Kesehatan

Ketika Akses dan Fasilitas Kesehatan Anak-Anak Terancam COVID-19 Diingatkan oleh WHO

WHO mengungkapkan bahwa akses dan fasilitas kesehatan anak-anak terancam karena pandemi COVID-19. Dampaknya terjadi gangguan terhadap layanan kesehatan berujung meningkatnya kematian anak-anak di seluruh dunia.

Padahal, sebelum masa pandemi jumlah kematian balita tercatat mencapai jumlah terendah sepanjang masa. Angkanya sebesar 5,2 juta pada tahun 2019 dibandingkan 12,5 juta pada tahun 1990. Pada tahun 2020, gangguan pada layanan kesehatan anak dan ibu berakibat pada risiko jutaan nyawa lainnya.

Peringatan WHO Tentang Akses Kesehatan Ibu dan Anak Pada Masa Pandemi COVID-19

Ketika anak-anak sulit mendapatkan akses ke layanan kesehatan karena fokus terhadap penyakit diakibatkan COVID-19. Tidak hanya itu, kaum perempuan takut melahirkan di rumah sakit karena takut terinfeksi. Maka, ibu dan anak pun menjadi korban tak langsung dari penyebaran virus corona. Jika sistem dan layanan kesehatan tidak diperhatikan, maka jutaan anak balita, terutama bayi baru lahir dapat meninggal dunia.

Selama 30 tahun terakhir, layanan kesehatan ditujukan untuk mengobati dan mencegah kematian anak seperti prematur, berat badan lahir rendah, komplikasi saat lahir. Selain itu, untuk mengatasi masalah pneumonia, diare dan malaria, serta vaksinasi. Sehingga, dapat menyelamatkan kehidupan jutaan jiwa anak-anak di dunia.

Sekarang negara-negara di seluruh dunia mengalami gangguan pada layanan kesehatan anak dan ibu. Hal itu dapat dilihat ibu dan anak kesulitan seperti pemeriksaan kesehatan, vaksinasi dan perawatan prenatal dan pasca melahirkan.  Kendalanya terjadi pada sumber daya dan merasa tidak nyaman pergi ke rumah sakit dan layanan kesehatan karena takut tertular COVID-19.

Sebuah survei UNICEF terhadap 77 negara menemukan sekitar 68 persen negara mengalami gangguan pemeriksaan kesehatan untuk anak-anak.  Sementara itu, 63 persen negara melaporkan gangguan dalam pemeriksaan kehamilan dan 59 persen dalam perawatan pasca melahirkan.

Selain itu, Survei WHO mengungkapkan 52 persen dari 105 negara melaporkan gangguan pada layanan kesehatan untuk anak-anak yang sakit. Setidaknya, 51 persen kesulitan mendapatkan layanan untuk penanganan malnutrisi.

Layanan Kesehatan Sangat Penting untuk Mencegah Kematian Bayi dan Anak

Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jendral WHO menyatakan kita tidak boleh membiarkan pandemi COVID-19 mengganggu akses kesehatan anak-anak dan generasi masa depan. Saat ini justru, waktunya untuk menyelamatkan nyawa, dan terus berinvestasi untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh.

Berdasarkan survei UNICEF dan WHO, ganggung layanan kesehatan terjadi karena beberapa hal:

  1. Orang tua menghindari fasilitas kesehatan karena takut tertular;
  2. Pembatasan akses transportasi umum;
  3. Penutupan layanan dan fasilitas layanan kesehatan;
  4. Petugas layanan kesehatan takut terkena infeksi karena kekurangan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan. Masalah itu terjadi di negara Afghanistan, Bolivia, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Libya, Madagaskar, Pakistan, Sudan dan Yaman.

Akibatnya tujuh dari sembilan negara memiliki angka kematian anak yang tinggi. Karena takut tertular virus COVID-19, keluarga tidak memprioritaskan kesehatan sebelum dan sesudah melahirkan. Padahal, hal itu menambah risiko yang dihadapi ibu hamil dan bayi baru lahir.

Tahukah Anda, data awal pada Bulan Mei dari Universitas Johns Hopkins menunjukkan bahwa hampir 6.000 anak berisiko meninggal karena gangguan akibat COVID-19 setiap hari. Sehingga perlu dilakukan tindakan segera untuk memulihkan dan meningkatkan layanan persalinan dan perawatan bagi ibu dan bayi. Petugas kesehatan juga diharapkan bisa meyakinkan orang tua untuk mengurangi ketakutan terhadap penularan virus corona.

Intervensi terhadap perlu dilakukan untuk pemenuhan akses dan layanan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Karena sangat penting memperhatikan kehidupan anak-anak, agar mereka dapat bertahan hidup dengan kondisi kesehatan yang baik.

Baca juga: Cuitan Kekhawatiran Para dokter Tentang Kondisi COVID-19 Melalui Akun Twitter Mereka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *