Literasi Digital

Pelaku Pelecehan Saiful Jamil Muncul di Televisi Tetapi KPI Diam Saja? Enggak juga Kok ini Buktinya  

Pelaku Pelecehan Saiful Jamil yang bikin heboh karena disambut seperti peraih medali emas olimpiade dan malah dengan cepat muncul di televisi. Kejadian ini sontak membuat marah publik dan muncul sebuah petisi untuk boikot penampilan sang pedangdut di tv. Jumlah netizen yang menandatangani petisi di change.org sudah 425.297 orang.

Nah, melihat tingginya tanggapan negatif munculnya Saiful Jamil di televisi, akhirnya membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bertindak juga. Walaupun dirasa telat, paling tidak KPI membutikan tugasnya bukan menyensor saja, namun menanggapi aspirasi publik juga.

KPI telah meminta seluruh lembaga penyiaran televisi tidak melakukan amplifikasi dan glorifikasi (membesar-besarkan dengan mengulang dan membuat kesan merayakan) mengenai bebasnya Saipul Jamil. Sang pelaku pelecehan seksual tidak boleh muncul dalam isi siaran.

Respon Negatif Publik Terhadap Pelaku Pelecehan Seksual Saiful Jamil Menjadi Kabar Baik Bagi Kita

KPI dalam rilisnya di website resmi menyatakan keputusan tersebut karena merespon sentimen negatif publik. Hal itu dikaitkan dengan pembebasan dan keterlibatan sang pedangdut dalam beberapa program acara TV.

Ketua KPI Pusat Mulyo Hadi Purnomo menyatakan harapannya seluruh lembaga penyiaran mengerti sensitivitas dan etika kepatutan publik. Karena kasus yang telah menimpa yang bersangkutan dan tidak membuka kembali trauma korban.

KPI juga meminta lembaga penyiaran agar lebih berhati-hati dalam penayangan yang terkait perbuatan melawan hukum. Selain itu, bertentangan dengan adab dan norma, misalnya penyimpangan seksual, prostitusi, narkoba dan tindakan melanggar hukum lainnya yang pelakunya adalah artis atau publik figur.

Lembaga penyiaran diharapkan bisa mengedepankan atau mengorientasikan unsur edukasi dan tidak mengulangi kejadian serupa. Agar sanksi hukum yang telah dijalani sang pedangdut tidak dipersepsikan masyarakat menjadi risiko biasa.

Ketua KPI juga menjelaskan hak individu tidak bisa dibatasi, namun hak publik dan rasa nyaman selayaknya menjadi perhatian. Karena frekuensi dunia pertelevisian adalah milik publik dan mesti dimanfaatkan demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Jadi, tontonan yang melukai hak masyarakat tentu tidak perlu dilakukan.

KPI Sempat Mendapat Sorotan Karena Tidak Merespon Kemunculan Sang Pedangdut di Televisi

Karena sempat dinilai tidak merespon kemunculan Saiful Jamil di televisi, KPI sempat menjadi sorotan publik. Karena dianggap tidak layak menjadi tontonan dan dapat membuka luka dan trauma korban pelecehan seksual.

Apalagi berhembus kabar kalau terjadi kasus dugaan pelecehan seksual  dan perundungan (bullying) di tempat kerja Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Meski, sudah membuat pernyataan tidak menoleransi segala bentuk pelecehan seksual, perundungan atau bullying, publik sudah terlanjut menilai miring peristiwa yang terjadi di KPI.

Pasalnya, lembaga yang tugasnya mengawasi lembaga penyiaran yang terkait moralitas, tetapi kok KPI malah terjadi isu terkait kasus pelecehan seksual.

Namun, respon dari KPI terhadap Pelaku Pelecehan Saiful Jamil Muncul di Televisi patut diapresiasi, agar publik memahami kalau tindakan pencabulan bukan hal yang wajar. Tindakan pencabulan terhadap anak tidak bisa dibenarkan, karena dampaknya sangat besar bagi para korban.

Artikel menarik lainnya:  Kenapa Pelaku Kejahatan Seksual Seperti Saipul Jamil Tidak Bisa Dimaklumi Apalagi Dielu-Elukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *