Gara-Gara Sistem Zonasi Sekolah Banyak Anak Berprestasi Tidak Masuk Sekolah Favorit

sistem zonasi sekolah

Banyak orang tua yang merasa anaknya berprestasi mengeluhkan sistem zonasi sekolah pada Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.

Gara-gara kebijakan tersebut, anaknya tidak bisa masuk sekolah negeri favorit. Misalnya sudah niat sekali masuk SMA Negeri 5 Bandung, jadi gagal karena alamat rumahnya tidak dekat dengan sekolah.

Berbeda orang tua yang rumahnya dekat sekolah negeri yang kebetulan favorit, anaknya jadi menjangkau sarana pendidikan lebih dekat. Tidak perlu keluar ongkos lebih banyak dan anaknya tidak perlu jauh untuk menuntut ilmu.

Baca juga : Membandingkan Film Bumi Manusia dan Novelnya, Tetapi Bukan itu Persoalannya

Bagi orang tua yang protes sistem zonasi punya ukuran kelayakan anak masuk sekolah negeri berdasarkan kemampuan belajarnya. Jadi “si pintar” layak dimasukkan dalam satu sekolah. Kebetulan sekali sekolah itu bertahun-tahun berkembang menjadi sekolah favorit.

Namanya sekolah favorit itu diisi anak yang dibilang pintar-pintar. Nilai akademiknya biasanya diatas rata-rata anak-anak yang kemampuan belajarnya biasa-bias saja.

Anak-anak yang tidak mampu mendapat nilai tinggi ya masukkan ke sekolah negeri yang lainnya, kan banyak sekolah enggak favorit. Bagi orang tua yang menilai anaknya berprestasi ini, pendidikan bagi mereka adalah kompetisi. Pokoknya, anakku yang pintar ini lebih layak masuk sekolah idaman.

Sehingga saat ini, mereka mencak-mencak atas sistem zonasi sekolah tersebut. Mereka merasa enggak memahami apa maksud menteri pendidikan dengan program yang berdasarkan domisili tempat tinggal sebagai penilaian pertama. Maski, ada juga kok yang tahu tujuannya demi pemerataan kualitas sarana pendidikan di negeri ini.

Sistem Zonasi Sekolah Dirasa Tidak Adil Bagi Siswa Berprestasi

Protes kencang tenang sistem zonasi datang dari orang tua yang anaknya berprestasi. Tidak masuk sekolah favorit, karena alamat rumahnya jauh dari lokasi sekolah favorit. Lalu mereka bertanya, apa manfaatnya anak belajar setengah mati kalau tidak bisa sekolah di negeri favorit.

Padahal jawabannya, demi kecerdasan anak itu sendiri. Orang tua yang bertanggung jawab membuat anaknya menjadi cerdik pandai dan bukan menjadi tanggung jawab utamanya diserahkan kepada sekolah.

Lagian sistem zonasi sekolah ini perlu dimengerti tujuannya. Oh ya, sistem zonasi sekolah menekankan pada jarak rumah dengan sekolah. Jadi, anak yang lebih dekat dengan sekolah lebih berhak mendapat layanan pendidikan dari sekolah tersebut.

Kalau kebetulan, sekolah terdekat adalah sekolah favorit yang selama ini hanya bisa dimasuki anak-anak berprestasi. Maka berbahagialah, anak dengan rumah terdekat bisa mengenyam pendidikan di sekolah favorit kan rumahnya lebih dekat.

Tujuan Sistem Zonasi Sekolah untuk Pemerataan Pendidikan

Kembali lagi kepada soal tujuan sistem zonasi sekolah. Kemendikbud menjelaskan tujuan zonasi untuk menjamin pemerataan akses layanan pendidikan bagi siswa dan mendekatkan lingkungan sekolah dengan keluarga.

Selain itu, pemerintah berupaya menghapus sekolah negeri ekslusif yang hanya bisa dimasuki kalangan tertentu. Bukan rahasia juga toh, sekolah favorit itu banyak dimasuk horang-horang kayah.

Aturan sekolah dengan zonasi diharapkan dapat mendorong kreativitas pendidik dengan kondisi siswa yang lebih heterogen. Jadi satu sekolah bukan hanya mengajar anak yang pintar saja. Sedangkan, sekolah negeri tak favoit ya Cuma ngajar anak yang minta ampun ndableknya. Nakal-nakal pula dan guru seolah mau mati mengajarinya.

Pada akhirnya, tercipta kondisi sarana pendidikan yang adil dan merata. Si anak yang prestasinya biasa-biasa saja dan anak cerdas dapat menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Si kaya dan si miskin bisa menikmati fasilitas sekolah yang mumpuni dengan akses yang lebih dekat.

Baca juga : Susu Kental Manis dan Masalah Anak-Anak Kurang Gizi di Indonesia

Sekolah negeri pinggiran atau tidak favorit pun memiliki peminat yang sama banyaknya dan tentu saja pemerintah harus perhatian terhadap kualitasnya.

Kritik utama terhadap kebijakan zonasi melihat tentang perbedaan mutu pendidikan yang diberikan oleh sekolah yang bebeda. Sehingga, wajar juga kalau orang tua takut menerima pengajaran tidak sesuai yang diharapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.