Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Kesehatan

Kisah Seorang Anak Tidak Percaya Covid-19 Menjadi Penyebab Ibu Kandung Meninggal dunia

Kabar hoax dan teori konspirasi Covid-19 itu sangat jahat yang membuat seorang anak tidak percaya virus ini menjadi penyebab Ibu kandungnya meninggal dunia. Kisah ini diceritakan oleh oleh Diana (bukan nama sebenarnya) dan sedang melakukan isoman di rumah (23 Juli 2021).

Dia bercerita bahwa abang kandungnya adalah seseorang yang tidak percaya Covid-19 dan menganggap hanya konsipirasi pemerintah. Sejak masa awal pandemi, sang abang bersikukuh penyakit karena virus corona itu tidak ada dan khayalan belaka.

Jadi, jangan bayangkan kehidupan sehari-hari keluarganya akan menerapkan protokol kesehatan. Wong berita Covid-19 yang sudah berjalan setahun saja dengan ribuan korban jiwa saja, abangnya tak percaya. Hingga malapetaka datang di bulan Juli 2021.

Anak Tidak Percaya Covid-19 itu Membuat Ibu Kandung Meninggal Dunia

Pada awal bulan Juli 2021, ibunya yang tinggal di berbeda kota (tempat tinggal dirahasiakan) mengunjungi kediaman abangnya. Kedatangannya untuk melihat cucu tercinta. Tidak ada tanda-tanda bakal terjadi malapetaka atas kunjungan tersebut. Sampai setelah satu minggu tinggal di rumah abangnya, ibunya sakit dengan demam, batuk, dan kehilangan selera makan.

Abangnya sendiri menduga sang ibu hanya demam dan flu biasa. Apesnya, tidak berobat dan tidak pernah dibawa ke rumah sakit (RS). Alasannya RS sedang penuh dan takut “dicovidkan” oleh tenaga medis. Mendengar kabar tersebut, sang Adik yang menetap di kota berbeda tidak bisa berbuat banyak, karena abangnya bersikukuh penyakit ibunya tidak parah.

Jadi, tidak ada isilah “isolasi mandiri” dan penanganan semestinya sebagai penderita Covid-19. Hingga satu minggu kemudian, ibunya meninggal dunia di rumah abangnya. Karena tidak percaya kematian disebabkan virus corona, mengurus kematian dilakukan seperti biasa saja. Ibunya disalatkan bersama tetangga dan orang di sekitar tempat tinggal datang melayat.

Sang Adik yang tidak menyangka atas kematian sang ibu pun melakukan perjalanan jarak jauh datang ke kota tempat tinggal abangnya. Ia ingin melihat ibu untuk terakhir kali.

Saat itu, abangnya mengaku sedang sakit demam dan batuk. Gejala yang sama dengan sang ibu sebelum meninggal. Sang adik menyarankan pergi tes swab antigen, namun diacuhkan karena mengangap lagi-lagi hanya penyakit biasa.

Tidak lama adiknya di rumah sang abang dan kembali pulang. Nasib tidak berkata baik, ia pun terpapar Covid-19 dengan gejala demam dan batuk juga. Sehingga harus melakukan isolasi mandiri bersama anak dan suami di rumah. Sementara itu, kabar buruk selanjutnya datang, sang abang dibawa ke rumah sakit dan harus dirawat inap dengan alat bantu pernapasan.

Akhirnya Abangnya Meninggal Dunia juga

Akhirnya sang abang harus dirawat di rumah sakit dengan diagnosa tertular Covid-19. Sayangnya, kondisinya dengan gejala berat, sehingga harus memakai alat bantu pernapasan.

Hanya beberapa hari di rumah sakit, abangnya tidak bisa bertahan dan dinyatakan meninggal dunia. Penanganan jenazah dari proses pemulasaran dan pemakaman dengan pedoman akibat Covid-19. Dari rumah sakit, mayat tidak dibawa ke rumah, melainkan langsung dibawa ke Tempat Pemakaman Umum.

Semantara sang adik harus menjalani isolasi mandiri di rumah bersama keluarga. Ia tidak menyangka harus kehilangan dua orang yang dicintai ibu dan abang kandung dalam waktu yang sangat singkat.

  Artikel menarik lainnya: Aplikasi Pedulilindungi Cegah Bukti PCR dan Vaksinasi Palsu, Perhatikan Aturannya!

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close