, saya sering menekankan pentingnya mampu menulis sendiri. Satu per satu relawan sudah mulai menulis. Begitu pula pengelola Rumah Baca Bambu Biru. Jadi saya bercita-cita pengelola Rumah Baca Bambu Biru juga bisa menulis sendiri. Tanpa meminta saya terlibat lagi menulis tentang kegiatan rumah baca tersebut.

Harapan itu sudah terpenuhi, karena pengelola Rumah Baca Bambu Biru sudah sering menulis kegiatannya sendiri. Tetapi fatalnya dia memberikan tulisan saya kepada Forum Taman Baca Masyarakat Sukabumi.

Katanya, tulisan tersebut awalnya memang tidak diminta untuk menjadi buku. Forum TBM Sukabumi hanya meminta Profil saja. Jadi tidak ada ihwal menulis buku segala. Pada perkembangannya tidak terjadi seperti itu, tulisan malah masuk ke dalam sebuah buku.

Hingga, saya mendapati tulisan saya masuk dalam buku yang sudah dicetak, diedarkan, dan diklaim untuk sosialisasi kegiatan TBM di sukabumi. Sosialisasi kok mencuri tulisan orang lain.

Untuk penyelesaian masalah, saya sudah meminta Pengelola, Pengurus, atau apapun namanya dari Forum TBM untuk menarik tulisan saya. Tetapi tampaknya tidak disetujui. Saya malah diminta mengerti, karena buku sudah dicetak.

Apakah mereka mengertik kalau tulisan saya yang ada dibuku mereka, dicuplik tanpa izin penulisnya?

Karena ketidakmampuan mereka menarik isi tulisan dalam buku tersebut, saya bilang ya anggap aja dari sisinya selesai. Tetapi tidak dengan saya. Karena mengambil tulisan tanpa izin penulis adalah pelanggaran berat.

Seremeh temeh apapun tulisannya ataupun setidak penting apapun isinya, saya tidak bisa mengerti kok Penggiat/ relawan literasi yang bagian dari Forum TBM Sukabumi malah melakukan hal tersebut.

Mohon Dimengerti Relawan TBM Mencuri Tulisan Tanpa Izin itu Pelanggaran Berat

Untuk relawan literasi mau itu dari Sabumi Volunteer, Taman Baca/ Rumah Baca atau apapun klaim komunitasnya, mengertilah, proses menulis itu mengandalkan pikiran. Tulisan tidak dibuat dengan bim salabim apalagi dengan sekedar meniup lilin. Tidak, menulis ada proses kreatif yang harus dihargai. Maka, agar tidak kepepet mengambil tulisan orang lain, menulislah sendiri.

Jadi maaf sekali, tulisan ini saya buat sebaik-baiknya, agar relawan literasi mengerti bahwa mengambil tulisan dan mencetaknya dalam sebuah buku adalah pelanggaran berat.

“Mohon dimengerti,” Seperti pesan yang dikirim pleh penggiat di Forum TBM Sukabumi kepada saya. Saya diminta untuk mengerti kalau tulisan saya sudah terlanjur dicetak. Saya hanya bisa mengerti kalau tulisan itu benar-benar ditarik dari buku cetakan pertamanya. Tidak boleh juga dicetak untuk edisi selanjutnya.

Tertanda, Phadli Hasyim

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close