Membandingkan Film Bumi Manusia dan Novelnya, Tetapi Bukan itu Persoalannya

film Bumi Manusia

Setelah Mas Hanung (manggil mas biar terkesan akrab) didapuk sebagai pembuat film Bumi Manusia, komen sinis merajalela kemana-mana. Apalagi bintang Minke itu ditokohkan oleh Iqbaal. Sungguh jadi membayangkan Dilan kembali ke masa lalu.

Oh ternyata dia reinkarnasi dari Minke toh. Pembaca Bumi Manusia tampaknya enggan Tokoh imajinernya disamakan dengan Dilan.

Ada persoalan lain pada Mas Hanung-nya. Dia kok membandingkan Film Bumi Manusia dengan Ayat-Ayat Cinta. Aneh toh Novel dengan ide perlawanan disandingkan dengan film rumah tangga samawa. Jelas ini melecehkan Novel dahsyat lintas jaman itu.

Baca juga : Dari Donasi Buku untuk Rumah Baca Bambu Biru Harapan Dimulai

Bukan Soal Film Bumi Manusia semata, Persoalannya Bukan itu

Gara-gara perdebatan soal Film Bumi Manusia dan novelnya, saya punya ide menyandingkan karya Ayah Pidi Baiq dan Pak Pram di rak buku. Ya biarin toh, saya susun bersebelahan toh tidak mengusik mutu dari karya masing-masing.

Lagian ini rak buku saya. Bagi saya, isi novel yang kuat bakal kekal hingga akhir jaman. Isinya pun tidak akan berubah, meski filmnya dan tokohnya tidak bagus sekalipun.

Tetapi, persoalannya bukan sekedar mengulas bagaimana kualitas Film nantinya dan dibandingkan isi novelnya, tetapi mencari cara agar buku-buku ini dibaca oleh anak-anak tingkat sekolahan. Paling enggak, anak SMA sudah membacanya lah.

Agar tidak ada yang bertanya lagi, “Heboh banget, siapa sih Pramoedya Ananta Toer itu. Seperti apa Novel Bumi Manusia itu. Kok netizen tua heboh banget mempermasalahkan Novel itu mau dijadikan film.”

Tahu tidak, saya masih ingat di bangku kuliahan yang kampusnya di Jatinangor itu, seorang dosen pernah bertanya, “Buku apa yang kalian baca, Sudah baca Novel Bumi Manusia belum?” Seisi ruangan terdiam terpaku. Ya tentu saja bingung, itu Novel milik siapa. Syukurnya ada satu dua orang yang tahu. Jadi enggak norak-norak amat.

Syukurnya lagi, saya sudah punya uang dan mampu membeli Novel ini dan terpampang manis di rak buku dan suka dilihatin orang yang datang ke rumah. Kalau ada yang mau minjem, rasanya berat mengijinkannya.

Baca juga : Sulit Memperoleh Tunjangan Hari Raya, Mari Kita Adukan Ke Kemnaker

Membeli buku itu tidak murah om dan tante. Om dan Tante sibuk mengulas buku dan film, tetapi Lupa kalau begitu banyak generasi penerus yang kesulitan membeli buku. Ya akhirnya generasi tua saja yang membaca buku itu.

Kalau jaman ini masih sangat kuat mendebat Film Bumi Manusia dan Novelnya, ya tidak tahu jaman anak-anak kita. Mereka ngerti ndak sama novelnya. Wong jaman sekarang saja sudah ada yang bertanya, “Siapa itu Pramoedya Ananta Toer?” Udah syukur novelnya mau difilmkan Mas Hanung.

2 thoughts on “Membandingkan Film Bumi Manusia dan Novelnya, Tetapi Bukan itu Persoalannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.