Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Opini

Mengalami Pelecehan Seksual Online Seperti di Sturbucks, Laporkan dan Mari Bersuara

Kasus Pelecehan Seksual Online di Sturbucks belum berhenti menjadi pembicaraan dan kasusnya telah ditangani pihak kepolisian. Kasus yang dimulai dari cuitan pengguna twitter tersebut mendapat perhatian banyak netizen. Anehnya, dibalik banyaknya netizen mendukung video tersebut diunggah dan menyoroti kelakuan buruk pegawai Sturbuck, ada juga pengguna twitter yang malah menyalahkan korban. “Pakaian korban dinilai tidak sopan.” Padahal, dari video yang beradar sangat jelas, pelaku melakukan zoom CCTV untuk melihat gambar secara jelas.

Pakaian sering menjadi alasan untuk menyalahkan para korban pelecehan seksual. Perempuan berpakaian terbuka dinilai sebagai penyebab korban menjadi objek bagi pelaku. Padahal ada banyak pemberitaan dan penelitian yang menyebutkan bahwa pelecehan, kekerasan, pemerkosaan seksual bukan terjadi karena pakaian. Tetapi karena cara pandang dan relasi kuasa bahwa perempuan adalah obyek seksual. Apapun kondisinya kalau pandnagan tersebut dipertahankan, selamanya perempuan tidak akan merasa aman ketika berada di ruang publik.

Kejadian di Sturbucks tidak bisa dianggap sepele. Karena pelaku berani melakukan pelecehan dengan di tempat kerjanya dengan memanfaatkan CCTV. Parahnya lagi video tersebut disebarkan melalui media sosial.

Tahukah kamu, eiring perkembangan teknologi informasi, penyebaran video yang dilakukan pelaku tersebut termasuk dalam bentuk kekerasan seksual, disebut Kekerasan berbasis gender online (KBGO) atau KBG yang difasilitasi teknologi. Kenapa perbuatan tersebut disebutkan melecehkan, karena ada niatan pelaku untuk menjadikan perempuan sebagai objek seksual.

Angka Pelecehan Seksual Online Seperti di Sturbucks Semakin Meningkat di Indonesia

Komnas Perempuan mencatat terjadi kenaikan yang sangat tinggi terhadap Kasus Kekerasan Seksual online. Pada tahun 2019, mereka mendapat pengaduan 281 kasus dibandingkan 97 kasus pada tahun 2018. Bentuk Kekersan Berbasis Gender ada dalam beberapa bentuk memperdaya (cyber grooming), pelecehan online (cyber harassment), peretasan (hacking), konten ilegal (illegal content), pelanggaran privasi (infringement of privacy). Selain itu adapula ancaman distribusi foto/video pribadi (malicious distribution), pencemaran nama baik (online defamation), dan rekrutmen online (online recruitment).

Tindakan dari pelaku termasuk bentuk pelecehan seksual secara online (cyber harassment). Pelaku membagian konten online yang menggambarkan perempuan sebagai objek seksual. Oleh karena itu tidak bisa dibenarkan. Tindakan seorang pengguna twitter yang memposting kelakuan buruk pegawai Sturbucks membuktikan kejadian pelecehan bisa terjadi dimana saja.

Apa yang Bisa Dilakukan Jika Menjadi Korban Kekerasan Seksual Online

SAFEnet sebuah organisasi yang memiliki misi melindungi hak untuk mengekspresikan diri dan merasa aman didaring menyebutkan ada beberapa hal yang dapat dilakukan jika menjadi korban. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mendokumentasikan hal yang terjadi secara detail, termasuk membuat dokomuen secara kronologis.
  2. Lihat situasi yang dihadapi, jika mungkin hadapi pelaku. Jika situasi berbahaya, pantau situasi yang dihadapi untuk memutuskan tindakan yang bisa dilakukan dengan aman.
  3. Menghubungi bantuan dengan mencari tahu individu, lembaga, organisasi, atau institusi terpercaya yang dapat memberikan pendampingan. Misalnya membuat laporan melalui komnas perempuan.
  4. Di dunia online, korban bisa membuat opsi untuk melaporkan akun pelaku yang dinilai mencurigakan, membuat tidak nyaman, atau mengintimidasi diri dari platform online yang digunakan.

Pembelajaran dari kasus pelecehan seksual di Sturbucks adalah setiap orang bisa bersuara ketika melihat dan membaca tindakan pelecehan secara online. Jangan diam dan menganggap kasus tersebut hal yang biasa, karena kekerasan seksual bisa terjadi di ruang-ruang yang tidak pernah kita pikirkan. Pelaku tidak akan merasa bersalah jika perilaku mereka dibiarkan begiu saja.

Baca juga: Anak-Anak Perempuan Korban Pemerkosaan Yang Tersiksa Psikologis dan Mati Tak Berdaya

 

 

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close