Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Opini

Cobalah Berempati Kepada Pedagang Kecil yang Harus Berjualan di Jalan Setiap Hari

Kebijakan PPKM Darurat 3-20 Juli itu menghantam semua lini, termasuk pedagang kecil dan pedagang keliling yang berjualan di jalan setiap hari. Mereka yang tergolong kaum ekonomi kelas bawah yang penghasilannya tak seberapa dan hanya cukup untuk pemenuhan kebutuhan keluarga hari ini.

Pendapatan harian mereka sangat tergerus dan tidak punya uang simpanan di masa pandemi Covid-19. Mereka bukan kaum kelas menengah yang punya tabungan di bank dan berdompet tebal. Tidak akan  sama kondisi ekonomi dengan kaum berduit yang kehidupannya aman-aman saja meski masa PPKM Darurat malah diperpanjang hingga 31 Juli 2021.

Kaum kelas pinggiran yang semakin tidak kuat bertahan untuk hidup ketika masa PPKM Darurat diputuskan pemerintah. Sudahkah Anda berempati kepada para pedagang kecil dan pedagang keliling tersebut?

Pedagang Kecil Babak Belur Berhadapan di Masa PPKM Darurat

Bagaimana pun pedagang kecil hanya mampu hidup bertahan dari berjualan di jalanan. Kondisi ekonomi kaum kelas bawah ini hidup dengan penghasilan yang pas-pasan. Mereka harus bernasib apes saat ini. Karena harus berhadapan dengan babak yang baru PPKM Darurat. Bagaimana tidak babak belur ketika sebagian besar orang tidak keluar rumah, jam berjualan dibatasi, dan harus dirazia setiap hari.

Bagi pedagang yang berjualan untuk kebutuhan pokok mungkin lebih aman dan masih menghasilkan uang setiap hari. Bagaimana dengan nasib pedagang yang jenis jualannya hanya sekedar kebutuhan pelengkap saja?

Seperti pedagang gorengan yang terus mengeluh, karena perputaran uang menjadi sangat lamban. Tidak mampu menghasilkan uang sesuai harapan. Dampaknya dari berkurangnya penghasilan adalah keluarga pedagang gorengan menjadi tidak mampu mencukupi biaya hidup sehari-hari. Sementara pengeluaran semakin banyak. Kondisi ini terasa berat jika mendengar langsung cerita dari sang pedagang kecil.

Nasib Seorang Pedagang Lahang (Air Nira)

Namanya Pak Dadan seorang warga dari Desa Kadudampit, Cisaat Sukabumi. Seorang penjual minuman “Lahang” yang terus bejuang tak henti-henti walau sangat dihimpit oleh situasi Pandemi Covid-19 saat ini.

Kebijakan PPKM Darurat membuat kondisi yang tidak berpihak kepada si pencari rejeki harian. Bapak Danan yang telah berusia 67 tahyn tersebut bergumam, “Jualan pada masa-masa kini bukan hanya soal rasa “lahang” yang manis, bukan hanya soal pelayanan yang prima, bukan hanya soal mempertahankan minuman tradisional. Tetapi juga tentang bagaimana satu dengan yang lainya saling memberi empati.

Wabah virus corona ini sungguh merenggut kemampuan ekonomi para pedagang kecil. Dimana letak “Keadilan bagi Bagi seluruh rakyat Indonesia” jika warga kelas bawah semakin tak mampu bertahan hidup di tengah kebijakan pemerintah mengatasi Pandemi Covid-19. Warga kurang mampu semestinya mendapat perhatian dan dilindungi oleh negara. Tetapi nyatanya itu tidak terjadi.

Masa PPKM Darurat menjadi semakain bermasalahnya, ketika para pedagang kecil dan warga tidak mampu lainnya malah tidak mampu bertahan hidup. Pikirkanlah nasib kaum kelas bawah, karena hidup ini tentang “simbiosismutualisme.”

Ditulis Oleh Topi Endemik “Sabumi Volunteer”

Artikel menarik lainnya: Warga Jabar Butuh Oksigen, Apa yang Dikerjakan Ridwan Kamil?

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *