Sat. May 18th, 2024
    Senjata Pembunuh Massal COVID-19 itu Berasal dari Pasien Tidak JujurSenjata Pembunuh Massal COVID-19 itu Berasal dari Pasien Tidak Jujur

    Setelah kabar meninggal dan tak diterimanya jasad perawat di RSUD Kariadi semarang, ada berita yang menyesakkan 46 petugas medis disana positif COVID-19 karena pasien tidak jujur. Jumlah yang sedikit dan bisa membuat sebuah rumah sakit lumpuh operasionalnya. Bagaimana tidak sebagian besar tenaga kesehatan mereka malah terjangkit virus corona.

    Kalau sudah begitu kejadiannya, pasien tidak jujur seolah menjadi pembunuh massal. Mereka tidak tahu kebodohan mereka membuat dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya tidak bisa mendeteksi penyakit sejak awal. Maka, akan semakin banyak orang yang akan menjadi korban dari wabah virus corona. Atas kejadian ini, tindakan kehati-hatian menjadi perlu ditingkatkan, agar rumah sakit tidak kehilangan tenaga untuk mengobati para pasien.

    Kejadian yang sangat disayangkan. Gubernur Jawa Tengah terkejut dan publik terhenyak, bagaimana mungkin pasien berbuat konyol seperti itu. Namun, kejadian itu bukan peristiwa satu-satunya. Tidak boleh lagi terjadi, karena 2 perawat di RSUD Kariadi sudah menjadi korbannya.

    Pasien Tidak Jujur Membuat Kerja Tenaga Kesehatan Semakin Berat

    Ketidakjujuran pasien sungguh tidak boleh terjadi lagi, karena malah membuat upaya membasmi virus corona semakin berat. Kejadian lain pernah terjadi di RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Kediri, tidak memberitahu riwayat perjalanan dan pernah kontak dengan siapa saja. Di Grobokan, pasien tak jujur membuat 76 orang terkait tenaga medis di  RSUD dr Soedjati Soemodiardjo, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah harus melakukan isolasi diri.

    Kekonyolan yang sama terjadi di RS Pekalongan Jawa Tengah, ketika keluarga pasien tidak menyeritakan kondisi sebenarnya tentang kondisi kesehatan dan riwayat perjalanan orang yang berobat. Nyatanya paru-parunya dicurigai pneumonia dan hasil tes swab ternyata  positif COVID-19. Sampaknya semua dokter, perawat, dan petugas medis lainnya harus melakukan isolasi diri di mess rumah sakit.

    Bayangkan saja ketika petugas kesehatan tidak bisa menjalankan tugasnya. Mereka yang harusnya bertindak untuk mengobati pasien COVID-19 malah menjadi korban selanjutnya. Ketahuilah, dokter, perawat juga anusia yang memiliki rasa lelah, stres, depresi, dan marah ketika berhadapan dengan pasien COVID-19, apalagi mendapati ada orang yang tidak jujur. Tidak ada yang ingin menjadi korban, maka bersikap jujur kepada tenaga kesehatan menjadi salah satu cara membasmi wabah virus corona.

    Baca juga : Kukulutus Tidak Membunuh Virus SATGAS COVID-19 Vertical Rescue Indonesia Bergerak di Garut

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *