Dukung Kegiatan Sabumi Volunteer
Opini

Anjuran Tidak Merokok Itu Sudah Sudah Baik, Begitu Pula Bulutangkis Tanpa Iklan Rokok itu (Tidak) Baik

Kekisruhan atas tudingan dari KPAI kepada produsen rokok mengekspoitasi anak, akhirnya menemukan babak baru dengan PB Djarum menghentikan audisi bulutangkis anak tahun 2020, itu sudah baik. Sama baiknya dengan istri yang ingin suaminya tidak merokok. Persis sama hebatnya dengan guru yang memarahi anaknya merokok.

Iklan Rokok dengan alasan apapun memang ada baiknya hilang dalam panggung olahraga di Indonesia. Wong banyak mudhoratnya kok. Lah ini anak-anak malah dibikin lebih dekat dengan iklan rokok dengan menggunakan bajunya. Iklan rokok menempel di baju anak-anak yang berolahraga bulu tangkis itu kan aneh sekali.

Hal itu diibaratkan, Ayah yang menyuruh anaknya berhenti merokok, tetapi sambil menyemburkan asap ke muka buah hatinya.  Ya tetap aja bau rokok menempul pada tubuh anak. Tetapi, ya tetap banyak yang membela iklan rokok. Itu lebih aneh lagi.

Mereka yang membela iklan rokok seolah cemas regenerasi atlit bulu tangkis bakal menjadi mandek dengan penghentian ajang pencarian bakat dari Djarum. Apa ndak mikir ya dampak iklan rokok terhadap generasi Indonesia.

Apakah mereka pernah berpikir berapa banyak anak yang terus menerus terpapar iklan rokok. Apalagi iklannya menempel jelas pada kaos peserta anak-anak yang mengikuti audisi beasiswa bulu tangkis tersebut. Sehingga, keputusan PB Djarum yang katanya menghentikan program mereka tahun 2020 itu adalah keputusan yang sempurna.

Bulutangkis Tanpa Iklan Rokok itu Tidak Mungkin, Tetapi Menghentikan Publikasi Iklan Rokok Melalui Olahraga Patut Diacungi Jempol

Kita sepatutnya memberikan acungan jempol kepada PB Djarum yang mengentikan program audisi tersebut. Paling tidak publikasi iklan rokok dapat berhenti sejenak. Tahukah Anda, keputusan PB Djarum menghentikan seleksi secara terbuka atau umum itu bukan berarti bulu tangkis tanpa iklan rokok.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bukan tidak mendukung proses pencarian bakat bulu tangkis. Namun, lembaga yang tugasnya memang melindungi anak-anak tersebut ingin program olahraga semacam bulu tangkis tanpa melibatkan iklan rokok di dalamnya. Masa sih, KPAI tidak mendukung anak-anak untuk berprestasi?

Sekali lagi, KPAI itu ingin Djarum Foundation untuk menghentikan penggunaan anak sebagai media promosi image Djarum. Pengembangan bakat dan minat siswa di bidang olahraga badminton harus terus dilanjutkan. Ya mau tidak mau tanpa pengiklan rokok.

Kalau pun ada pihak yang mendukung audisi dengan embel-embel iklan rokok, hal itu membuktikan betapa cerdiknya produsen rokok mempengaruhi pikiran publik. Seolah, audisi tersebut tanpa keterlibatan perusahaan yang memproduksi di dalamnya.

Baca juga :

Cara Memeriksa Kanker Payudara, Jangan-Jangan Ada Benjolan

Pengakuan Geopark Ciletuh Menjadi UNESCO Global Geopark Harus Bermanfaat Bagi Masyarakat Sukabumi

Lalu Bagaimana Nasib Pembinaaan Olahraga Badminton Ke Depannya?

Ya tetap berjalan seperti sedia kala. Toh PB Djarum masih tetap ada. Mereka bisa melakukan pencarian bakat atlite bulutangkis dengan cara lain. Bukan dengan tebar pesona dengan menggunakan anak sebagai cara mengiklankan produknya.

Kisruh tentang audisi bulutangkis ini pun bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah. Pihak terkait dengan olahraga bulutangkis harus bertanggung jawab untuk melakukan pembinaan. Badminton sebagai olahraga andalan jangan sampai tanpa regenerasi atlit berbakat dan berprestasi.

Kalau PB Djarum undur diri dari audisi umum itu bukan awal datangnya kiamat. Bencana akan datang kalau pemerintah tak memperhatikan perkembangan olahraga bulu tangkis di negeri ini.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close