Lingkungan Hidup

Nasib Orangutan Kalimantan dan Sumatera Tidak Sebahagia Seperti Di Uang Lima Ratusan

Hingga saat ini, Cuma ada uang koin Rp500 saja yang diedarkan oleh pemerintah. Kalau pun masih ingin memilikinya, Anda bisa mencarinya di penjualan uang untuk kolektor uang dan tentu saja harus dibeli dengan nilai yang jauh lebih tinggi. Saya tak hendak membahas tentang uangnya, tetapi nasib dari orangutan Kalimantan dan Sumatera yang nasibnya sama mirisnya karena kehilangan habitatnya. Ancaman yang dihadapi oleh orangutan, antara lain:

    • Pembalakan liar
    • Kebakaran hutan
    • Perburuan
    • Perdagangan orangutan untuk menjadi satwa peliharaan

Siapakah yang mengancam orangutan? Tidak lain dan tidak bukan dari bangsa manusia seperti Anda yang sedang membaca tulisan ini. Disebabkan habitat mereka tertanggu, maka kehidupan mereka kian terancam dari masa ke masa.

Bisakah Orangutan Kalimantan dan Sumatera Hidup Seribu Tahun Lagi?

Tahukah Anda Orangutan di Pulau Sumatera dan Borneo berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) berjumlah 71.820. Mereka tinggal di habitat seluas 17.460.000 hektare.

Nasib Kehidupan Orangutan Sumatera

Populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) diperkirakan 14.470 individu di habitat seluas 2.155.692 hektare. Orangutan Sumatera ditemukan juga di habitat dengan ketinggian 1.500 mdpl. Mereka menyebar di 10 meta populasi. Sayangnya, dua populasi saja yang diprediksi akan lestari selama 100-500 tahun ke depan.

Nasib Kehidupan Orangutan Kalimantan

Populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) berjumlah 57.350 individu yang hidup di habitat seluas 16.013.600 hektare. Mereka tersebar di 42 kantong populasi. Dari jumlah tersebut, diprediksi hanya 18 populasi yang akan hidup selama 100-500 tahun lagi

Ketika Manusia ingin Hidup Seribu Tahun Lagi, Tetapi Membiarkan Orangutan Punah 500 tahun lebih awal.

Jadi, ketika manusia melalui kalimat di puisi Chairil Anwar “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Kita sudah bisa memprediksi orangutam takkan bertahan lebih dari 500 tahun lagi. Hal tersebut terjadi karena data menunjukkan setidaknya terdapat 1,2 juta ha kawasan hutan di Indonesia ditebang, terjadi pebalakan liar, dan dikonversi untuk lahan perkebunan. Kebakaran hutan juga membuat populasi orangutan semakin berkurang. Tahukah Anda, habitat orangutan kalimantan berkurang 55 % dalam 20 tahun terakhir. Sementara itu, habitat orangutan Sumatera berkurang sangat cepat. Hutan telah berkurang dari sekitar 3,1 juta hektar di tahun 1985 menjadi 2,1 juta hektar hingga tahun 2016.

Lalu apa yang bisa dilakukan demi kehidupan yang lebih lama bagi orangutan?

Menurut Gaveau dari CIFOR (Pusat Penelitian Kehutanan Internasional), dari hasil studi menunjukkan bahwa laju deforestasi dan perubahan lahan mengorbankan habitat orangutan sekitar 15-20 persen pada masa kini. Namun proyeksi masa dapat memperkirakan dari riset dampak perubahan tata guna lahan dan perubahan iklim orangutan akan kehilangan 74 persen habitatnya selama kurun waktu 6 dekade mendatang (60 tahun lagi). Sehingga perlu penelitian yang lebih jauh bagaimana membuat orangutan dapat hidup lebih lama dengan habitat yang tersisa.

Para peneliti menawarkan solusi dengan memperluas kawasan hutan perlindungan di antar hutan dataran rendah dan dataran tinggi. Hal tersebut untuk menemukan tempat yang layak bagi orangutan untuk terus bergerak bebas di habitat yang tersisa. Permasalahannya, kepentingan bisnis pengolahan kayu seringkali abai terhadap aturan konservasi hutan dan ditabraknya regulasi pemerintah. Pohon besar di tebang habis, lahannya berubah fungsi, dan orangutan yang tinggal di dalamnya dibiarkan pergi. Hingga, manusia mulai memperkirakan mereka takkan bisa hidup lebih dari seribu tahun lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *