News

Harga PCR Rp 275Ribu, Kenapa Enggak Dari Awal Pandemi?

Harga PCR Rp 275Ribu akhirnya, setelah mendapat perintah dari Presiden Joko Widodo. Ternyata dengan instruksi kepala negara Republik Indonesia, harganya bisa turun drastis pada masa awal pandemi sempat diatas Rp 1juta. Lalu, diturunkan menjadi Rp 900ribu dan bisa jauh lebih murah toh. Pertanyaannya kenapa enggak dari dulu dibikin murah sekalian ya?

Penurunan harga terjadi setelah khalayak ramai protes kebijakan penggunaan PCR menjadi syarat penerbangan. Padahal sudah ada bukti vaksin yang dibuktikan dengan Aplikasi PeduliLindungi. Dengan alasan tidak mau kecolongan peningkatan kasus, mengikuti vaksinasi saja ternyata tidak cukup.

Akhirnya, turunlah titah Presiden agar harga PCR dikurangi enggak di atas Rp 400ribu. Lalu, Kementerian Kesehatan melaksanakan evaluasi tentang batasan tarif tertinggi untuk Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Alhasil yaitu bisa lebih murah lagi.

Setelah Perintah Presiden Bisa Bikin Harga PCR Rp 275Ribu, Mana Tahu Bisa Gratis

Mencatut kabar dari web kemkes.go.id, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Prof. dr. Abdul Kadir,Ph.D,Sp.THT-KL(K), MARS menyatakan perhitungan biaya pengambilan dan pemeriksaan RT-PCR telah dievaluasi. Perhitungan arga beradasarkan komponen jasa pelayanan/SDM, reagen dan bahan habis pakai (BHP), biaya administrasi, Overhead, dan komponen biaya lainnya. Hasilnya, harga bisa menyesuaikan sesuai kondisi saat ini.

Evaluasi dari tim Kementerian Kesehatan memutuskan batas tarif tertinggi RT-PCR menjadi Rp. 275 Ribu (pulau Jawa dan Bali) dan Rp.300 ribu (luar pulau Jawa dan Bali). Keputusan tersebut juga dituangkan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan nomor HK.02.02/1/3843/2021 tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan RT-PCR. Aturan tersebut berjalan mulai Rabu (27/10).

Oleh karena itu, patut dicatat bahwa semua fasilitas pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit, Laboratorium dan Fasilitas pemeriksa lainnya harus patuh. Tidak boleh melebihi batasan tarif tertinggi RT-PCR tersebut. Adapun hasil pemeriksaan RT-PCR memiliki durasi maksimal 1×24 jam dari pengambilan swab pada pemeriksaan RT-PCR.

Untuk itu, Dinas Kesehatan Daerah Provinsi dan Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten/Kota diminta membina dan mengawasi. Agar dapat dilaksanakan Batas Tarif Tertinggi untuk Pemeriksaan RT-PCR sesuai kewenangan masing-masing.

Apabila terdapat Lab mematok harga tidak mengikuti ketetapan pemerintah, maka Harus dibina oleh Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten. Jika tidak ikut aturan, sanksinya bisa berupa penutupan Lab dan pencabutan izin operasional.

Penurunan harga PCR ternyata tidak membuat lega netizen begitu saja. Banyak yang mencibir dan mengkritik kenapa tidak murah sejak awal harga PCR-nya. Enggak sedikit pula yang menyebut kalau ada bau amis bisnis pengecekan Covid-19 ini. Lalu, netizen pun ramai-ramai meminta, “Pak Presiden bisa dibikin gratis juga kali ya.” Amin dong ya netizen. Bisa yuk Pak Presiden kami yang baik.

Artikel menarik lainnya: Manfaat Air Tajin untuk Ibu Hamil dan Bayi, Sudah Tahu Belum?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *