Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Kesehatan

Masalah Kesehatan dan Nilai Kebersamaan dari Mitos Santri Harus Berkudis

Ada yang menarik dari tulisan di website kemenkes.go.id, Kemenkes meminta tolong jangan ada lagi mitos santri harus berkudis. Pernyataan tersebut diucapkan ketika melakukan kunjungan kerja di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya yang mempunyai 2.000 orang santri. Sebagai generasi penerus, Kemenkes ingin para santri tetap sehat dalam menjalani pendidikan di pesantren dan mendorong, agar pihak pesantren mendukung  para santri melakukan perilaku hidup sehat.

Untuk diketahui, penyakit kudis atau medisnya scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh serangga/kutu dan akan menimbulkan rasa gatal pada kulit. Penyakit kudis sering diidap oleh para santri. HIngga ada mitos belum menjadi santri kalau tidak terjangkit penyakit kudis.

Menghilangkan Mitos Santri Harus Berkudis dengan Berobat ke Pusat Pusat Kesehatan Pesantren (Puskestren)

Perilaku hidup sehat dan bersih juga bagian dari tuntutan ajaran Agama Islam, bahwa Kebersihan adalah sebagian dari iman. Para santri diminta untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan pesantren terutama kamar asrama dan kamar mandiri.\n\nPihak pesantren dianggap penting untuk memberi edukasi kebersihan kepada para santri untuk berperilaku hidup sehat dan bersih agar terhindar dari kudis.

Dikutip dari situs nu.or.id, dituliskan bahwa kudis menjadi penyakit yang sering bersinggungan dengan para santri. Sebagian orang yang mengenyam pendidikan di pesantren dalam waktu lama akan terjangkit penyakit kudis. Penyakit kudis muncul karena kualitas sanitasi dan lingkungan yang rendah. Penyebarannya dapat melalui penggunaan pakaian, memakai handuk bersama, kontak kulit dengan penderita, dan bak mandi yang umumnya digunakan secara masal

Mitos santri harus berkudis seolah menjadi “stempel resmi” seorang santri. Kalau sudah terkena penyakit kudis di pesantren, sebagai tanda seseorang betah dan ilmu agama mulai menyerap pada santri yang terkena kudisan. Ada pula mitos, kudis menjadi petunjuk turunnya berkah. Berkah yang dimaksud adalah santri mulai menerima manfaat proses pembelajaran yang baik, dan merasa betah untuk menjalani kehidupan yang dikenal serba di pesantren.

Mitos Santri Harus Berkudis dan Pembelajaran tentang Hidup Bersama

Kehidupan pesantren yang dijalani para santri mengajarkan tentang indahnya kebersamaan. Santri terbiasa tidur, makan, dan menggunakan kamar mandi bersama. Tidak jarang menggunakan pakaian dan handuk miliki teman. Nilai kehidupan bersama tersebut menjadi pembelajaran yang sudah ditemukan di lembaga pendidikan atau sekolah lainnya. Namun, sikap kebersamaan itu pula yang membuat penyebaran penyakit kulit sepert kudis menjadi hal yang biasa terjadi.

Kehidupan sesama santri yang dekat membuat penularan penyakit kudis terjadi lebih cepat. Meski begitu ada pembelajaran secara sosial dari persoalan penyakit kudis tersebut, karena santri yang telah terkena penyakit kudis berarti sudah menjalani hubungan yang erat dengan santri lainnya. Santri menjadi akrab dan mudah bergaul.

Hal tersebut sangat mendukung proses pembelajaran di pesantren. Tetapi, saran dari Kementerian Kesehatan tak kalah penting, santri sebagai generasi penerus harus belajar tentang kebiasaan hidup sehat dan bersih. Sehingga, kedekatan santri dan kudis bisa dikurangi bahkan dapat dihilangkan dari lingkungan pesantren. Apalagi, para santri juga diajarkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.

Baca juga: Cara Meningkatkan Kualitas Kesehatan Kamu

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close