Bukan Persoalan Bowo Alpenliebe, Kominfo Blokir Tik Tok Harus Memperhatikan Perlindungan Terhadap Anak

Kominfo blokir Tik Tok

Akhirnya Kominfo blokir Tik Tok untuk sementara di Indonesia. Seperti aplikasi yang pernah diblokir seperti Bigo, Tik Tok dinilai memiliki banyak konten negatif seperti pornografi, pelecehan agama, dll. Perhatian utamanya dampak tersebut akan mempengaruhi anak-anak. Selain itu, khalayak sudah banyak melaporkan aplikasi Tik Tok kepada Kominfo sebanyak 2.853 kali.

Ada banyak orang yang ternyata khawatir kehadiran aplikasi Tik Tok yang telah dinduh lebih dari 1,5 juta kali melalui Play Store, terutama imbasnya kepada anak-anak. Meski mencantumkan Rate for 12+ atau digunakan untuk pengguna 12 tahun ke atas. Faktanya video yang ditampilkan dari aplikasi Tik Tok dari banyak digunakan anak dengan usia di bawah 12 tahun.

Kecendrungan pengguna remaja lebih tinggi lagi, buktinya Bowo Alpenliebe mendadak hits karena ditonton lebih dari 700.000 kali. Wajah Bowo bermunculan, bahkan begitu banyak meme tentang Bowo yang “di Tuhankan”, bahkan Deddy Corbuzier mengomentari remaja yang rela manawarkan keperawanannya.

Betul memang, masa remaja saat seseorang ingin tampil eksis, apalagi media sosial menawarkan kemudahan menjadi terkenal. Namun, kalau berdampak negatif terhadap anak-anak, aplikasi Tik Tok ini memang harus diawasi oleh pemerintah. Apalagi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menaruh perhatian terhadap gejala aplikasi Tik Tok begitu disenangi oleh anak-anak.

Baca ini dong : Bakti Sosial VES Community Demi Pendidikan Lebih Baik

Kominfo Blokir Tik Tok dan Perlindungan Terhadap Privasi Anak

Aplikasi Tik Tok ternyata mendapat perhatian di Negara pembuatnya sendiri. Aplikasi Video pendek yang di kenal dengan nama Douyin di China mendapat banyak perhatian, karena semakin banyak anak dibawa umur yang mengunggah informasi pribadi mereka. Pengguna anak kecil juga ditemukan menggunakan merekam kegiatan pornografi dalam video mereka.

Apalagi aplikasi ini ternyata tidak memiliki pilihan membuat akun menjadi “pribadi”, berbeda dengan aplikasi lainnya seperti Facebook, We Chat, dan Instagram. Sehingga ada banyak tuntutan untuk lebih melindungi para pengunanya yang tidak sedikit anak di bawah umur. Isu perlindungan privasi ini sangat penting untuk diperhatikan, karena begitu banyak predator seksual yang memangsa anakmelalui aplikasi dunia maya. Kalau tanpa control penyedia aplikasi, anak tentu rentan menjadi korban para predator tersebut.

Syukurnya tuntutan terhadap perlindungan anak didengar dan Tik Tok sudah memiliki rencana memberi pilihan kepada pengguna untuk membuat setting “pribadi” terhadap video yang diunggah. Jadi, hanya pengguna yang menjadi “teman” atau disetujui saja yang dapat melihatnya. Ada informasi juga Tiktok akan membuat “parental control” untuk membuat orang tua memiliki fungsi control terhadap anak sesuai usianya.

Tidak Melulu Soal Bowo Atau Anak yang Ingin Eksis

Alasan Kominfo blokir Tik Tok harus mengurai lebih dalam dampak aplikasi tersebut terhadap anak-anak sebagai pengguna yang sangat rentan. Apalagi setelah melihat Bowo menjadi hits anak-anak remaja. Permasalahannya bukan pada Bowo yang entah siapa dia kok bisa eksis begitu. Tetapi tentang perlindungan terhadap anak-anak pengguna Tik Tok dan juga dampak penggunaannya terhadap mereka.

Persoalan penggunaan media sosial ini pernah diteliti oleh Pusat Kajian Komunikasi, Fisip UI dengan Kajian tentang Penggunaan Media Sosial Bagi Anak dan Remaja. Begini uraian dari kajian tersebut, media sosial sebenarnya memiliki batas pengguna dengan usia paling tidak 13 tahun. Namun, tidak memiliki sistem menghindarkan anak usia dibawah 13 tahun untuk menggunakannya.

Dari hasil kajian tersebut membuktikan bahwa anak dan remaja mengakui tidak sengaja memperoleh informasi kekerasan, pornografi dan ujaran kebencian dari aplikasi media sosial. Selain itu, sifat media sosial yang potensi penggunaannya untuk publik berisiko terhadap privasi dan remaja. Mereka kurang memahami tentang pengaturan privasi yang disediakan aplikasi media sosial. Mereka mencari dan berbagi informasi melalui media sosial.

Baca juga : Suara Dari Sabumi Volunteer Relawan Literasi Sukabumi

Persoalan penggunaan media sosial dan aplikasi seperti Tik Tok ini bukan melulu soal dunia anak-dan remaja yang ingin eksis semata. Namun ada bahaya yang mengikuti penggunaannya, yaitu anak-anak rentan dari predator online, pornografi, kekerasan, dan pencurian identitas pribadi.

Kominfo blokir Tik Tok bisa saja menggunakan acuan studi atau kajian-kajian yang telah dilakukan tentang media sosial sebagai dasar pemblokiran aplikasi semacam Tik Tok. Jadi tidak hanya mengatakan dampak, tanpa dasar dari tindakan yang diambil oleh pemerintah. Setidaknya ada edukasi dari Kominfo sebagai perwakilan pemerintah tentang begitu bahayanya penggunaan media sosial bagi anak-anak dan remaja.

2 thoughts on “Bukan Persoalan Bowo Alpenliebe, Kominfo Blokir Tik Tok Harus Memperhatikan Perlindungan Terhadap Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.