Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini
Motivasi Hidup

Senyuman Juru Parkir Saat Lebaran yang Sebelumnya Datang Entah Dari Mana

Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini

Merayakan Idul Fitri itu kebahagiaan, bagi semua, bagi kamu orang kantoran, direktur, pejabat PNS, penjual pecel lele, dan sungguh menyenangkan mendapat senyuman juru parkir. Bapak tukang parkir yang sebelumnya datang entah dari mana.

Waktu kita memarkirkan kendaraan sering tak ditemukan seorang pun tukang parkir. Namun waktu kita mau pergi dan memundurkan kendaraan, dia tiba-tiba datang. “Mundur Kang, mundur, kanan kiri,” sembari sempritan bertalu-talu di telinga.

Meski lebaran tiba, juru parkir tetap setia muncul tiba-tiba di belakang kita. Entah dia sudah berlebaran dengan keluarganya atau tidak. Pokoknya sempritan terus menggema memarkirkan atau mengeluarkan kendaraan dari tempat parkir.

Kalau mereka datang dengan tiba-tiba begitu apa sih yang akan Anda lakukan? Ngedumel, marah, enggan memberi uang parkir, atau malah cuek-cuek saja?

Mendapatkan Indahnya Senyuman Juru Parkir Saat Lebaran

Anda dan begitu pula saya terkadang jengkel dengan gelagat tukang parkir. Dia seolah datang tak dijemput, tetapi pulang malah menjemput kita. Menarik-narik kendaraan kita dan berharap diberi uang dua rebu untuk parkir. Nah sekali-kali cobalah untuk tidak jengkel ke tukang parkir. Lagian jengkel gara-gara dua rebu kan terlihat amat pelitnya.

Siang tadi, ketika menemani istri belanja di keramaian kota Cianjur. Kejadian yang sama berulang kembali. Saya parkirkan kendaraan sendiri tanpa bantuan orang lain di pinggir jalan. Lagian markirin kendaraan kan enggak ribet. Namun saat pulang. Criiing… Si mamang parkir muncul di belakng motor.

Kendaraan sepeda motor saya ditarik agak kencang. “Mau ke kanan atau ke kiri,” tanyanya penuh senyuman dan semangat.  Daripada menuruti pikiran jengkel, saya mun menyambut senyumannya. Saya beri dia uang lima ribu. Tidak dua ribu. Alhamdulilah, habis memarkirkan kendaraan, juru parkir pun mendokan saya. “Semoga rejekinya lancar ya kang,” saya balas doanya dengan ucapan terima kasih.

Selepas mengantar istri belanja, kami harus singgah ke bank. Uang tunai habis, sementara harus beli ini dan itu keperluan bulanan. Sama seperti kasus pertama, waktu kami datang tukang parkir berada jauh di pelupuk mata.

Hingga kami pulang, juru parkir itu muncul di belakang. “Ke kanan kan kang biar enggak nyenggol motor sebelah,” katanya memastikan motor lain tidak tersenggol. Saya berikan uang lima ribu dan ingin mengembalikan uang tersebut.

“Enggak apa pak, enggak usah dikembalikan,” tubuhnya menunjukkan gestur setengah menunduk sambil mengucapkan terima kasih. Kali ini, saya gantian mendoakan tukang parkir. “Sehat-sehat ya pak. Selamat lebaran,” hasilnya dapat senyuman dari tukang parkir. Kok rasanya senang ya.

Baca juga:

Libur Lebih Santai di Situ Gunung Sukabumi Setelah Musim Lebaran Berakhir

Jangan Liburan di Hari Libur ke Geopark Ciletuh Sukabumi

Hikmah Senyuman itu

Dari senyuman itu, saya mendapat sebuah pelajaran. Kalau berpikir dan berbuat baik kepada juru parkir, akan mendapatkan senyuman terindah. Satu hal yang ingin saya katakan, tukang parkir itu hebat. Anda sibuk lebaran dengan keluarga, tukang parkir berupaya terus berkerja mencari uang dari kendaraan yang Anda parkirkan.

Begitu setiap hari. Dari uang parkir Anda, mereka hidup. Kurangi ngedumel dan beri uang parkir sesuai aturan. Kalau rejeki lagi baik, berilah uang lebih kepada sang juru parkir. Selamat lebaran. Jangan lupa berbagi senyum hari ini.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close