Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
News

Pelajaran dari Pengurus Masjid di Bekasi yang Membentak Jamaah Karena Menjalankan Protokol Kesehatan

Pakai Masker di Masjid Kok Dilarang

Pelajaran dari pengurus masjid di Bekasi yang bersikukuh melarang orang memakai masker menunjukkan adanya protokol kesehatan tidak dijalankan di tempat ibadah. Video takmir masjid yang memarahi warga yang beribadah pakai masker itu pun viral. Karena tindakan mereka dinilai sangat bertolak belakang dengan upaya pemerintah menurunkan angka penularan Covid-19.

Kejadian tersebut menjadi acuan perlunya dilakukan sosialisasi protokol kesehatan secara berkala kepada pengurus masjid. Apalagi mereka merasa tindakan mereka benar dengan menyatakan tidak mau menyamakan masjid dengan pasar dan yakin bahwa Allah SWT melindungi dirinya. Mereka sepertinya tidak mengetahui bahwa kota Mekah sangat dijaga protokol kesehatan secara sangat ketat. Tujuannya agar jamaah terlindungi kondisi kesehatannya selama menjalankan ibadah.

Menariknya, Kementerian Agama Kementerian Agama (Kemenag) sebenarnya sudah membuat Surat Edaran (SE) tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M. Surat edaran yang mengatur protokol kesehatan secara katat bagi para jamaah. Sehingga setiap orang yang datang ke masjid harus menggunakan masker. Selain itu, menjaga jarak minimal 1 meter, dan membawa sajadah atau mukena sendiri.

Bahkan, penerapan surat edaran tersebut melihat kriteria wilayah berdasarkan risiko penyebaran virus. Terdapat 4 kriteria wilayah, yaitu zona hijau (tidak terdampak), zona kuning (risiko rendah), zona oranye (risiko sedang), dan zona merah (risiko tinggi). Lalu, dijelaskan panduan panduan ibadah Ramadan dan Idul Fitri hanya berlaku di wilayah zona hijau dan kuning.

Pelajaran dari Pengurus Masjid Harus Sadar Protokol Kesehatan dan Kesadaran Masa Pandemi Covid-19 belum berlalu

Bagaimana mungkin protokol kesehatan dapat dijalankan di masjid, jika pengurusnya malah melakukan tindakan sebaliknya melarang orang pakai masker. Tindakan memarahi jamaah memakai masker justru bisa membahayakan kesehatan mereka juga.

Oleh karena itu, surat edaran tentang panduan ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H meminta pengurus masjid atau musala bisa menyelenggarakan kegiatan ibadah dengan protokol kesehatan yang ketat. Baik itu dalam menjalankan Salat fardu lima waktu, salat tarawih dan witir, tadarus Al-Quran, dan iktikaf. Kapasitas masjid pun diminta paling banyak 50% dari kapasitas yang semestinya.

Oleh sebab itu, pengurus dan pengelola masjid/musala yang semestinya menjadi petugas yang memastikan protokol kesehatan dijalankan di masjid. Fasilitas masjid harus disediakan disenfektan, sarana cuci tangan di pintu masuk masjid/mushala, menjaga jarak aman. Begitu pula membawa sajadah/mukena dan tetap menggunakan masker.

Untuk menghindari penularan virus corona, surat edaran juga memuat kegiatan ibadah Ramadan di masjid/musala. Seperti salat tarawih dan witir, tadarus Al-Quran, iktikaf dan Peringatan Nuzulul Quran tidak bisa dilakukan di daerah zona merah (risiko tinggi) dan zona oranye (risiko sedang).

Nah, peran pengurus masjid menjadi sangat penting demi terjaganya menjalankan protokol kesehatan, salah satunya wajib memakai maser. Bukan malah memerintahkan jamaah yang sebaliknya dengan menyuruh membuka masker.

Syukurnya pengurus masjid sudah didamaikan dengan jamaah. Mereka sudah meminta maaf atas perangainya yang tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam mengurangi penyebaran virus corona.

Artikel menarik lainnya: Keramaian Pasar Tanah Abang, Anies Baswedan Bertindak Cepat Mengendalikannya

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close