Jangan-Jangan Anak Kerdil Stunting Salah Satunya Anak Saya

anak kerdil stunting

Pemerintah sedang kampanye tentang kasus anak kerdil Stunting. Sudah tahu belum apa itu stunting. Jangan-jangan anak Anda salah satunya.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia balita (bayi dibawah lima tahun). Kenapa bisa terjadi? Karena kekurangan gizi kronis yang membuat anak terlalu pendek untuk usianya.

Duh, kalau dilihat-lihat anak saya memang lebih kecil dibanding anak seumurannya. Anak kerdil stunting terlihat ketika usianya setelah 2 tahun. Penyebabnya karena kekurangan gizi sejak dalamkandungan dan pada masa awal setelah lahir.

Baca juga : Berbagi untuk Kegiatan dan Program Sabumi Volunteer.

Emangnya Anak Kerdil Stunting Banyak ya di Indonesia?

Tahu tidak, berdasarkan data TNP2K, ada sekitar 37 persen atau hampir 9 juta anak balita mengalami stunting di Indonesia. Indonesia termasuk Negara dengan tingkat stunting ranking kelima besar di dunia.

Bangga bukan? Eh jangan bangga. Justru itu menunjukkan kalau terjadi kemerosotan gizi pada anak-anak kita.

Balita yang mengalami stunting juga berakibat pada tingkat kecerdasan yang tidak maksmial. Dia menjadi rentan penyakit dan pada masa depat tingkat produktivitasnya menurun. Menariknya, anak kerdil tidak terjadi dari rumah tangga miskin saja, tetapi keluarga mampu juga loh.

Kalau sudah begini harus diperhatikan bagaimana orang tua memberi makanan sehat nan bergizi pada anak-anak.

Sebenarnya, stunting disebabkan banyak faktor, bukan hanya dari gizi buruk yang dialami ibu hamil maupun balita. Namun, gizi dari 1000 hari pertama kehidupan (HPK) menentukan kondisi stunting pada anak.

Lalu, apa saja penyebab anak kerdil stunting? Kok jadi was-was ya sama anak sendiri.

Pengetahuan Pengasuhan Kurang Baik

Tidak jarang Ibu yang hamil tidak memperhatikan supan gizi ke tubuhnya. Penyebabnya kurang pengetahuan kesehatan pada masa kehamilan dan pasca melahirkan.

Angka mengejutkan ditunjukkan oleh fakta bahwa 60 persen dari anak usia 0-6 bulan tidak menerima ASI ekslusif. Setelahnya, usia 6-24 blan tidak menerima makanan pendamping ASI (MP-ASI). Padahal, MP-ASI sangat berguna menyokong kebutuhan nurisi bayi dan mempengaruhi daya tahun tubuh anak.

Layanan Kesehatan untuk Ibu Selama Masa Kehamilan yang Terbatas

Berdasarkan informasi dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia, tingkat kehadiran anak di Posyandu menurun menjadi 64 persen tahun 2013, dibandingkan 79 persen pada tahun 2013. Hal tersebut menunjukkan anak belum memperoleh akses memadai untuk pelayanan imunisasi.

Fakta menarik lainnya, 2 orang dari 3 orang ibu hamil belum memakan suplemen zat besi secara memadai. Hal tersebut berpengaruh pada kondisi si bayi.

Jarang Konsumsi Makanan Bergizi

Keluarga kurang mampu memang terkendala untuk konsumsi makanan bergizi karena tergolong mahal. Pemerintah jangan mengalihkan isu harga mahal deh, kenyataannya harga dipasar di Jakarta memang lebih mahal dibandingkan di New Delhi, India.

Kalau barang banyak yang mahal, kan serba sulit mendorong orang tua untuk membeli makanan bergizi baik. Konsumsi makanan bergizi yang rendah berakibat pada 1 orang dari 2 orang ibu hamil mengelami anemia.

Kasus Stunting terjadi pada 100 Kabupaten/ Kota

Nah kasus anak kerdil stunting ini ternyata menyebar di 100 Kabupaten / Kota. Ada banyak indikatornya data yang banyak daerah menjadi prioritas perhatian terhadap kasus stunting. Indikatornya fasilitas layanan dasar kesehatan, jumlah petugas kehatan, dan jumlah rumah tang 40 persen yang masuk kategori paling bawah rentan miskin tanpa akses ke sanitasi dan air bersih.

Pemerintah sebenarnya sudah membangun fasilitas kesehatan yaitu puskesmas. Sarana kesehatan tersebut menjadi upaya kesehatan tingkat pertama. Jadi idealnya, setidaknya ada satu bidan di puskesma yang melayani pemeriksaan berkala pada ibu hamil, menyusui, dan balita.

Selain itu, Posyandu yang sering dilaksanakan satu bulan sekali di wilayah lingkungan tempat tinggal, memiliki peran pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak. Dari posyandu kita bisa mengetahui tinggi badan dan berat badan anak secara berkala.

Baca juga : Asian Games Indonesia, Buktikan Jakarta dan Palembang Bisa Menjadi Tuan Rumah

Namun, dari sarana dan sumberdaya manusia di bidang kesehatan masih terkendala. Tidak semua wilayah di Indonesia memiliki failitas dan tenaga kesehatan yang memadai. Sehingga, tidak heran juga mempengaruhi pengetahuan kesehatan gizi pada masyarakat.

Nah, begitulah kira-kira tentang stunting dan jangan lupa cari informasi lebih banyak tentang anak kerdil. Jangan sampai anak-anak di rumah menjadi salah satunya.

 

Kredit Photo : http://sehatnegeriku.kemkes.go.id

3 thoughts on “Jangan-Jangan Anak Kerdil Stunting Salah Satunya Anak Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.