Dukung Gerakan Sabumi Volunteer
Kesehatan

Denda 50 Juta Ke Habib Rizieq Buktikan PR Besar di Indonesia Adalah Edukasi Kesehatan

Masalahnya utamanya bukan pada pelanggaran protokol COVID-19, tetapi edukasi kesehatan yang menjadi PR besar di Indonesia. Meski Satpol PP telah memberikan sanksi denda administratif sebesar Rp50 juta rupiah kepada Front Pembela Islam (PFI), tidak menyelesaikan persoalan apapun.

Ketika ribuan orang nekad berkumpul pada satu tempat sepertinya ada yang salah terhadap perilaku hidup sehat rakyat Indonesia. Bayangkan saja, setelah sekitar delapan bulan Pandemi COVID-19 membuat berbagai sendi kehidupan rontok, tingkat peudli kesehatan tidak jauh berubah. Di Jakarta, FPI tetap menjemput Habib Rizieq bahkan datang ke acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Alhasil kerumunan massa terjadi pada hari Sabtu, 14 November 2020.

Menariknya, Satgas COVID-19 turut menyumbangkan 20 ribu masker yang niat sebetulnya baik untuk mencegah penularan virus corona. Namun, tetap saja menimbulkan risiko. Padahal, kalau masyarakat memiliki kesadaran tentang bahaya virus corona mungkin jauh lebih sedikit orang yang hadir di acara tersebut. Kenyataannya yang terjadi cinta terhadap tokoh panutan lebih tinggi, dibandingkan dengan kewaspadaan terhadap virus yang berawal dari cina tersebut yang terbukti telah merenggut lebih dari 15 ribu orang hingga 15 November 2020.

Edukasi Kesehatan yang Ambyar Tidak Bisa Dicontoh dari Perilaku Tokoh Masyarakat dan Artis yang Menjadi Panutan di Indonesia

Ketika kasus pertama COVID-19 dikonfirmasi pemerintah pusat pada bulan maret, dr Tira menjelaskan betapa sulitnya mengajarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat kepada masyarakat sebelumnya. Lalu, COVID-19 datang dan membuat sebagian masyarakat mulai peduli kebiasaan mencuci tangan. Bahkan, pemerintah terus-menerus memerintahkan pakai masker dan menjaga jarak untuk menghadapi adaptasi kehidupan normal baru dari bulan mei 2020.

Harapannya masyarakat benar-benar terbangun kesadarannya untuk tetap memakai masker, rajin mencuci tangan, dan tetap menjaga jarak. Tetapi apa daya berbagai kejadian seperti cuti bersama/ libur panjang, demonstrasi, kepulangan Habib Rizieq Shihab, tontonan televisi tidak pakai masker, dan lain-lain membuat upaya pelaksanaan protokol kesehatan menjadi ambyar.

Sebagian masyarakat mulai membanding-bandingkan penindakan/ hukuman yang diberikan tebang pilih antara rakyat biasa kepada tokoh atau orang terkenal. Tebang pilih itu berlaku juga terhadap acara televisi yang menunjukkan para artis tidak pakai masker. Malah pakai face shield saja. Wajah dilindungi tetapi mulut dan hidung tetap tidak ditutup masker. Sepertinya sah-sah saja acara televisi menunjukkan tontonan yang tidak sesuai protokol kesehatan yang utama yaitu wajib pakai masker.

Kalau sudah begini mau bagaimana lagi. ketika para tokoh masyarakat/ agama dan artis sah-sah saja tidak menerapkan protokol kesehatan, rakyat biasa juga sah-sah saja dong menjalan kehidupan seolah masa Pandemi COVID-19 telah usai.

Mempertanyakan Kebijakan Pemerintah Terhadap Edukasi kesehatan

Satgas COVID-19 tampaknya semakin limbung melakukan upaya pencegahan penularan virus corona. Tetapi akar-akar kesulitan untuk edukasi protokol kesehatan harus ditilik ke belakang. Sebelum adanya pandemi COVID-19 seperti apa kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat? Sudahkan masyarakat mendapat informasi dan pelayanan kesehatan dasar selama ini?

Jangan-jangan masalahnya lebih mendasar, masyarakat Indonesia belum mendapat edukasi kesehatan yang cukup dan tidak mempunyai pemahaman seperti apa menjaga kesehatan itu dilakukan. Apalagi fasilitas pelayanan kesehatan belum tentu ada dan dekat dekat tempat tinggal masyarakat.

Mereka tidak mendapatkan upaya promotif dan pencegahan tentang risiko yang mengganggu kesehatan. Sehingga menjadi sulit sekali untuk sekedar mengajarkan tetap memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak yang didengung-dengungkan selama delapan bulan ke belakang. Ditambah masyarakat mulai mempertanyakan kenapa kebijakan protokol kesehatan tidak berlaku sama antara rakyat biasa dan orang yang ditokohkan?

Informasi menarik lainnya: Kenapa Enggak Boleh Pakai Kantong Plastik Lagi di Pusat Perbelanjaan Sukabumi?

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close