Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Motivasi Hidup

Anak Merasa Hebat Menasehati Bahkan Menyalahkan Seorang Ibu

Ibu yang mempertaruhkan nyawanya saat proses melahirkanmu, membesarkanmu, mendidikmu

Anak merasa hebat, Bayangkan apa yang dipikirkannya ketika merasa layak menasehati bahkan menyalahkan Ibu yang telah mengandung 9 bulan?  Ceritanya begini, dua hari yang lalu emosi saya terpicu saat sedang melayani tamu saya. Jujur ini bukan hal yang bagus karena seharusnya saya bisa menahan diri. Namun, kejadiannya spontan mengalir begitu saja.

Saya pun sudah meminta maaf kepada anaknya atas perbuatan spontan saya ini dan Ibunya malah memeluk saya. Sang Ibu dengan menangis terharu melihat sikap spontan saya dan mendoakan saya dengan melantunkan Do’a-Do’a terbaik untuk saya. Saya pun refleks mengangkat tangan dan mengaminkan semua Do’a sang Ibu sambil tidak bisa menahan tangis saya yang ‘pecah’ saat itu juga.

Tidak Ada Hak Anak merasa Hebat Menasehati dan Menyalahkan Seorang Ibu

Pemicunya sepele saja. Saat saya sedang mengobrol dengan seorang Ibu yang sudah sepuh. Saya ‘lihat’ sakitnya adalah karena ‘capek ati’. Anaknya merespon obrolan saya ke Ibu tersebut. Si Anak mengucapkan kalimat-kalimat yang nadanya menasehati si Ibu. Ada kesan yang saya tangkap kalau si Anak menyalahkan Ibunya.

Kok tiba-tiba spontan saya bereaksi. Saya ambil sandal jepit saya yang sedang saya pakai (saya pakai sendal jepit khusus untuk yang di dalam rumah). Lalu, saya acungkan ke wajah anaknya sambil berkata, “Wah, hebat kamu bisa menasehati Ibumu!”

Bagi si anak mungkin hal itu adalah persoalan yang sepele, namun TIDAK buat saya. TIDAK se-sederhana itu! Ibumu yang mengandungmu. Orang yang menerima dengan ikhlas membawa beban 9 (sembilan) bulan dirimu di dalam Rahim Ibumu. Sosok yang mempertaruhkan nyawanya saat proses melahirkanmu, membesarkanmu, mendidikmu. Seorang ibu pula yang melimpahkan Kasih Sayang kepadamu dari dirimu lahir ke dunia sampai dirimu bisa jadi ‘orang’.

Bagi saya pribadi, dengan semua yang sudah Ibu lakukan di atas menjadikan saya tidak ada Hak sedikitpun seorang Anak menasehati Ibumu. Apalagi sampai menyalahkan Ibumu. Saya pernah dengar Guru saya berkata, “Apapun balasan Kebaikan yang dilakukan seorang Anak kepada Ibunya, itu belum cukup membayar 1 tetes keringat Ibumu”.

Saya justru sampai sekarang masih terus memohon ampunan dan ridho nya Kedua Orangtua saya. Karena semasa hidupnya mereka saya justru berperilaku sangat buruk kepada kedua orangtua saya. Maka, berbaik-baiklah kepada seorang Ibu yang menjaga kita di dunia dengan segenap jiwa dan raganya. Jangan sampai menyalahkan seorang Ibu.

Ditulis oleh Adhi Lam

Penggiat kefir di Lampung

Tulisan menarik lainnya: Wahai Para suami Sudahkah Kalian Pahami Kondisi Istri yang Kelelahan Fisik dan Mental

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close