Krisis Regenerasi Anak Mileneal di Negeri Padat Penduduk

regenerasi anak mileneal

Jumlah penduduk Indonesia kian banyak, namun apa manfaatnya dari pekerjaan sektor informal yang justru kehilangan regenerasi anak mileneal. Mereka enggan menekuni pekerjaan yang dirasa melelahkan dan tidak sesuai zaman.

Populasi penduduk Indonesia bertambah 4,81 juta jiwa menurut proyeksi Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Tahun 2018, jumlah penduduk ditaksir 265 juta jiwa, dibandingkan tahun 2017, mencapai di angka 262 juta jiwa. Jumlah tersebut telah berhasil membawa negara ini ke peringkat empat sebagai negara terpadat di dunia.

Untuk menahan laju pertambahan pertumbuhan penduduk, berbagai berbagai program pemerintah sudah diluncurkan jauh-jauh hari. Seperti program Keluarga Berencana (KB). Tetapi bagaimana hasilnya? Slogan dua anak cukup tampanya hanya berarti bagi ASN (Aparatur Sipili Negara). Dua orang anak mendapat subsidi dana dari pemerintah.

Baca juga : Menikmati Bentang Alam Gili Lawa Pulau Komodo

Apa Keuntungan Jumlah Penduduk Tersebut Bagi Negeri ini?

Sudah sejak jaman dulu Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah terkenal dengan kekayaan aneka ragam adat dan budayanya. Ada berbagai macam suku dan ras sejak jaman dulu sudah hidup berdampingan dengan penuh damai.

Selain mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Berbagai karya yang sudah penduduk Indonesia toreh kan pun sudah tidak terhitung lagi jumlah dan bentuknya. Aneka ragam hasil karya banyak sudah dihasilkan oleh masyarakat Indonesia yang sudah terkenal di dalam bahkan sampai ke luar negeri.

Tetapi, semua bentuk kekayaan tersebut tidak berarti ketika anak-anak era mileneal malah kehilangan keinginan untuk mengelola itu semua. Era milenial yang diiringi serbuan dunia industri yang kian maju, sangat berdampak sekali kemampuan pengelolaan sumber daya alam.

Era globalisasi dan semakin pesatnya perkembangan jaman saat ini. Secara tidak langsung mulai mengikis pondasi budaya yang sejak dulu sudah tertanam yang menjadi warisan para leluhur kita terdahulu. Hal yang paling tampak adalah anak-anak mileneal enggak melirik berbagai jenis mata pencaharian yang dilakoni generasi sebelumnya.

Regenerasi Anak Mileneal Tidak Melirik Pekerjaan Sektor Informal        

Mereka enggan bergelut dalam bidang pekerjaan yang dirasa melelahkan, seperti pengrajin tradisional, petani, nelayan dan bidang informal lainnya.

Bidang-bidang sumber mata pencaharian yang menjadi bagian dari warisan leluhur bangsa ini. Sekaligus yang menjadi ciri khas atau budaya negara ini. Mau tidak mau, kita harus mengakui kehilangan regenerasi anak mileneal sebagai bibit penerusnya.

Pada bidang pertanian sudah sangat sulit ditemukan anak muda yang benar-benar konsen menggeluti bidang tersebut. Selain permasalahan lahan pertanian yang semakin sempit, yang tergerus roda pembangunan di berbagai sektor.

Perlahan mulai menelan areal lahan pertanian menjadikan lahan alih fungsi yang tidak lagi mampu memproduksi hasil pertanian. Rasanya sudah menjadi bukan hal yang aneh ketika negeri agraris ternyata minim regenerasi petaninya. Lahan perlahan mengering, tak diolah, dan akhirnya dijual.

Pesatnya pembangunan seketika menyulap lahan terbuka menjadi permukiman padat. Ditambah lagi permasalahan tentang tidak adanya rasa bangga jika masih berpredikat sebagai seorang petani sekarang ini.

Para pengrajin dan pengusaha kayu yang menghasilkan aneka bentuk furniture pun kini mulai resah. Karena  melihat regenerasi anak mileneal saat ini. Mereka bersusah payah untuk mengajak anak muda yang mau melanjutkan usaha bidang tersebut di kemudian hari.

Seperti halnya para petani dan bidang-bidang lainnya. Nasib pengrajin pandai besi pun tidak jauh berbeda nasib nya mulai hilang termakan zaman.

Baca juga : Berbagi Ruang Diskusi Komunitas Relawan Literasi Demi Pendidikan di Pelosok Sukabumi

Matinya Pekerjaan Sektor Informal

Mulai mati dan tidak digemarinya pekerjaan informal, semua pihak harus memberikan perhatian serius, terutama dari pihak yang berkompeten,

Kita menyadari kemajuan jaman yang tak terelakkan, namun pekerjaan non formal tersebut berbasis masyarakat. Mata pencaharian yang bisa menghidupkan gairah ekonomi masyarakat dari akar rumput. Kalau dilihat lebih jauh, sektor ekonomi informal menghidupi lebih dari 70 persen warga Negara Indonesia.

Pekerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja jauh lebih banyak dan yang tidak mampu terima oleh lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah. Maka, susa waktunya mengangkat kembali gairah para pengusaha berbasis rumahan dan jenis pekerjaan informal lainnya.

Pemerintah harus mendukung sektor informal dan setidaknya memiliki cara agar regenerasi anak milenal mau meliriknya. Agar tidak bertambah banyak generasi penerus yang penggangguran. Bukan tidak ada pekerjaan, namun mereka tidak mau mencoba sumber mata pencaharian informal tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.