Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini
Opini

Belajar dari  Berita Bohong Operasi Plastik: Ketika Kebohongan Menyebar Lebih Cepat di Media Sosial

Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini

Dari Kasus berita bohong Operasi plastik, netizen bisa belajar bahwa berita palsu bisa menyebar seperti bola api di media sosial. Orang mudah terbakar menanggapinya. Tidak tahu siapa pelakunya, bagaimana kejadian sebenarnya, dan begitu banyak orang yang mengecam tentang pemukulan terhadap seorang ibu.

Berita bohong bergulir begitu cepat. Tokoh-tokoh mulai memainkan peran untuk mengutuki dan pengikutnya mulai menyalahkan pihak yang dianggap lawan.  Sebagian dari mereka adalah pemilik akun bercentang biru. Argumen mereka di twitter akan dipercaya oleh sebagian orang pengguna media sosial. Saling dukung dan mimbar pengutukan  beralih ke layar kaca.

Hingga akhirnya, kejadian sebenarnya terkuak. Orang yang mereka bela berbohong. Apesnya dia juga pengguna twitter yang cukup tenar. Acapkali membuat argument yang keras, meski seringkali membingungkan dan kurang dapat dipercaya.

Bagaimana gejala penyebaran kabar melalui media sosial, seperti berita bohong operasi plastik bisa terjadi dan Apa yang menjadi penyebabnya?

Baca juga : Tanyakan Detail Prosedur Operasi Bedah Kecantikan Wajah dan Jangan Sampai Menjadi Itik Si Buruk Rupa

Kasus Berita Bohong Operasi Plastik Lebih Cepat Menyebar Dibandingkan Kebenarannya

Mulanya tentang pemukulan dan diungkap sendiri bahwa itu hanya khayalan. Apa yang dapat dipetik dari kasus tersebut? Mari kita bicara fenomena yang terjadi dalam penyebaran informasi di media sosial, seperti twitter.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Sinan Aral dari Massachussetts Institute of Technology menuliskan bahwa kebohongan menyebar jauh lebih cepat, dan meluas dari pada kebenaran informasi yang sesungguhnya.

Menariknya, informasi palsu berkaitan dengan dunia politik  menyebar lebih cepat dibandingkan tentang isu terorisme, bencana alam,ataupun tentang keuangan Negara. Ketika kabar tentang pemukulan di bandara bandung diangkat dan awalnya menjadi korban seorang yang aktif dalam isu politik. Pendukung turut menyebarkan informasi tersebut. Para tokoh politik dan pendukung seperti menemukan momentum yang tepat untuk mengambil simpati. Namun, sayang tidak terlalu lama berubah menjadi berita bohong operasi plastik.

Sinan Aral dan timnya mengungkapkan informasi yang disebarkan justru bukan bot (robot medsos) yang melakukannya, melainkan manusia sebagai pengguna medsos. Peran pengguna twitter “terverifikasi” memiliki andil besar membuat bola api menggelinding semakin liar. Pemiliki akun popular menjadi rujukan terpercaya, meski yang disebarkan ternyata faktanya berita bohong operasi plastik.

Berita pemukulan di Bandara Husein dengan setting tempat di Bandung mungkin terdengan mengejutkan. Begitu tega, kok ada orang yang memukul seorang ibu. Emosi terpancing dan jemari menjadi aktif membagi informasi yang tidak benar. Sehingga, tidak heran berita palsu tersebut disebarkan oleh banyak orang.

Berita Bohong diretweet 70 persen Lebih Banyak Dibandingkan Kabar Sebenarnya

Menariknya, ketika dr. Tompi yang ahli dalam pembedahan operasi plastic membuat ulasan, pengguna twitter ramai-ramai menghakiminya. Ada pula yang mengatakan jangan-jangan jadi dokternya karena nyogok.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Soroush Vosoughi, tentang laporan palsu setelahpemboman Boston Maratahon 2013, dia menemukan bawah palsu disebarkan 70 persen lebih mungkin diretweet daripada kabar yang sebenarnya.

Kesimpulan manusia memiliki kontribusi lebih besar untuk menyebarkan berita bohong dan berita benar. Meski, banyak penelitian lain kerja “bot” telah mengambil peran menyebarkan isu sensitif dan dibagikan oleh pengguna media sosial.

Baca juga : Tahukah Kamu Ada Kampung Egrang di Sukabumi : Sebuah Coretan Pagi Tentang Permainan Tradisional

Penyebaran kabar tidak benar seperti berita bohong operasi plastik akan menjadi bom waktu. Ketika ada pengguna media sosial yang ahli dibidangnya mampu mengecek fakta kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga, penyebaran kabar palsu atau hoax menjadi senjata mematikan. Ada risiko yang harus diambil, ketika  berbagai pihak mulai mengecek fakta sebenarnya. Lalu, berita bohong operasi plastic terbukti menjadi sangat memalukan dan membuat banyak orang harus meminta maaf.

Seperti kata Nukman Lutfie pakar sosial media, “berbohong makin sulit di era digital”. Karena pengguna medsos meninggalkan jejak digital dan ada banyak alat bukti untuk mengecek kebenaran. CCTV dan transaksi keuangan terbukti ampuh mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi.

Bohong itu sulit di era digital, apalagi pakar-pakar juga menggunakan medsos dan bisa berkerjasama untuk membongkar kebohongan. Akhir kata, mau bilang hal yang sama juga seperti Nukmat Lutfie, “Selamat datang di era digital.”

 

Tulisan dikembangkan dari sumber berikut ini: Klik aja.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close