Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini
Literasi Digital

Ras, Hak Sipil, dan Ujaran Kebencian di Era Digital

Bantu Perjuangan Sabumi dengan meng-klik Iklan ini

Munculnya era digital telah memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan untuk ras, hak sipil, dan ujaran kebencian. Gagasan umum di hari-hari awal munculnya media digital, ras itu tidak ada di Internet atau bahwa dunia maya mewakili semacam alam halcyon “buta warna,” adalah mitos.

Pada praktiknya, mulai muncul situs web yang menampilkan ujaran kebencian dengan sengaja menunjukkan supremasi kulit putih. Supremasi kulit putih adalah ideologi yang berpandangan bahwa ras putih lebih unggul dibandingkan ras lainnya.

Baca juga: Melek Internet dengan Wifi Gratis Program Desa Digital Jawa Barat Ala Kang Emil

Supremasi Kulit Putih dan Ujaran Kebencian di Era Digital

Belum banyak perhatian akademis yang terfokus pada rasisme di dunia maya. Seorang Peneliti Daniels membahas masalah rasisme dan supremasi kulit putih internet secara online. Dia menawarkan pemahaman mengenai rasisme dan media digital, terutama yang berkaitan dengan remaja atau anak muda.

Secara khusus, Daniels membahas dua kategori besar supremasi online kulit putih:

  1. Situs Web kebencian terbuka yang menargetkan individu atau kelompok yang menampilkan propaganda rasis seperti dalam bentuk komunitas
  2. Situs Web terselubung yang dengan sengaja berusaha menipu pengguna Web biasa.

Lalu, Daniels mengeksplorasi implikasi terhadap anak muda yang semakin tumbuh di media digital.Ujaran kebencian yang berlebihan mencakup, antara lain jenis julukan rasial dan bahasa rasis. Secara eksplisit dianggap sebagai ekspresi publik yang tidak dapat diterima tentang rasisme dalam iklim politik kontemporer di Amerika Serikat dan di sebagian besar belahan dunia lainnya.  

Disisi lain, muncul Cloaked Web (Situs Web Jubah) yang diterbitkan oleh individu atau kelompok yang sengaja menyamarkan agenda politik. Agenda politik yang disembunyikan berkenaan dengan ras, anti-Semitisme dan propaganda kebencian. Di situs web tersebut mereka mengungkapkan rasisme mereka dalam beberapa lapisan halaman dan menyediakan tautan ke informasi tersebut.

Sementara itu, dua bentuk ujaran kebencian online (baik terang-terangan dan terselubung) mungkin tampak berbeda. Keduanya didasarkan pada epistemologi dari supremasi kulit putih yang berusaha merusak perjuangan politik  tentang persamaan ras dan etnis. Supremasi kulit putih berupaya menyebarkan gagasan esensialis tentang ras kulit putih kemurnian dan sikap hak istimewa. Hal yang paling mencolok adalah penyebaran situs tersebut adalah berani membuat retorika hak-hak sipil.

Baca juga: Selamat Hari Bumi, Menanam Pohon Demi Menjaga Kelestarian di Bumi

Rasisme ala Supremasi Kulit Putih dan Penyebaran Ujaran Kebencian di Era Digital

Supremasi kulit putih di Amerika Serikat adalah prinsip pengorganisasian pusat budaya, politik, dan ekonomi bukan hanya gerakan sosial yang terisolasi. Daniels mencatat bahwa ada kesamaan mencolok antara Retorika ekstremis dan ekspresi yang ditunjukkan dari supremasi kulit putih.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Joe Feagin mengukuhkan hal tersebut dengan sebutan “Bingkai rasis putih.” Lalu, apakah hubungan antara media baru dan konsep tentang “bingkai rasis kulit putih”  tersebut?

Bagi kaum muda media digital adalah keniscayaan bagi kehidupan mereka. Menurut laporan penelitian di Pew Internet & American Life Project pada Juli 2005,  87 persen remaja dengan usia 12-17 sekarang menggunakan Internet dan jumlahnya hampir 21 juta kaum muda.

“Generasi M” (untuk media) menggunakan berbagai jenis media selama enam hingga enam setengah jam sehari.  Mereka mengakses Internet melalui komputer desktop atau melalui ponsel, sehingga media digital merasuk dalam kehidupan banyak anak muda.

Perintis futurist dan Internet, Howard Rheingold menyatakan, “Mesin pencari telah menggantikan perpustakaan untuk orang muda di era digital, dan memang mereka memilikinya.” Hal tersebut berpengaruh nyata kepada ras, hak sipil, dan perkataan yang mendorong ketidaksukaan terhadap perbedaan.

Pemuda kulit berwarna mencari informasi tentang sejarah dan perjuangan politik yang terkait dengan warisan rasial dan etnis mereka. Pemuda kulit putih mencari tahu lebih banyak tentang “orang lain.” atau identitas dari etnis mereka sendiri. Saluran pencarian informasi yang digunakan yang pertama digunakan adalah mesin pencari online.

Dunia internet menjadi sumber literasi baru yang mempengaruhi anak muda dan sekaligus menjadi tantangan utama yang dihadapi orang tua, pendidik, sarjana, dan aktivis di abad ke-21. Namun, literasi media digital saja ternyata tidak cukup untuk mengatasi pengaruh supremasi kulit putih baru yang menyebar secara online.

Untuk mengurangi pengaruh negatif dari supremasi kulit putih, kaum muda perlu dibantu untuk berpikir kritis tentang rasisme dalam lingkungan media digital. Masalah yang sedang dihadapi adalah tingkat supremasi kulit yang struktural dan sistemik mengumbar ujaran kebencian dan rasisme secara terang-terangan. Anak muda dapat dipengaruhi rasisme dari supremasi kulit putih terutama pidato rasis yang dapat disebarkan lebih mudah dan secara luas di Amerika Serikat melalui Internet.

Ditulis oleh: Den Aslam

Penggiat Seni dan Budaya di Sukabumi

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close