Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Opini

Melihat Lebih Jauh Persoalan Buta dan Melek Huruf di Hari Aksara Internasional

Kalau membicarakan Hari Aksara Internasional selalu saja membahas kondisi buta aksara di negeri ini. Sementara, kurang melihat lebih jauh lagi persoalan dari pembahasan buta dan melek huruf itu sendiri.

Pemerintah boleh saja punya klaim keberhasilan telah meningkatkan pengenalan aksara sudah mencapai 97,93 persen. Lihat saja sisanya, tinggal 2,07 persen lagi. Namun tetap saja cukup banyak, karena dibalik angka tersebut terdapat 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun) yang belum melek aksara. Permasalahannya, apa sebenarnya manfaat klaim keberhasilan tersebut bagi mereka yang bersusah payah keluar dari kebutaan membacanya?

Tidakkah lebih baik, jika pemerintah juga memberi penjelasan bagaimana persoalan keaksaraan dan buta huruf di berbagai di berbagai daerah Indonesia. Lalu, apa pentingnya merayakan Hari Aksara Internasional bagi rakyat yang buta huruf di Indonesia?

Mencoba Memahami Literacy and Skill Development, Tema Hari Aksara Internasional dari UNESCO

Tahun ini, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mengusung tema “Literacy and Skills Development”. Tema tersebut mencoba untuk mengidentifikasi pendekatan yang efektif dan terpadu untuk pembelajaran keaksaraan seiring dengan pengembangan keterampilan. Harapannya, pendekatan keaksaraan dapat mempersiapkan pembelajaran seumur hidup, memperbaiki kehidupan dan sumber penghidupan.

Tahukah Anda bahwa setidaknya 750 juta orang masih kurang dalam keterampilan membaca dasar. Dua pertiga dari 750 juta orang tersebut adalah wanita dan 102 juta orang diantaranya adalah remaja berusia 15 hingga 24 tahun.

Selain itu, pada waktu yang sama lebih dari 192 juta orang pengangguran dan kesulitan memperoleh sumber penghidupan yang layak. Karena tidak bisa membaca dan gagal memenuhi tuntutan pasar dunia kerja. Mereka yang buta huruf dan berlatar belakang pendidikan rendah semakin terpuruk dalam jerat hidup kemiskinan.

Menurut Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, kemampuan dasar melek aksara adalah dasar bagi setiap orang menuju kebebasan secara sosial dan ekonomi. Sehingga Hari Aksara Internasional tidak hanya membahas melek dan buta huruf saja. Tetapi melihat dampak yang ditimbulkan dari kemampuan dasar keaksaraan bagi kehidupan, seperti gunanya untuk mencari pekerjaan atau mendirikan usaha bagi mereka yang telah melek huruf. Kemampuan keaksaraan dengan tujuan kemampuan ekonomi.

Misalnya, program yang mendapatkan penghargaan UNESCO Confucius Prize for Literacy berupa menggabungkan pengajaran keaksaraandan ICDL (International Computer Driving License) kemampuan dasar komputer di Iran. Program tersebut merupakan gerakan keaksaraan sembari mengenalkan computer bagi anak-anak dan orang dewasa.

Fokus program tersebut terutama kepada perempuan, anak perempuan di daerah pedesaan, kaum minoritas, pekerja pabrik, dan orang-orang di tahanan.Sehingga, program keaksaraan memiliki tujuan yang jelas berupa peningkatan kemampuan dari melek aksara dikembangkan ke arah kemampuan untuk menggunakan komputer. Lalu, bagaimana tujuan perayaan Hari Aksara Internasional yang mengusung Tema dari Kemendikbud, “Mengembangkan Keterampilan Literasi yang Berbudaya”. Apa tujuan yang dinginkankan dari tema tersebut?

Mengembangkan Keterampilan Literasi yang Berbudaya dan Manfaat Melek Aksara

Dari website resminya, Kemendibud menjelaskan tema Hari Aksara Internasional di Indonesia adalah “Mengembangkan Keterampilan Literasi yang Berbudaya”. Adapun tujuannya melihat jenis keterampilan keaksaraan yang dibutuhkan dalam menavigasi masyarakat dan mengeksplorasi kebijakan keaksaraan yang efektif.

Pemerintah tampaknya ingin mencari cara untuk kebijakan keaksaraan yang lebih cocok di Indonesia, negeri yang luas dengan karakter sosial dan budaya yang berbeda. Bagi Sabumi volunteer sendiri, pemerintah memang harus melihat lebih jauh persoalan keaksaraan bukan hanya membanggakan angka peningkatan melek huruf setiap tahun.

Sabumi Volunteer yang bergiat di gerakan literasi di Sukabumi melihat bahwa persoalan keaksaraan terjadi karena kondisi keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi masyarakat pelosok pedesaan. Kasus-kasus yang sering ditemukan adalah akses terhadap buku yang begitu sulit dan fasilitas pendidikan yang bisa dikatakan sangat parah. Betul memang sekolah membantu siswanya menjadi melek huruf, tetapi kondisinya memprihatinkan dengan situasi belajar alakadarnya.

Pemerintah tak salah mengklaim angka melek huruf meningkat semakin pesat karena mereka sudah sekolah yang sudah dinikmati masyarakat desa, paling tidak sampai tingkat SD. Namun, anak-anak harus berjalan cukup jauh untuk mencapai sekolah dengan kondisi infrastruktur jalan yang tak memadai. Kondisi semakin runyam, ketika ongkos ojek tidak murah, sementara orang tua berpenghasilan rendah dengan pekerjaan yang tak menentu.

Belum lagi membicarakan nasib anak-anak, terutama anak perempuan yang putus sekolah. Mereka akan berkutat hidup dalam lingkaran kemiskinan dan tak berdaya. Akhirnya generasi mereka akan bernasib sama dengan orang tua mereka yang menikah muda dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan juga.

Andaikan saja, pemerintah mau membuat kebijakan praktis, misalnya pengadaan buku bacaan yang berkualitas, memperbaiki infrastuktur jalan desa yang buruk, dan merenovasi sarana belajar yang lebih baik. Anak-anak mungkin bisa menikmati dunia melek membaca dengan lebih bersemangat dan lepas dari kondisi ketertinggalan yang selama ini terjadi. Semoga saja bisa diwujudkan.

Selamat Hari Aksara Internasional 2018

Dari Sabumi Volunteer

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close