Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Kuliner Nusantara

Wisata Kuliner Angkringan Jogja : Menemukan Simbol Keramahan Masyarakat Di Tempat Makan

Wisata Kuliner Angkringan Jogja sangat lekat dan wajib sekali mencoba makan sambil menemukan keramahan masyarakat di sana dari tempat makan. Kawan baik Sabumi, tahukah kamu bahwa fenomena wisata kuliner angkringan mulai berkembang pada akhir abad XX dan semakin dikenal pada awal abad XXI.

Angkringan berasal dari bahasa jawa angkring atau nankring. Jika diartikan ke bahasa Indonesia angkringan dapat diartikan pikulan yang menggunakan penyangga. Pikulan tersebut dilengkapi kotakan tempat makanan yang dipakai untukberjualan. Nangkring juga menunjukkan “methangkringke sikile” atau duduk sembari mengangkat salah satu kakinya di bangku. Posisi wuenak untuk menikmati suguhan makanan yang terdapat di angkringan.

Bagaimana Awal Mula Munculnya Wisata Kuliner Angkringan Jogja?

Sebelumnya angkringan dikenal dengan HIK (Hidangan Istimewa Klaten). Pada era 1950-an, seorang dari Cawas, Klaten, bernama Mbah Pairo pergi mencari nafkah ke kota Yogyakarta. Tujuan beliau ingin memenuhi kebutuhan hidup, akibat tidak memiliki lahan subur untuk bercocok-tanam. Daerah tempat tinggalnya Cawas adalah daerah tandus pada zamannya.

Cara jualan Mbah Pairo cukup unik dengan cara dipikul dan berkeliling masuk ke kampung-kampung serta perkotaan. Lama-kelamaan semakin laris. Hingga seiring waktu, pedagang angkringan menjajakan dagangan dengan menggunakan gerobak atau pikulan.

Pedagang berjualan berpindah-pindah dan akhirnya menetap. Bagi mereka yang sudah lama memiliki usaha angkringan akan memilih menetap di suatu tempat. Mereka yang berpindah-pindah biasanya masih tergolong pedagang pemula.

Kini, angkringan dapat ditemukan dengan beragam cara berjualan. Dari warung kaki lima berupa gerobak kayu dengan penutup kain, terpal atau plastik. Angkringan berbentuk prasmanan. Ada pula yang berwujud café yang suasananya lebih nyaman dan disenangi kawula muda. Angkringan yang awalnya jamak ditemui setelah waktu salat magrib hingga menjelang subu. Saat ini, ada pula yang berjualan pada siang hari.

Makanan yang dijual juga belum sebanyak sekarang dan umumnya menyajikan nasi kucing. Seiring perkembangan, orang mulai menjual menu beragam dan menjadi banyak pilihan makanan untuk dinikmati. Meski begitu, nasi kucing atau sega kucing masih menjadi sajian utama. Nasi yang hidangannnya sedikit, dilengkapi sambel kering, ikan teri, atau tempe orek. Seolah nasi itu cocokya diberikan untuk kucing saja. Tetapi bukan makanannya saja yang istimewa, tetapi suasananya juga.

Informasi oke lainnya: Makanan Khas di Kupang itu Sei Jawabannya

Menikmati Wisata Kuliner dengan Makan Santai Tanpa Batasan Usia di Angkringan Jogja

Suasana makan di angkringan biasanya suasanana sangat santai, tanpa batasan usia, jenis kelamin, dan suku. Kamu, kamu dan kamu bisa ikut makan semua berkumpul di sana. Intinya semua orang bisa menikmati makanan di warung angkringan.

Angkringan menjadi tempat makan terbuka dan dapat berbaur oleh siapa saja. Bukan hanya sebatas menikmati hidangan dan minuman. Orang dapat melepaskan lelah, berbagi cerita, dan tempat bersenda-gurau.

Apalagi angkringan bisanya dibuka setelah pulang kerja dan dibuka setelah waktu magrib hingga waktu subuh. Kalau dilihat dari menunya juga, jenis makanan dan minuman tergolong sajian makanan “wong cilik”.

Tempat wisata kuliner Jogja memang sangat kental budaya Lokal, termasuk di warung angkringan. Sehingga, sangat unik sekali. Sehingga, semua orang menjadi rakyat biasa dan tetap semangat menghargai tradisi dan kesederhanaan. Kalau kamu pernah makan di warung angkringan, enggak? Jangan ragu mencobanya kalau jalan-jalan ke sana.

Informasi Kuliner Lainnya: 9 Makanan Khas Sumatera Utara Rasanya Enggak Kaleng-Kaleng

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *