Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Lingkungan Hidup

Masalah Alat Penangkap Ikan Cantrang Di Pusaran Politik : Akankah Kebijakan Berubah?

Alat penangkap ikan cantrang menjadi pembicaraan kembali, karena salah satu cawapres. Kabarnya peraturan tentang cantrang akan ditunjau kembali. Apakah sebenarnya cantrang itu dan kenapa pemerintah melarang/ mengurangi penggunannya?

Alat penangkap ikan cantrang adalah alat menangkap ikan yang diopersikan dengan menyentuh dasar perairan dengan menebar tali selambar secara melingkar. Jaring cantrang diturunkan dan kedua ujung tali selambar dipertemukan. Lalu, kedua ujung tali ditarik ke arah kapal hingga seluruh bagian kantong jaring terangkat.

Nah Penggunaan tali selambar yang panjangnya dapat mencapai lebih dari 1.000 m (masing-masing sisi kanan dan kiri 500 m) berakibat pada sapuan lintasan yang sangat luas. Belum lagi kalau cantrang diperasikan dengan tali selambar 6000 m. Makain luaslah dampak lintasannya.

Apa dampaknya terhadap habitat di laut? Penarikan jaring membuat air laut teraduk dari dasar perairan dan berdampak signifikan terhadap kerusakan ekosistem dasar bawah laut. Dampak kerusakan perairan bawah laut tersebut yang membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan peraturan┬áNomor 2 Tahun 2015 Tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) yang menggunakan jaring “trawl” seperti cantrang, dogol, lamparan dan arad.

Mengubah Aturan Tentang Alat Penangkap Ikan Cantrang Dinilai Berdampak Bagi Keberlanjutan Perikanan di Indonesia

Setelah aturan tersebut diberlakukan, Kemeterian Kelautan dan Perikanan menuai protes dari pelaku usaha kelautan. Menariknya isu alat penangkap ikan cantrang ini digunakan sebagai bahan kampanye dari salah satu cawapres. Persoalannya bukan masalah politik semata.

Kebijakan dari pemerintah diambil karena dampak penggunaan cantrang yang terbukti sangat merugikan ekosistem laut di Indonesia. Menurut hasil kajian WWF Indonesia cuma sekitar 18-40 % hasil tangkapan trawl dan cantrang bernilai ekonomis dan sisanya 60-82 % malah dibuang ke laut dalam keadaan mati. Habitat laut menjadi rusak karena jenis biota laut yang masih anakan dan belum matang gonad pun ikut terangkut kantong jaring.

Persis penelitian WWF, hasil penelitian di Brondong – Lamongan (IPB, 2009) menyebutkan hanya 51% hasil tangkapan cantrang yang berupa ikan target, sedangkan 49% lainnya non target yang sebagian besar tangkapan adalah ikan rucah. Ikan non target itu kurang memiliki nilai ekonomis yang biasanya digunakan buat bahan tepung ikan untuk pakan ternak.

Baca juga :

Gara-Gara Sistem Zonasi Sekolah Banyak Anak Berprestasi Tidak Masuk Sekolah Favorit

Enggak kebayang dong, kalau ikan anakan, belum matang gonad, dan sedang memijah ikut tertangkap. Dampaknya membuat stok sumber daya ikan dan hasil tangkapan akan menurun. Ikan diambil, ekosistem dirusak, habitat biota laut hancur. Bagaimana ikan mau berkembang biak kalau cantrang merusak dasar perairan dalam berikut terumbu karang yang menjadi tempat pemijahan biota laut.

Jadi pemerintah memiliki alasan yang kuat untuk melarang penggunaan alat penangkap ikan cantrang, karena merugikan secara ekologis dan berdampak pada keberlanjutan ekosistem laut.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close