Sat. May 25th, 2024
    Saring sebelum sharing Literasi DigitalSaring sebelum sharing Literasi Digital

    Menurut Kang Maman, sebagai pengguna media sosial sebaiknya kita melakukan saring sebelum sharing ketika memposting sesuatu di media sosial. Dari akun youtube Nara-Z, Glenn dan Tompi mengundang Kang Maman untuk berbagi narasi tentang Politik dan Media Sosial. Maman Suherman yang dikenal melalui akun twiter @maman1965 berbagi tips-nya buat para netizen. Kenapa sih harus saring sebelum sharing? Begini loh ceritanya.

    Sharing Sebelum Sharing Penting Bagi Netizen yang Melek Literasi Digital

    Pembicaraan dibuka dengan sebuah kenyataan bahwa Indonesia dikenal sebagai Negera literasi nomor 2 di dunia Dari belakang. Penekanan “Nomor 2 dunia, dari belakang”, membuat Tompi, Glenn, dan Kang Maman tertawa terbahak-bahak. Soal Negara dalam hal literasi berada di nomor 60 dari 61 negara, dan hanya setingkat lebih baik dari Bostwana pernah dibahas juga oleh Sabumi Volunteer.

    Meski urutan terbelakang dalam hal literasi, tetapi netizen dari Indonesia berprestasi dalam hal cerewet di ditwitter. Indonesia berada di urutan no 5 tercerewet. Bayangin aja, 15 twit per detik. Sudahlah illiterate, enggak suka baca, tetapi paling cerewet di twitter. Kondisi tersebut bisa membahayakan, karena kebiasaan memposting sesuatu sering tanpa saring sebelum sharing. Apalagi pengguna media sosial mudah sekali saling seringa. “Di dunia digital kita mudah retak”, kata kang Maman sambil bilang di dunia nyata sebenarnya mudah bersilaturahmi.

    Dunia digital menjadi tempat tanpa batas. Orang dengan mudah menyebut “lo-gue” kepada Presiden sekali pun. Ruang publik di dunia maya membuat orang bebuat semaunya. Tanpa batas. Padahal, ruang publik du dunia nyata tetap ada batasannya. Sudah enggak heran melihat dunia digital jadi ajang saling adu kebencian. Kang Maman memiliki untuk “kalo lo goblok, gue blok,” begitu ada ujaran kebencian langsung diblok

    Perang media sosial yang mulai sejak tahun 2014, terus bertahan seiring dengan pilkada yang berjalan hampir setiap tahun. Kondisi politik tersebut membuat netizen tidak berpikir panjang dalam bertingkah laku di dunia maya. Penilaian terhadap suatu postingan bukan berdasarkan “benar atau salah”, tetapi berdasarkan pengikut kubu satu dan kibu lainnya. Hal tersebut tidak bisa terus dibiarkan, netizen harus saring sebelum sharing dan memikirkan postingannya di media sosial.

    3 B sebagai Prinsip Saring Sebelum Sharing

    Agar dunia digital semakin adem, Kang Maman memberikan tips bagi netizen dengan prinsip 3 B sebelum sharing, antara lain pikirkan dulu:

      1. Benar materinya.
      2. Baik atau tidak.
      3. Bermanfaat atau tidak.

    Kalau prinsip 3 B tersebut sudah terpenuhi, silahkan memposting content yang anda miliki. Kalau tidak, akan terjadi masalah. Kang Maman ingin internet tidak menjadi sumber masalah. Kita memang berbeda, tetapi jangan dibuat menjadi persoalan. Dia mencontohkan isi film Hotel Rwanda. Di Rwanda terdapat dua suku besar Suku Hutu dan Tutsi yang bisa saling membunuh diantara keduanya ketika sedang terjadi pemilihan umum.

    Ketajaman lidah dapat mengakibatkan korban yang besar sebanyak 880.000 orang meningeal dunia. Jangan sampai hal tersebut terjadi di Indonesia. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, menurut Kang maman ada 6 hal yang harus diperbaiki terkait dunia literasi di Indonesia, sebagi berikut:

      1. Literasi baca dan tulis. Angka buta huruf Indonesia sudah cukup bagus, sekitar 2,7 persen dari total penduduk. Tetapi sayangnya, orang nya bisa membaca, tetapi tidak suka membaca.
      2. Literasi hitung.
      3. Literasi digital. Karena netizen hidup tanpa batas.
      4. Literasi finasial. Kita bisa berbuat sesuatu dengan kolaborasi satu sama lain.
      5. Literasi sains. Bagaimana sains masuk dunia politik. Bagaimana mengolah data ilmiah dengan Metodenya benar.
      6. Literasi budaya dan kewargaan. Bagaimana kita menjadi warga bangsa dan dunia.

    Untuk mengikat 6 literasi yang harus diperbaik, butuh 4 K yang harus dilakukan.

      1. Komunikasi yang baik dan benar.
      2. Kolaborasi, tidak ada yang bisa hidup sendiri.
      3. Kita harus berpikir kritis.

    Kang Maman Suherman menilai jurus “4 K” dapat membenahi literasi di Negara ini dan menangkal hoax. Sebab media sosial semakin liar dan para pemangku kepentingan harus terus belajar agar dunia digital tidak menjadi sumber keretakan antara sesama kita.

    Baca juga : Sejarah Pendidikan di Indonesia : Demi Kepentingan Politik Pengetahuan Penguasa

    2 thought on “Saring Sebelum Sharing Literasi Digital dari Kang Maman Bersama Tompi dan Glenn”

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *